Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) Dinas Pendidikan Kab. Brebes terdiri; Kelompok Kerja Pengawas Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Kelompok Kerja Pengawas Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Kelompok Kerja Pengawas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Forum Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (FMKS) merupakan beranggotakan minimal 12 orang anggota MKPS. Sedangkan Kelompok Kerja Pengawas Sekolah di tingkat SD disebut KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah). Dengan demikian di tingkat kabupaten Brebes ada 4 forum:
1. Forum Kelompok Kerja Pengawas Sekolah untuk Pengawas SD
2. Forum Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah untuk Pengawas SMP
3. Forum Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah untuk Pengawas SMA
4. Forum Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah untuk Pengawas SMK
Kepengurusan terdiri dari:
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Bidang Perencanaan
Bidang Pengembangan Organisasi, Administrasi, Sarana Prasarana
Bidang Hubungan Masyarakat dan Kerjasama
KODE ETIK PENGAWAS
1. Dalam melaksanakan tugasnya senantiasa berlandaskan iman dan taqwa; dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Merasa bangga akan tugasnya sebagai pengawas
3. Memiliki pengabdian yang dalam untuk menekuni tugasnya sebagai pengawas
4. Bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dalam tugasnya sebagai pengawas
5. Memegang teguh citra dan nama baik selaku pembina dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengawas
6. Memiliki disiplin yang tinggi dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai seorang pengawas
7. Mampu menampilkan keberadaannya sebagai aparat dan tokoh yang patut diteladani
8. Sigap dan terampil untuk menanggapi dan membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi aparat binaannya
9. Memiliki rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi, baik terhadap aparat binaannya maupun terhadap sesama pengawas.
PERDA KAB. BREBES NO. 9 TAHUN 2008 tentang SISTEM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN BREBES
BAB XVI: PENGAWASAN Bagian Kesatu Umum
PASAL 54: (1) Pemerintah Daerah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan luar sekolah.
(2) Pengawas bidang teknis edukatif dilakukan oleh tenaga fungsional pengawas profesional yang terdiri dari Pengawas TK/SD, Pengawas Rumpun Mata Pelajaran, Pengawas Bimbingan Konseling serta dilaporkan secara berkala (triwulan) kepada Kepala Dinas.
PASAL 55: Kedudukan dan Tugas Pengawas Sekolah dan Penilik
(1) Pengawas sekolah adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis untuk melakukan pengawasan pendidikan terhadap sejumlah sekolah yang ditunjuk/ditetapkan.
(3) Pengawas sekolah mempunyai tugas pokok menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya.
TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG PENGAWAS SEKOLAH DAN PENILIK
(1) Tanggung jawab pengawas sekolah adalah:
a. Melaksanakan pengawasan pada penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan penugasannya pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran dan Bimbingan Konseling; dan
b. Meningkatkan proses belajar mengajar/bimbingan dan hasil prestasi belajar/bimbingan siswa dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.
(2) Wewenang pengawas sekolah adalah:
a. Memilih dan menentukan metode kerja untuk mencapai hasil yang optional dalam melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik profesi; dan
b. Menentukan dan mengusulkan program pembinaan serta melakukan pembinaan.
Daftar Blog: Dunia Pendidikan, Guru, Pengawas dan Umum
SELAMAT DATANG DI BLOG INI
Daftar Arsip Blog dapat dilihat pada bagian KANAN tengah halaman ini..>> Trimakasih. (endi.blogspot.com)
Minggu, 04 April 2010
Beban Kerja Guru dan Pengawas
Pengaturan Beban Kerja Guru dan Pengawas
Ditulis 18 January 2010 pukul 17:52 oleh admin
images21PP No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru (63) telah menjadi dasar lahirnya Permendiknas Nomor 39 tanggal 30 Juli 2009 (118) tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas. Disusul kemudian dengan terbitnya Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas (177) pada tahun 2009.
Peraturan itu telah mengubah kebijakan yang semula guru melaksanakan tugas 18 jam dan pengawas melaksanakan tugas ekuivalen dengan 18 jam, menjadi tatap muka per minggu menjadi 24 jam dan pengawas memiliki beban kerja ekuivalen 24 jam tatap muka. Beban kerja guru dan pengawas untuk melaksanakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan standar jam kerja pegawai yang secara keseluruhan paling sedikit 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja (@ 60 menit) dalam 1 (satu) minggu.
Perubahan kebijakan lain dalam pengembangan kurikulum yang telah memperlakukan beberapa mata pelajaran yang tidak lagi terdapat dalam struktur kurikulum KTSP sehingga tingkat kelebihan guru meningkat di beberapa daerah. Kelebihan itu tidak hanya terjadi pada guru namun juga pada pengawas.
Dampak dari kebijakan itu banyak guru yang belum dapat porsi tugas sesuai dengan standar, yakni 24 jam tatap muka per minggu.
Kebijakan baru itu juga telah semakin memperjelas standar beban kerja pengawas yang dapat dilihat pada uraian berikut :
* Pengawas Sekolah Dasar melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 10 sekolah dan paling banyak 15 sekolah,
* Pengawas Sekolah Menengah Pertama melakukan dan paling banyak 15 sekolah,
* Pengawas Sekolah Menengah Atas melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 5 sekolah dan paling banyak 10 sekolah,
* Pengawas Sekolah Menengah Kejuruan melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 5 sekolah dan paling banyak 10 sekolah,
Pengawas mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran memenuhi ketentuan sebagai berikut:
* Pengawas Guru Taman Kanak-kanak (Pendidikan Usia Dini Formal) melakukan pengawasan dan membina paling sedikit sedikit 60 guru dan paling banyak 75 guru kelas di TK,
* Pengawas Guru Sekolah Dasar paling sedikit 60 guru dan paling banyak 75 guru kelas di SD.
* Pengawas Mata Pelajaran pada Sekolah Menengah Pertama melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 40 guru dan paling banyak 60 guru di SMP.
* Pengawas Mata Pelajaran pada Sekolah Menengah Atas melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 40 guru dan paling banyak 60 guru di SMA.
* Pengawas Mata Pelajaran pada Sekolah Menengah Kejuruan melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 40 guru dan paling banyak 60 guru di SMK.
Dengan lahirnya pedoman pelaksanaan tugas ini, kini tugas guru dan pengawas semakin jelas dan semakin spesifik mengukur kinerjanya.
Ditulis 18 January 2010 pukul 17:52 oleh admin
images21PP No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru (63) telah menjadi dasar lahirnya Permendiknas Nomor 39 tanggal 30 Juli 2009 (118) tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas. Disusul kemudian dengan terbitnya Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas (177) pada tahun 2009.
Peraturan itu telah mengubah kebijakan yang semula guru melaksanakan tugas 18 jam dan pengawas melaksanakan tugas ekuivalen dengan 18 jam, menjadi tatap muka per minggu menjadi 24 jam dan pengawas memiliki beban kerja ekuivalen 24 jam tatap muka. Beban kerja guru dan pengawas untuk melaksanakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan standar jam kerja pegawai yang secara keseluruhan paling sedikit 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja (@ 60 menit) dalam 1 (satu) minggu.
Perubahan kebijakan lain dalam pengembangan kurikulum yang telah memperlakukan beberapa mata pelajaran yang tidak lagi terdapat dalam struktur kurikulum KTSP sehingga tingkat kelebihan guru meningkat di beberapa daerah. Kelebihan itu tidak hanya terjadi pada guru namun juga pada pengawas.
Dampak dari kebijakan itu banyak guru yang belum dapat porsi tugas sesuai dengan standar, yakni 24 jam tatap muka per minggu.
Kebijakan baru itu juga telah semakin memperjelas standar beban kerja pengawas yang dapat dilihat pada uraian berikut :
* Pengawas Sekolah Dasar melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 10 sekolah dan paling banyak 15 sekolah,
* Pengawas Sekolah Menengah Pertama melakukan dan paling banyak 15 sekolah,
* Pengawas Sekolah Menengah Atas melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 5 sekolah dan paling banyak 10 sekolah,
* Pengawas Sekolah Menengah Kejuruan melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 5 sekolah dan paling banyak 10 sekolah,
Pengawas mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran memenuhi ketentuan sebagai berikut:
* Pengawas Guru Taman Kanak-kanak (Pendidikan Usia Dini Formal) melakukan pengawasan dan membina paling sedikit sedikit 60 guru dan paling banyak 75 guru kelas di TK,
* Pengawas Guru Sekolah Dasar paling sedikit 60 guru dan paling banyak 75 guru kelas di SD.
* Pengawas Mata Pelajaran pada Sekolah Menengah Pertama melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 40 guru dan paling banyak 60 guru di SMP.
* Pengawas Mata Pelajaran pada Sekolah Menengah Atas melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 40 guru dan paling banyak 60 guru di SMA.
* Pengawas Mata Pelajaran pada Sekolah Menengah Kejuruan melakukan pengawasan dan membina paling sedikit 40 guru dan paling banyak 60 guru di SMK.
Dengan lahirnya pedoman pelaksanaan tugas ini, kini tugas guru dan pengawas semakin jelas dan semakin spesifik mengukur kinerjanya.
Pengawas Sekolah Belum Optimal Minggu, 31 Januari 2010 | 16:48 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya peningkatan mutu sekolah selama ini terganjal antara lain karena minimnya kualitas dan kemampuan kepemimpinan kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam mengembangkan sekolah dan siswa. Untuk itu proses perekrutan dan seleksi kepala sekolah dan pengawas sekolah akan diperketat dengan mensyaratkan perlunya memiliki kemampuan managerial sebagai kemampuan dasar.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Sabtu (30/1/2010), mengakui peran pengawas sekolah belum optimal. Padahal peran pengawas sekolah lebih penting dan lebih kuat daripada pegawai di dinas pendidikan karena pengawas sekolah seharusnya memahami apa yang diperlukan dalam menilai kinerja secara akademik, managerial, dan kewirausahaan kepala sekolah.
"Fungsi pengawas sekolah ini yang belum kokoh. Hubungan pengawas sekolah dengan kepala sekolah juga belum sekohesif yang kita harapkan," kata Fasli seusai meluncurkan Program Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah 2010 di Jakarta.
Jika pengawas sekolah dibekali kemampuan supervisi yang berkualitas, kualitas kepala sekolah pun akan meningkat. Seperti halnya pengawas sekolah, menurut Fasli kepala sekolah juga harus dibekali kemampuan mengelola sekolah secara profesional sehingga akan terlihat perkembangan sekolahnya.
Untuk memaksimalkan kemampuan kepemimpinan kepala sekolah, kata Fasli, kepala sekolah harus diberikan kebebasan sebagai manager pendidikan dan tidak terkooptasi oleh birokrasi dan politik. Jika terganggu oleh birokasi dan politik , kepala sekolah akan lumpuh dan tidak akan bisa optimal dalam mengembangkan kemampuan sekolahnya.
"Harus berani memisahkan mana yang nanti bisa masuk birokrasi dan mana yang otonomi di tingkat sekolah. Cukup diawasi oleh komite sekolah dan profesinya seperti kepala sekolah dan pengawas . Kegagalan kerap terjadi karena kepala sekolah dicampuri macam-macam," kata Fasli.
Kepala sekolah yang tidak mampu mengembangkan kemampuan sekolah dan anak didiknya akan berpengaruh pada pemberian insentif dan bantuan dana atau program dari pemerintah. " Kinerja yang buruk itu akan otomatis terkait dengan pembiayaan atau insentif lain seperti pemberian fasilitas laboratorium komputer, pelatihan di luar negeri, dan lain-lain. Kalau kepala sekolahnya canggih, guru pasti akan termotivasi dan tidak lagi malas," kata Fasli.
Sesuai fungsinya, kepala sekolah harus dapat memaksimalkan visi anak didik dan memanfaatkan berbagai peluang. Pasalnya, belajar bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan saja tetapi mengajak anak didik untuk belajar menjalani kehidupan. Oleh karena itu selain sebagai manager, kepala sekolah juga harus menjadi wirausaha pendidikan yang akan memaksimalkan sumber daya yang ada dan mencari sumber-sumber pembiayaan operasional sekolah di luar uang pembayaran dari siswa.
Regulasi
Untuk meningkatkan kualitas kepala sekolah dan pengawas sekolah, Direktur Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Surya Dharma menyebutkan pada tahun 2010 akan ada penguatan kemampuan 30.000 kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Saat ini terdapat 250.000 kepala sekolah dan 25.000 pengawas sekolah di seluruh Indonesia. Selama tahun 2009 hingga sebelum 100 hari program kerja mendiknas, terdapat lebih dari 19.000 kepala sekolah yang dilatih. "Harapannya, di tahun 2014 tidak ada kepala sekolah yang tidak kita kenal kompetensinya. Mereka harus memberdayakan dirinya terus menerus," kata Surya.
Upaya penguatan ini harus didukung regulasi yang mengatur tentang perekrutan dan seleksi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Untuk itu, kini tengah dilakukan finalisasi revisi Permendiknas No 162 Tahun 2003 tentang penugasan guru seba gai kepala sekolah dan finalisasi rancangan Permendiknas tentang seleksi dan perekrutan pengawas sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Sabtu (30/1/2010), mengakui peran pengawas sekolah belum optimal. Padahal peran pengawas sekolah lebih penting dan lebih kuat daripada pegawai di dinas pendidikan karena pengawas sekolah seharusnya memahami apa yang diperlukan dalam menilai kinerja secara akademik, managerial, dan kewirausahaan kepala sekolah.
"Fungsi pengawas sekolah ini yang belum kokoh. Hubungan pengawas sekolah dengan kepala sekolah juga belum sekohesif yang kita harapkan," kata Fasli seusai meluncurkan Program Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah 2010 di Jakarta.
Jika pengawas sekolah dibekali kemampuan supervisi yang berkualitas, kualitas kepala sekolah pun akan meningkat. Seperti halnya pengawas sekolah, menurut Fasli kepala sekolah juga harus dibekali kemampuan mengelola sekolah secara profesional sehingga akan terlihat perkembangan sekolahnya.
Untuk memaksimalkan kemampuan kepemimpinan kepala sekolah, kata Fasli, kepala sekolah harus diberikan kebebasan sebagai manager pendidikan dan tidak terkooptasi oleh birokrasi dan politik. Jika terganggu oleh birokasi dan politik , kepala sekolah akan lumpuh dan tidak akan bisa optimal dalam mengembangkan kemampuan sekolahnya.
"Harus berani memisahkan mana yang nanti bisa masuk birokrasi dan mana yang otonomi di tingkat sekolah. Cukup diawasi oleh komite sekolah dan profesinya seperti kepala sekolah dan pengawas . Kegagalan kerap terjadi karena kepala sekolah dicampuri macam-macam," kata Fasli.
Kepala sekolah yang tidak mampu mengembangkan kemampuan sekolah dan anak didiknya akan berpengaruh pada pemberian insentif dan bantuan dana atau program dari pemerintah. " Kinerja yang buruk itu akan otomatis terkait dengan pembiayaan atau insentif lain seperti pemberian fasilitas laboratorium komputer, pelatihan di luar negeri, dan lain-lain. Kalau kepala sekolahnya canggih, guru pasti akan termotivasi dan tidak lagi malas," kata Fasli.
Sesuai fungsinya, kepala sekolah harus dapat memaksimalkan visi anak didik dan memanfaatkan berbagai peluang. Pasalnya, belajar bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan saja tetapi mengajak anak didik untuk belajar menjalani kehidupan. Oleh karena itu selain sebagai manager, kepala sekolah juga harus menjadi wirausaha pendidikan yang akan memaksimalkan sumber daya yang ada dan mencari sumber-sumber pembiayaan operasional sekolah di luar uang pembayaran dari siswa.
Regulasi
Untuk meningkatkan kualitas kepala sekolah dan pengawas sekolah, Direktur Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Surya Dharma menyebutkan pada tahun 2010 akan ada penguatan kemampuan 30.000 kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Saat ini terdapat 250.000 kepala sekolah dan 25.000 pengawas sekolah di seluruh Indonesia. Selama tahun 2009 hingga sebelum 100 hari program kerja mendiknas, terdapat lebih dari 19.000 kepala sekolah yang dilatih. "Harapannya, di tahun 2014 tidak ada kepala sekolah yang tidak kita kenal kompetensinya. Mereka harus memberdayakan dirinya terus menerus," kata Surya.
Upaya penguatan ini harus didukung regulasi yang mengatur tentang perekrutan dan seleksi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Untuk itu, kini tengah dilakukan finalisasi revisi Permendiknas No 162 Tahun 2003 tentang penugasan guru seba gai kepala sekolah dan finalisasi rancangan Permendiknas tentang seleksi dan perekrutan pengawas sekolah.
MENYOAL DIKLAT
MENYOAL DIKLAT PRA SELEKSI DAN HASIL SELEKSI GURU BERPRESTASI
Oleh : Kusmoro
A. Diklat Pra Seleksi Guru Berprestasi
Ditahun 2008 ini seleksi guru berprestasi tingkat provinsi untuk wilayah Kalimantan Barat di adakan tanpa diwali pembekalan terhadap masing-masing peserta seleksi tersebut. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya sebelum seleksi setiap peserta pemilihan guru berprestasi tingkat provinsi dibekali terlebih dahulu berupa Diklat Guru Berprestasi dengan materi seputar kompetensi guru, wawasan kependidikan, pengembangan profesi, dan lain sebagainya yang muaranya untuk memperoleh hasil seleksi guru berprestasi yang siap berkompetisi di ajang selanjutnya yaitu di tingkat nasional
Namun demikian hasil dari seleksi guru berprestasi di tahun 2008 ini juga dengan harpan dapat diandalkan. Memang sedikit banyak pengaruh Diklat guru berprestasi mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemantapan kesiapan para guru tersebut ketika mengikuti seleksi tersebut. Sebab mereka hanya berbekal pada pengalaman-pengalaman selama ini sebagai guru di daerahnya. Ada beberapa pernyataan dari beberapa guru peserta seleksi guru berprestasi tahun 2008 mengungkapkan yang intinya adalah agar guru untuk mengikuti seleksi guru berprestasi lebih percaya diri dan apalagi untuk jenjang nasional selanjutnya maka sebaiknya perlu dibekali terlebih dahulu dalam bentuk Diklat Guru Berprestasi seperti di tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian para guru dalam mengkah kompetisi terasa mantap bahkan hasilnya akan jauh lebih baik.
B. Seleksi Guru Berprestasi
Sejalan isu mutu pendidikan Indonesia yang dikaitkan dengan masalah ekonomi pada saat ini belum begitu menggembirakan, maka sepantasnya pemerintah melalui Depdiknas selalu berupaya melakukan pembinaan peningkatan mutu pendidikan tersebut. Walaupun kenyataan hasil pendidikan Indonesia cukup mengejutkan di level dunia seperti ajang Olimpiade mata pelajaran yang mendapatkan mas. Keberhasilan tersebut tidak dapat dipisahkan dengan peran guru selama ini. Dimana guru mempunyai peran yang begitu besar dalam membuat siswanya berprestasi. Salah satu pembinaan untuk mutu pendidikan itu adalah dengan kegiatan guru berprestasi. Guru berprestasi menurut Baedhowi (2008:3), adalah guru yang memiliki kinerja melampaui standar yang ditetapkan oleh satuan pendidikan, yang mencakup : kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; menghasilkan karya kreatif atau inovatif yang diakui baik tingkat daerah, nasional dan/atau internasional, dan secara langsung membimbing peserta didik hingga mencapai pencapaian prestasi di bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurukuler. Oleh karena itu seorang guru untuk mendapat predikat guru berprestasi mestinya kiprah profesinya harus optimal.
Guru menurut Baedhowi (2008:1), adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Untuk melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru tidak hanya memiliki kemampuan teknis edukatif, tetapi juga harus memiliki kepribadian yang dapat diandalkan sehingga sosok panutan bagi siswa, keluarga maupun masyarakat. Disamping itu peran guru dimasyarakat sekarang masih mempunyai posisi yang di perhitungkan dalam setiap iven kegiatan kemasyarakatan.
Era globalisasi menuntut SDM yang bermutu tinggi dan siap berkompetisi, baik pada tataran regional, nasional, maupun internasional. Oleh karena itu peran guru kedepan yang begitu berat maka diperlukan kedewasaan para guru untuk matang dengan profesinya atau profesional. Namun demikian keprofesionalan guru tidak akan bisa terwujud apabila predikat guru tanpa tanda jasa yang begitu lama dilekatkan menjadikan para guru hidupnya masih dalam tataran menengah kebawah. Sebab guru untuk profesional selain kamauan untuk berinovatif, kesabaran, dan iklas dalam pengabdian profesional perlu biaya mahal, terutama dalam hal yang muaranya adalah pengembangan mutu pendidikan.
Pemilihan guru berprestasi menurut Baedhowi (2008:1), dimaksudkan antara lain untuk mendorong motivasi, dedikasi, loyalitas, dan profesional guru, yang diharapkan akan berpengaruh positif pada kinerja dan prestasi kerjanya pada era globalisasi ini. Oleh karena itu mestinya pemilihan guru berprestasi yang diadakan setiap satu tahun sekali dapat menjadi ajang benar-benar peningkatan kompetensi guru yang berujung pada mutu pendidikan tersebut. Jangan sampai ajang ini hanya sebagai seremonial saja untuk memajangkan perwakilan guru daerah kedepan presiden diistana negara sampai ke para wakil rakyat di DPR/MPR. Bahkan ajang ini jangan sampai hanya direspon oleh kalangan pendidikan saja, namun sebaiknya siapa saja yang memerlukan pendidikan baik lembaga/instani pemerintahan maupun suwasta harus memberikan dukungan terutama material.
Keberhasilan kiprah guru dalam mencerdaskan siswanya akan dinikmati oleh semuan komponen anak bangsa. Oleh karena itu prestasi kerja guru dapat terlihat dari kualitas lulusan satuan pendidikan sebagai SDM yang berkualitas, produktif, dan kompetetitif. Jika suatu lembaga pendidikan kinerja guru profesional maka lulusannya untuk melanjutkan aktivitas berikutnya tidak akan ada hambatan yang berarti. Lembaga semacam ini pasti mempunyai nilai jual yang tinggi bagi masyarakat.
Adapun yang menjadi peserta guru berpretasi pada tahun 2008 meliputi guru tingkat satuan pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA. Dengan kriteria pemilihan guru berprestasi tersebut meliputi :1. Guru unggul/mumpuni yang dilihat dari : kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; 2. Guru yang menghasilkan karya kreatif atau inovatif, yang meliputi : inovasi dalam pembelajaran atau bimbingan, penemuan teknologi tepat guna bidang pendidikan, penulisan buku fiksi/non fiksi dibidang pendidikan atau sastra indonesia dan sastra daerah, penciptaan karya seni, dan karya atau prestasi di bidang olahraga; dan 3. Guru yang secara langsung membimbing peserta didik hingga mencapai pencapaian prestasi di bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurukuler. Persyaratan tersebut sangat bagus dan mestinya dapat menjadi proyeksi potret guru Indonesia yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya dan cita-cita UUD’45. Oleh karena itu jangan sampai setiap kabupaten/kota mengirimkan wakil dari masing-masing tingkatan berdasarkan penunjukan bukan berdasarkan seleksi yang memenuhi kriteri seperti tersebut diatas. Jika hal ini terjadi kemungkinan besar untuk kompetisi di level berikutnya yang bersangkutan akan banyak kerikil yang mengganjal
Dampak dari guru yang telah menjadi guru berprestasi diantaranya : termotivasi meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi, dan loyalitas untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara; meningkatnya harkat, martabat, citra, dan profesionalisme guru; menumbuhkan kreatifitas dan inovasi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran; terjalinnya interaksi antar peserta guru berprestasi untuk saling tukar pengalaman dalam mendidik siswa; dan terpupuknya rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui jalur pendidikan. Dampak tersebut secara substansi diharapkan dapat mendongkrak masalah mutu pendidikan kita sekarang masih ada, seperti masalah kebocoran soal UAN dan masalah joki. Lebih jauh lagi jika mutu pendidikan berhasil seperti yang diamanat oleh UUD’45 maka masalah pengikisan KKN yang terjadi di negara kita tercinta ini seperti yang diamanatkan oleh orde reformasi akan terwujud dengan baik. Jangan sampai dampak prestasi ini malahan terbalik seperti kondisi yang terjadi sekarang didaerah, yaitu adanya KKN gaya baru yang sulit dibuktikan.
Oleh : Kusmoro
A. Diklat Pra Seleksi Guru Berprestasi
Ditahun 2008 ini seleksi guru berprestasi tingkat provinsi untuk wilayah Kalimantan Barat di adakan tanpa diwali pembekalan terhadap masing-masing peserta seleksi tersebut. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya sebelum seleksi setiap peserta pemilihan guru berprestasi tingkat provinsi dibekali terlebih dahulu berupa Diklat Guru Berprestasi dengan materi seputar kompetensi guru, wawasan kependidikan, pengembangan profesi, dan lain sebagainya yang muaranya untuk memperoleh hasil seleksi guru berprestasi yang siap berkompetisi di ajang selanjutnya yaitu di tingkat nasional
Namun demikian hasil dari seleksi guru berprestasi di tahun 2008 ini juga dengan harpan dapat diandalkan. Memang sedikit banyak pengaruh Diklat guru berprestasi mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemantapan kesiapan para guru tersebut ketika mengikuti seleksi tersebut. Sebab mereka hanya berbekal pada pengalaman-pengalaman selama ini sebagai guru di daerahnya. Ada beberapa pernyataan dari beberapa guru peserta seleksi guru berprestasi tahun 2008 mengungkapkan yang intinya adalah agar guru untuk mengikuti seleksi guru berprestasi lebih percaya diri dan apalagi untuk jenjang nasional selanjutnya maka sebaiknya perlu dibekali terlebih dahulu dalam bentuk Diklat Guru Berprestasi seperti di tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian para guru dalam mengkah kompetisi terasa mantap bahkan hasilnya akan jauh lebih baik.
B. Seleksi Guru Berprestasi
Sejalan isu mutu pendidikan Indonesia yang dikaitkan dengan masalah ekonomi pada saat ini belum begitu menggembirakan, maka sepantasnya pemerintah melalui Depdiknas selalu berupaya melakukan pembinaan peningkatan mutu pendidikan tersebut. Walaupun kenyataan hasil pendidikan Indonesia cukup mengejutkan di level dunia seperti ajang Olimpiade mata pelajaran yang mendapatkan mas. Keberhasilan tersebut tidak dapat dipisahkan dengan peran guru selama ini. Dimana guru mempunyai peran yang begitu besar dalam membuat siswanya berprestasi. Salah satu pembinaan untuk mutu pendidikan itu adalah dengan kegiatan guru berprestasi. Guru berprestasi menurut Baedhowi (2008:3), adalah guru yang memiliki kinerja melampaui standar yang ditetapkan oleh satuan pendidikan, yang mencakup : kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; menghasilkan karya kreatif atau inovatif yang diakui baik tingkat daerah, nasional dan/atau internasional, dan secara langsung membimbing peserta didik hingga mencapai pencapaian prestasi di bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurukuler. Oleh karena itu seorang guru untuk mendapat predikat guru berprestasi mestinya kiprah profesinya harus optimal.
Guru menurut Baedhowi (2008:1), adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Untuk melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru tidak hanya memiliki kemampuan teknis edukatif, tetapi juga harus memiliki kepribadian yang dapat diandalkan sehingga sosok panutan bagi siswa, keluarga maupun masyarakat. Disamping itu peran guru dimasyarakat sekarang masih mempunyai posisi yang di perhitungkan dalam setiap iven kegiatan kemasyarakatan.
Era globalisasi menuntut SDM yang bermutu tinggi dan siap berkompetisi, baik pada tataran regional, nasional, maupun internasional. Oleh karena itu peran guru kedepan yang begitu berat maka diperlukan kedewasaan para guru untuk matang dengan profesinya atau profesional. Namun demikian keprofesionalan guru tidak akan bisa terwujud apabila predikat guru tanpa tanda jasa yang begitu lama dilekatkan menjadikan para guru hidupnya masih dalam tataran menengah kebawah. Sebab guru untuk profesional selain kamauan untuk berinovatif, kesabaran, dan iklas dalam pengabdian profesional perlu biaya mahal, terutama dalam hal yang muaranya adalah pengembangan mutu pendidikan.
Pemilihan guru berprestasi menurut Baedhowi (2008:1), dimaksudkan antara lain untuk mendorong motivasi, dedikasi, loyalitas, dan profesional guru, yang diharapkan akan berpengaruh positif pada kinerja dan prestasi kerjanya pada era globalisasi ini. Oleh karena itu mestinya pemilihan guru berprestasi yang diadakan setiap satu tahun sekali dapat menjadi ajang benar-benar peningkatan kompetensi guru yang berujung pada mutu pendidikan tersebut. Jangan sampai ajang ini hanya sebagai seremonial saja untuk memajangkan perwakilan guru daerah kedepan presiden diistana negara sampai ke para wakil rakyat di DPR/MPR. Bahkan ajang ini jangan sampai hanya direspon oleh kalangan pendidikan saja, namun sebaiknya siapa saja yang memerlukan pendidikan baik lembaga/instani pemerintahan maupun suwasta harus memberikan dukungan terutama material.
Keberhasilan kiprah guru dalam mencerdaskan siswanya akan dinikmati oleh semuan komponen anak bangsa. Oleh karena itu prestasi kerja guru dapat terlihat dari kualitas lulusan satuan pendidikan sebagai SDM yang berkualitas, produktif, dan kompetetitif. Jika suatu lembaga pendidikan kinerja guru profesional maka lulusannya untuk melanjutkan aktivitas berikutnya tidak akan ada hambatan yang berarti. Lembaga semacam ini pasti mempunyai nilai jual yang tinggi bagi masyarakat.
Adapun yang menjadi peserta guru berpretasi pada tahun 2008 meliputi guru tingkat satuan pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA. Dengan kriteria pemilihan guru berprestasi tersebut meliputi :1. Guru unggul/mumpuni yang dilihat dari : kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; 2. Guru yang menghasilkan karya kreatif atau inovatif, yang meliputi : inovasi dalam pembelajaran atau bimbingan, penemuan teknologi tepat guna bidang pendidikan, penulisan buku fiksi/non fiksi dibidang pendidikan atau sastra indonesia dan sastra daerah, penciptaan karya seni, dan karya atau prestasi di bidang olahraga; dan 3. Guru yang secara langsung membimbing peserta didik hingga mencapai pencapaian prestasi di bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurukuler. Persyaratan tersebut sangat bagus dan mestinya dapat menjadi proyeksi potret guru Indonesia yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya dan cita-cita UUD’45. Oleh karena itu jangan sampai setiap kabupaten/kota mengirimkan wakil dari masing-masing tingkatan berdasarkan penunjukan bukan berdasarkan seleksi yang memenuhi kriteri seperti tersebut diatas. Jika hal ini terjadi kemungkinan besar untuk kompetisi di level berikutnya yang bersangkutan akan banyak kerikil yang mengganjal
Dampak dari guru yang telah menjadi guru berprestasi diantaranya : termotivasi meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi, dan loyalitas untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara; meningkatnya harkat, martabat, citra, dan profesionalisme guru; menumbuhkan kreatifitas dan inovasi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran; terjalinnya interaksi antar peserta guru berprestasi untuk saling tukar pengalaman dalam mendidik siswa; dan terpupuknya rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui jalur pendidikan. Dampak tersebut secara substansi diharapkan dapat mendongkrak masalah mutu pendidikan kita sekarang masih ada, seperti masalah kebocoran soal UAN dan masalah joki. Lebih jauh lagi jika mutu pendidikan berhasil seperti yang diamanat oleh UUD’45 maka masalah pengikisan KKN yang terjadi di negara kita tercinta ini seperti yang diamanatkan oleh orde reformasi akan terwujud dengan baik. Jangan sampai dampak prestasi ini malahan terbalik seperti kondisi yang terjadi sekarang didaerah, yaitu adanya KKN gaya baru yang sulit dibuktikan.
TINJAUAN FILSAFAT
TINJAUAN FILSAFAT “ MODEL PAKEM DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DAN COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SAINS DENGAN LINGKUNGAN BELAJAR SISWA
Oleh : Kusmoro
A. Pendahuluan
Salah satu kompensi guru adalah pengembangan profesi terutama dalam hal penulisan karya ilmiah. Berbicara karya ilmiah guru maka para guru peserta Diklat Pengembangan Profesi Guru mestinya dapat membuat sikap ilmiah kearah penelitian ilmiah sesungguhnya maupun aktifitas menulis ilmiah seperti artikel ilmiah, penelitian ilmiah, maupun tulisan ilmiah polpuler.
Dalam tulisan ini akan terfokus pada masalah contoh bagaimana para guru peserta Diklat Pengembangan Profesi Guru melakukan dalam mengkaji secara filsafati suatu judul penelitian dengan semestinya. Kupasan tinjauan filsafati suatu judul penelitian ini, para guru ini akan diajak menyelam mengupas menganalisis suaru judul penelitian baik dari segi ontologi, epistimologi, maupun aksiologinya. Oleh karena itu dengan tinjaun filsafati ini nantinya para guru tersebut ketika membuat suatu judul penelitian hingga kegiatan penelitian dan laporan penelitian tidak akan mendapatkan permasalahan yang berarti dan hasilnya seprti yang diharpkan dan bermanfaat dalam peningkatan mutu pendidikan
Selanjutnya contoh dalam pendahuluan peninjauan suatu judul penelitian adalah : Bermula dari pertanyaan dan ungkapan oleh Jujun S. Suriasumantri (2003: 19), yaitu “ Bagaimana caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar ? dan ketahuilah apa yang kau tahu serta ketahuilah apa yang kau tidak tahu “, maka dari itu menjadi motivasi untuk mengetahui tentang masalah penelitian yang berjudul “Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa ”.
Di sisi lain dalam melakukan peninjauan tentang suatu masalah dalam filsafat oleh Jujun S. Suriasumantri (2003:20), harus bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Dengan landasan filsafat tersebut maka suatu persoalan dapat diungkapkan dari apa yang diketahui dan apa yang tidak dapat langsung diketahui. Apa yang sudah diketahui pada hakekatnya adalah data awal atau kondisi / fakta awal yang ada pada objek keberadaan masalah tersebut. Sedangkan yang tidak nampak pada hakikatnya adalah sesuatu yang menjadi bahan perenungan uantuk diketahui lebih jauh sehingga menjadi sesuatu yang diketahui dan hal ini sejalan dengan ungkapan Jujun S. Suriasumantri (2003:19), yaitu “ ketahuilah apa yang kau tidak tahu “
Berdasarkan uraian di atas maka dalam pembahasan Tinjauan Filsafat Tentang Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, akan dimulai dari fakta yang ada pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007 sebagai kondisi awal dan dilanjutkan dengan perlakuan yang diharapkan mampu mengungkap apa yang ingin diketahui.
B. Pembahasan
Dimulai dari pengertian filsafat menurut kalangan filosof dalam Asmal Bakhtiar (2004 : 5), adalah upaya spekulatif untuk menyajikan sesuatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realita. Dan pengertian filsafat yang laian menurut Jujun S. Suriasumantri (2003:19), yang intinya adalah penjelajahan pikiran dalam usaha merenungi dan lebih mengetahui terhadap sesuatu yang belum maupun yang sudah diketahui. Maka dapat dipertegas bahwa dalam memandang sesuatu secara filsafat selalu bersifat mendasar, menyeluruh, dan spekulatif tentang sesuatu yang dipandang atau di tinjau. Lebih lanjut pengertian filsafat ilmu menurut Herman J. Waluyo (2003:1), adalah pengkajian ilmu secara filosofis, yaitu secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif dengan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya.
Dalam pembahasan ini yang akan ditinjau adalah Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007 dilihat dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya
1. Aspek Ontologi
Menurut Jujun S. Suriasumantri (2003 : 60), pengertian dari ontologi adalah hakikat apa yang dikaji . Sedangkan pengertian ontologi menurut Herman J. Waluyo (2003: 14), adalah bagian dari filsafat ilmu yang menelaah hakekat dan pengertian dari ilmu. Dalam ontologi dibahas juga saling keterkaitan antara ilmu dan pengetahuan (yang lebih luas), antara ilmu yang satu dan yang lain, dan batas-batas atau keterbatasan dari setiap ilmu. Dengan demikian dapat dipertegas yang dimaksud ontologi adalah bagian dari filsafat ilmu yang mengkaji tentang hakikat dan saling keterkaitan apa yang dikaji.
Dalam Tinjauan Filsafat Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, berarti mengkaji hakikat dari fakta sekolah, hakikat dari model pembelajaran PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme dan cooperative learning, hakikat dari kompetensi sains, dan lingkungan belajarnya dan keterkaitannya
a. Hakikat Fakta SMPN 20 Kota Pontianak
Mutu sekolah masih rendah, yang terlihat dari nilai UAN SMPN 20 Kota Pontianak juga menunjukkan hal yang belum begitu menggembirakan dari tahun ke tahun. Dimana data nilai rata-rata UAN mata pelajaran sains SMP N 20 Kota Pontianak lima tahun terkhir (2001/2002 sd. 2005/2006) adalah 4,50; 4,46; 4,50; 5,38; dan 5,03
Guru sains (IPA) mengalami problema yang serius sejalan di berlakukanya dua kurikulum disekolah yaitu untuk kelas VII menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kelas VIII - IX tetap menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dan kebanyakan guru sains di SMPN 20 Kota Pontianak mengajar dari kelas VII hingga kelas IX, maka hal ini cukup merepotkan guru dalam membuat administrasi ataupun persiapan mengajar, apalagi bagi guru yang mengajar di dua atau tiga jenjang kelas yang menggunakan dua jenis kurikulum yang berbeda
Para guru sains di SMP N. 20 Kota Pontianak menurut Kepala Sekolah (Purwanto) dan seorang guru sains (Yudi Herdiana), dalam hal pengembangan kurikulum dan penerapannya, pengembangan model, pendekatan, strategi, metode mengajar yang inovatif, kreatif, suasana kelas belajar demokratis, penanaman keberanian siswa beraktifitas dan kreatif dalam belajar, pemajangan hasil kerja/karya, pemberian penghargaan pada pada siswa, suasana belajar yang tidak tegang, dan penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan dan penerapan dalam pembelajaran masih perlu diperdayakan. Menurut beberapa siswa kelas VIII kegiatan belajar dikelas cenderung membosankan dan suasana kurang enak apalagi mata pelajaran sains jarang praktikum dan yang sering penjelasan dari guru lalu disuruh mengerjakan LKS dari penerbit. Kondisi kelas baik tapi kurang membuat suasana siswa dikelas merasa nyaman. Hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa cukup baik tapi kegiatan belajar kebanyakan terkadang agak menegangkan apalagi jika mengerjakan soal latihan tidak betul saat maju didepan kelas terasa menakutkan. (Rekaman observasi LPMP Kalbar pada sekolah binaan, 8 Mei 2006).
Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Depdiknas (2003, 5-6) adalah suatu realita sehari-hari, didalam suatu ruang kelas ketika sesi pembelajaran berlangsung , nampak beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Selama pembelajaran guru belum memperdayakan seluruh potensi dirinya sehingga sebagian besar siswa belum mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkan secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang konstektual.
b. Hakikat Dari Model Pembelajaran PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning
1). Hakikat Model PAKEM
Model PAKEM menurut Indra Djati Sidi(2004:3), adalah model pembelajaran yang beranggapan belajar merupakan proses aktif membangun makna / pemahaman dari informasi dan pengalaman oleh si pembelajar. Setiap anak di lahirkan memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi. Pembelajaran memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi, serta memiliki tujuan yang harus dicapai oleh setiap siswa dan sebagai keberlanjutan pembelajaran. Dalam pelaksanaan model PAKEM dicirikan : menggunakan berbagai metode, media, alat bantu, berisi berbagai kegiatan, sumber belajar, memperhatikan individu siswa, membuat anak tidak takut dan tidak menganggap siswa sebagai botol kosong (Indra Djati Sidi, 2004 : 5).
Sasaran dalam PAKEM adalah guru, siswa dan orang tua siswa / lingkungan. Dimana guru dalam mengajar dapat menciptakan kondisi ruangan, saat pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran yang menjadikan siswa aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Siswa dapat terkondisikan oleh ciptaan / perencanaan guru bahkan sekolah yang efektif yang menjadikan siswa merasa aman, betah, senang, terlindungi, terlayani, tidak tertekan, merasa di manusiakan, yang intinya siswa dapat melakukan kegiatan di sekolah baik jam efektif maupun jam ekstrakurikuler dalam keadaan PAKEM. Di samping itu peran orang tua siswa dan lingkungan belajar mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembelajaran maka dalam hal ini orang tua siswa dan lingkungan terlibat menciptakan kondisi belajar siswa yang PAKEM tersebut.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model PAKEM dapat menggunakan suatu pendekatan ataupun berbagai metode pembelajaran seperti yang sudah disinggung diatas. Masing-masing pendekatan pembelajaran mempunyai karakteristik yang berbeda, namun prinsipnya menjadikan siswa kompeten terhadap materi pokok yang dipelajari. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konstruktivisme dan cooperative learning. Dimana peran dari Model PAKEM dalam pembelajaran ini adalah menciptakan/membuat suasana pembelajaran di kelas yang menjadikan siswa aktif, kreatif, efektif dalam belajar, dan senang dalam belajar, baik dari segi perencanaan , pelaksanaan, maupun evaluasinya
2). Hakikat Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Von Glasersfeld dalam Paul Suparno (2005:18-19), konstruktivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa pengetahuan siswa adalah konstruksi (bentukan) siswa sendiri. Dalam hal ini di bentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu siswa berinteraksi dengan lingkungannya
Dalam implementasi pandangan konstruktivisme tersebut dalam penelitihan ini menggunakan model pembelajaran PAKEM dan pendekatan yang ke dua adalah pendekatan konstruktivisme. Pendekatan konstruktivisme menurut Bell, Driver & Leach dalam Hilda Karli & Margaretha SY (2003 : 2-3), adalah suatu pendekatan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (problem pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik-konflik kognitif ini hanya dapat di atasi melalui pengetahuan diri (self regulation). Dan pada akhir proses belajar, pengetahuan akan di bangun sendiri oleh siswa melalui pengalamannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
Dan peran guru menurut Paul Suparno (2005 : 65-66), sebagai mediator dan fasilitasi yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik.
3). Hakikat Cooperative Learning
Berdasarkan pandangan konstruktivisme tersebut diatas maka implementasi dalam penelitihan ini menggunakan model PAKEM dan pendekatan yang ke dua adalah pendekatan cooperative learning. Menurut Slavin dalam Mey Suyanto(2006:5), pendekatan (metode) pembelajaran yang melibatkan secara aktif siswa dan menarik minat dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan cara membagi siswa dalam satu kelas menjadi kelompok-kelompok belajar yang jumlah anggotanya sedikit. Siswa akan lebih memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan masalah-masalah itu dengan temannya. Oleh John Valzey (1987:134) mengatakan bagaimanapun sistem pengajaran kelompok (team) adalah menarik, karena sudah tentu, cara ini menyebabkan pelaksanaan prinsip fundamental pembagian kerja yang memungkinkan kerja antara siswa-siswa yang banyak berlainan. Dalam kerja kelompok menurut Dalton Plan dalam John Valzey (1987:134), siswa pada prinsipnya wajib bekerja sesuai dengan kecepatannya sendiri.
Pendekatan cooperative learning menurut Johnson & Johnson (1987) dalam Ismail (2003:18)merupakan pendekatan yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dan tujuan pemebelajaran cooperative adalah untuk membangkitkan interaksi yang efektif di antara anggota kelompok melalui diskusi. pembelajaran sebagian besar berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dan oleh Johnson(1991) dalam Santoso.B (Pelangi Vol 1 N0.1 tahun 1998/1999: 6-7), esensi cooperative learning adalah tanggung jawab individu sekaligus kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif (positive interdependence) yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal. Keadaan ini ini mendorong siswa dalam kelompoknya belajar, bekerja, dan bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai dengan selesainya tugas-tugas individu dan kelompok. Oleh karena itu, siswa dalam kerja kelompok tidak menjadi “penumpang gelap”, “pasrah” kepada teman asal namanya tercantum sebagai anggota kelompok
c. Hakikat Kompetensi Sains
Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Sains di sekolah menengah pertama diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Oleh karena itu, pendekatan yang di terapkan dalam menyajikan pembelajaran Sains oleh Indra Djati Sidi (2003:6) adalah memadukan antara pengalaman proses sains dan pemahaman produk sains dalam bentuk pengalaman langsung. Hal ini juga sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa SMP yang masih berada pada fase transisi dari konkrit ke formal, akan sangat memudahkan siswa jika pembelajaran Sains mengajak anak untuk belajar merumuskan konsep secara induktif berdasar fakta-fakta empiris di lapangan.
Fungsi mata pelajaran Sains di SMP adalah: (1). Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa, (2). Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah, (3). Mempersiapkan siswa menjadi warganegara yang melek sains dan teknologi, (4). Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tujuan pembelajaran Sains di SMP adalah sebagai berikut: (1). Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya. (2). Memberikan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, prinsip dan konsep sains serta keterkaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat. (3). Memberikan pengalaman kepada siswa dalam merencanakan dan melakukan kerja ilmiah untuk membentuk sikap ilmiah. (4). Meningkatkan kesadaran untuk memelihara dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam. (5). Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Di dalam masalah materi pokok zat dan energi (fisika) dalam pembelajarannya masih dominan aktivitas pada guru, sehingga timbul kesan fisika diajarkan dalam definisi-definisi atau pengertian-pengertian saja, bukan seperti yang di ungkapkan Jujun (2005 : 15) apa itu sains (fisika)?, bagaimana caranya mengkaji untuk mendapatkan fisika ? Dan apa manfaat atau kegunaan fisika itu dalam kehidupan sehari-hari ? Dengan demikian tidak timbul slogan sains sastra atau sejarah, dan sains gersang atau sains matematika. Hal tersebut yang menjadikan pembelajaran sains tidak menimbulkan kesan bermakna bahkan tidak menarik bagi siswa sehingga menjadikan kelas belajar tidak kondusif seperti diungkapkan oleh Megawati.R, Latifa.M, dan Dina. WF (2005:59-60) tentang ciri-ciri kelas yang kondusif.
d. Hakikat Lingkungan Belajar
Pengelolaan pembelajaran (kegiatan belajar mengajar) di kelas perlu di ciptakan, sehingga suasana pembelajaran akan tercipta dan terkondisi yang kondusif dan oleh Depdiknas(2003:19), di sarankan meliputi : pengelolaan tempat belajar/ruang kelas, pengelolaan siswa, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan materi pelajaran, dan pengelolaan strategi dan evaluasi pembelajaran.
Selanjutnya Indra Djati Sidi (2005:44), menguraikan bahwa guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar dikelas yaitu dengan pengaturan tempat duduk, mengatur alat peraga, pajangan karya siswa, sudut baca, jam kehadiran, tugas awal masuk kelas, tata tertib kelas yang dibuat bersama dengan kelas, dan lain sebagainya. Dengan pengelolaan pembelajaran yang kondusif maka dalam proses pembelajaran siswa akan termotivasi dalam belajar. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk dapat membangkitkan motivasi belajar pada diri siswa.
Dalam lingkungan belajar yang di ciptakan sedemikian rupa sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif , efektif dalam pembelajaran, dan senang dalam belajar akan dilihat kontribusinya dalam kompetensi sains siswa. Dalam penelitian ini kontribusi lingkungan belajar tersebut akan dilihat dari persepsi siswa tentang lingkungan belajar tersebut, yang di kategorikan persepsi siswa yang menyatakan mendukung dan kurang mendeukung kompetensi sains siswa terhadap prestasi siswa
e. Keterkaitan antara a, b, c, dan d
Pada model PAKEM menurut Indra Djati Sidi(2004:3), yang intinya adalah model yang diterapkan dengan mengkondisikan atau suasana pembelajaran yang didukung oleh lingkungan belajar dimana guru dan setiap siswa memiliki tujuan yang harus dicapai oleh setiap siswa dan sebagai keberlanjutan pembelajaran. Pada pendekatan konstruktivisme Bell, Driver & Leach dalam Hilda Karli & Margaretha SY (2003 : 2-3),yang intinya adalah suatu pendekatan tentang proses pembelajaran diawali dengan terjadinya konflik-konflik kognitif dan hanya dapat di atasi melalui pengetahuan diri (self regulation) siswa melalui pengalamannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya sehingga siswa kompeten. Sedangkan pendekatan cooperative learning oleh Johnson & Johnson (1987) dalam Ismail (2003:18), yang intinya merupakan pendekatan yang mengutamakan adanya kerjasama, dengan tujuan pembelajaran membangkitkan interaksi yang efektif di antara anggota kelompok melalui diskusi. pembelajaran sebagian besar berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas), yang pada akhirnya siswa mampu.
Selanjutnya Indra Djati Sidi (2005:44), yang intinya menegaskan bahwa guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas adalah untuk menjadikan siswa belajar dengan suasana aktif, kreatif, belajar yang efektif, dan belajar dengan senang tanpa tekanan yang mendukung model, pendekatan , dan metode yang digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dimana peran guru dalam hal ini menurut Paul Suparno (2005: 65-66), sebagai mediator dan fasilitasi yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik
Keterkaitan antar variabel yang telah diuraikan diatas ditunjukan dalam bentuk rumusan sebagai berikut :
1. Pengaruh pembelajaran yang menggunakan model PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme terhadap kompetensi belajar sains siswa
2. Pengaruh pembelajaran yang menggunakan model PAKEM dengan cooperative learning terhadap kompetensi belajar sains siswa
3. Keterkaitan antara lingkungan belajar terhadap kompetensi belajar sains siswa
4. Interaksi antara penggunaan model PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme dan coopretive learning dengan lingkungan belajar terhadap kompetensi belajar sains siswa
2. Aspek Epistemologi
Menurut Jujun S. Suriasumantri (2003 : 100), pengertian epistemologi adalah cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Terkait dengan penelitian yang sedang dibahas yaitu termasuk penelitian kuantitatif maka menurut Herman J. Waluyo (2003: 29), untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dengan digunakan metode keilmuan, sarana berpikir keilmuan dan statistik sebagai sarana ilmu-ilmu kuantitatif. Metode keilmuan adalah suatu proses mendapatkan ilmu yang pada prinsipnya menggunakan langkah-langkah deduktif dan induktif.
Dalam mendapatkan ilmu di penelitian ini digunakan proses berfikir deduktif, yaitu dalam menurunkan hipotesis penelitian yang didasrkan pada teori-teori tentang variabel-variabel yang dibahas. Sedangkan proses berfikir induktif digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini, yaitu menggunakan data impiris dari sampel penelitian dengan uji statistik ANAVA dua jalan untuk menggeneralisasi keberlakuan hipotesis dalam populasi. Jika dalam populasi ternyata hipotesis yang diturunkan secara deduktif diterima/ditolak secara signifikan ini berarati diperoleh sebuah teori tentang hubungan antara veriabel-variabel penelitihan ini.
3. Aspek Aksiologi
Pengertian aksiologi ilmu menurut Herman J. Waluyo (2003: 68), adalah bagian filsafat ilmu yang membicaqrakan tentang nilai keguanaan dari ilmu yang sebenarnya, secara umum memiliki kesamaan dengan nilai keguanaan dari cabang manusia yang lain, yaitu untuk kemaslahatan atau kebaikan manusia dan kemanusiaan, untuk meningkatakan martabat manusia, untuk memajukan peradaban manusia tanpa mengabaikan nilai-nilai keluhurannya. Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri (2003 : 227), aksiologi adalah nilai kegunaan ilmu. Dengan demikaian yang dimaksud aksiologi dari penelitian Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/200, adalah nilai kegunaan/manfaat dari penelitian tersebut
Adapun kegunaan/manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu :
Manfaat Teoritis :
a. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang menggunakan model PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme dan coopretive learning terhadap kompetensi belajar sains siswa
b. Untuk mengetahui pengaruh antara lingkungan belajar yang memotivasi belajar tinggi dan rendah terhadap kompetensi belajar sains siswa.
c. Untuk melihat dan menganalisis interaksi antara penggunaan model PAKEM dengan pendekatan kontruktivisme dan cooperative learning dengan lingkungan belajar terhadap kompetensi belajar sains siswa.
Manfaat praktis :
d. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap upaya peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran (mutu pendidikan)
e. Memberikan gambaran implementasi model PAKEM dengan pendekatan tertentu dalam pembelajaran
f. Memotivasi para guru sains khususnya dan guru-guru yang lain pada umumnya untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran terutama dalam pengembangan dan implementasi model pembelajaran sesuai dengan karakteristik KD / materi pokok / materi ajar yang hendak diajarkan dan juga karakteristik siswanya.
g. Memberikan masukan bagi para guru sains pada khususnya dan para guru yang lain pada umumnya dalam memilih metode, strategi, pendekatan, dan model pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada.
h. Memberikan wacana / pemikiran bagi para guru sains pada khususnya dan dan pada umumnya para guru yang lain untuk menciptakan suasana pembelajaran di kelas siswa dapat merasa tidak tertekan, kondisi demokratis, senang, dan dapat aktif, kreatif, serta pembelajaran berjalan dengan efektif sesuai dengan tuntutan kurikulum yang diberlakukan yaitu KBK ataupun KTSP.
i. Sebagai bahan pertimbangan bagi para guru sains tentang penelitihan model, pendekatan, dan lingkungan belajar yang digunakan dalam pembelajaran sains di SMP
C. Penutup
Kesimpulan dari Tinjauan Filsafat Tentang Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, akan dimulai dari fakta yang ada pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Secara ontologi , fakta menunjukan bahwa kondisi dari variabel-variabel bebas itu lemah
2. Secara epistemologi, dalam mendapatkan ilmu di penelitian ini digunakan proses berfikir deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif untuk menurunkan hipotesis penelitian. Sedangkan proses berfikir induktif untuk menarik kesimpulan penelitian berdasarkan data impiris.
3. Secara aksiologi, tinjauan kebermanfaatan penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis untuk melihat pengaruh dan interaksi antar varibel dalam penelitian ini. Sedangkan secara praktis untuk memberi sumbangan pemikiran pada praktisi pendidik , para peneliti pendidikan, dan para pengambil kebijakan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmal Bakhtiar (2004), Filsafat Ilmu. Jakarta : Devisi Buku Perguruan Tinggi PT. Raja Grafindo Persada.
Hilda Karli dan Margaretha S.Y (2002), Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Bina Media Informasi
Herman J. Waluyo (2003), Pengantar Filsafat Ilmu. Salatiga : Widya sari Press
Indra Djati Sidi (2003), Ketentuan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Dikdasmen
________ (2003), Pelayanan Profesional Kurikulum 2004, Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif. Jakarta : PLP
________ (2004), Pedoman Pembuatan Laporan Hasil Belajar. Jakarta : Dikdasmen- PLP
________ (2005), Paket Pelatihan Awal Untuk Sekolah Dan Masyarakat (Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Dikdasmen
Ismail (2003), Model-model Pembelajaran. Jakarta : PLP
John Valzey (1987), Pendidikan di Dunia Modern. Jakarta : Gunung Agung
M. Sobary Sutikno (2003), Model Pembelajaran Interaksi Sosial Pembelajaran Efektif dan Retorika. Mataram : Nusa Tenggara Pratama Press
Melvin L. Silberman (1996), Active Leaning 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston : Allyn and Bacon
____________ (1996), Active Leaning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif, Terjemahan Raisul Muttaqien (2006). Bandung : Nusa Media
Mulyasa (2006), Kurikulum Yang Disempurnakan. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Bandung : Remaja Rosdakarya
Megawati.R, Latifa.M, dan Dina.WF (2005), Pendidikan Holistik. Jakarta: Indonesia Heritage Faundation
Paul Suparno (2006), Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
___________ (2005) , Guru Demokratis Di Era Reformasi. Jakarta : Grasindo
Paul Suparno, dkk (2006), Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Santoso.B ( Pelangi Vol 1 N0.1 tahun 1998/1999), Efektifitaf Penggunaan Model Pembelajaran Cooperative Learning Jagsaw Pada Pembelajaran Sains. Jakarta : Pelangi
Thomas M. Duffy, et.al (editor).1991, Designing Environments For Constructive Learning. New York: Springer-Verlag
Ujang Sukandi ( 2003), HO.Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Belajar Aktif. Jakarta : Puskur
Diposkan oleh KUSMORO di 00:18
Label: Karya Penelitian Ilmiah
Oleh : Kusmoro
A. Pendahuluan
Salah satu kompensi guru adalah pengembangan profesi terutama dalam hal penulisan karya ilmiah. Berbicara karya ilmiah guru maka para guru peserta Diklat Pengembangan Profesi Guru mestinya dapat membuat sikap ilmiah kearah penelitian ilmiah sesungguhnya maupun aktifitas menulis ilmiah seperti artikel ilmiah, penelitian ilmiah, maupun tulisan ilmiah polpuler.
Dalam tulisan ini akan terfokus pada masalah contoh bagaimana para guru peserta Diklat Pengembangan Profesi Guru melakukan dalam mengkaji secara filsafati suatu judul penelitian dengan semestinya. Kupasan tinjauan filsafati suatu judul penelitian ini, para guru ini akan diajak menyelam mengupas menganalisis suaru judul penelitian baik dari segi ontologi, epistimologi, maupun aksiologinya. Oleh karena itu dengan tinjaun filsafati ini nantinya para guru tersebut ketika membuat suatu judul penelitian hingga kegiatan penelitian dan laporan penelitian tidak akan mendapatkan permasalahan yang berarti dan hasilnya seprti yang diharpkan dan bermanfaat dalam peningkatan mutu pendidikan
Selanjutnya contoh dalam pendahuluan peninjauan suatu judul penelitian adalah : Bermula dari pertanyaan dan ungkapan oleh Jujun S. Suriasumantri (2003: 19), yaitu “ Bagaimana caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar ? dan ketahuilah apa yang kau tahu serta ketahuilah apa yang kau tidak tahu “, maka dari itu menjadi motivasi untuk mengetahui tentang masalah penelitian yang berjudul “Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa ”.
Di sisi lain dalam melakukan peninjauan tentang suatu masalah dalam filsafat oleh Jujun S. Suriasumantri (2003:20), harus bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Dengan landasan filsafat tersebut maka suatu persoalan dapat diungkapkan dari apa yang diketahui dan apa yang tidak dapat langsung diketahui. Apa yang sudah diketahui pada hakekatnya adalah data awal atau kondisi / fakta awal yang ada pada objek keberadaan masalah tersebut. Sedangkan yang tidak nampak pada hakikatnya adalah sesuatu yang menjadi bahan perenungan uantuk diketahui lebih jauh sehingga menjadi sesuatu yang diketahui dan hal ini sejalan dengan ungkapan Jujun S. Suriasumantri (2003:19), yaitu “ ketahuilah apa yang kau tidak tahu “
Berdasarkan uraian di atas maka dalam pembahasan Tinjauan Filsafat Tentang Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, akan dimulai dari fakta yang ada pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007 sebagai kondisi awal dan dilanjutkan dengan perlakuan yang diharapkan mampu mengungkap apa yang ingin diketahui.
B. Pembahasan
Dimulai dari pengertian filsafat menurut kalangan filosof dalam Asmal Bakhtiar (2004 : 5), adalah upaya spekulatif untuk menyajikan sesuatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realita. Dan pengertian filsafat yang laian menurut Jujun S. Suriasumantri (2003:19), yang intinya adalah penjelajahan pikiran dalam usaha merenungi dan lebih mengetahui terhadap sesuatu yang belum maupun yang sudah diketahui. Maka dapat dipertegas bahwa dalam memandang sesuatu secara filsafat selalu bersifat mendasar, menyeluruh, dan spekulatif tentang sesuatu yang dipandang atau di tinjau. Lebih lanjut pengertian filsafat ilmu menurut Herman J. Waluyo (2003:1), adalah pengkajian ilmu secara filosofis, yaitu secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif dengan aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya.
Dalam pembahasan ini yang akan ditinjau adalah Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007 dilihat dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya
1. Aspek Ontologi
Menurut Jujun S. Suriasumantri (2003 : 60), pengertian dari ontologi adalah hakikat apa yang dikaji . Sedangkan pengertian ontologi menurut Herman J. Waluyo (2003: 14), adalah bagian dari filsafat ilmu yang menelaah hakekat dan pengertian dari ilmu. Dalam ontologi dibahas juga saling keterkaitan antara ilmu dan pengetahuan (yang lebih luas), antara ilmu yang satu dan yang lain, dan batas-batas atau keterbatasan dari setiap ilmu. Dengan demikian dapat dipertegas yang dimaksud ontologi adalah bagian dari filsafat ilmu yang mengkaji tentang hakikat dan saling keterkaitan apa yang dikaji.
Dalam Tinjauan Filsafat Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, berarti mengkaji hakikat dari fakta sekolah, hakikat dari model pembelajaran PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme dan cooperative learning, hakikat dari kompetensi sains, dan lingkungan belajarnya dan keterkaitannya
a. Hakikat Fakta SMPN 20 Kota Pontianak
Mutu sekolah masih rendah, yang terlihat dari nilai UAN SMPN 20 Kota Pontianak juga menunjukkan hal yang belum begitu menggembirakan dari tahun ke tahun. Dimana data nilai rata-rata UAN mata pelajaran sains SMP N 20 Kota Pontianak lima tahun terkhir (2001/2002 sd. 2005/2006) adalah 4,50; 4,46; 4,50; 5,38; dan 5,03
Guru sains (IPA) mengalami problema yang serius sejalan di berlakukanya dua kurikulum disekolah yaitu untuk kelas VII menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kelas VIII - IX tetap menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dan kebanyakan guru sains di SMPN 20 Kota Pontianak mengajar dari kelas VII hingga kelas IX, maka hal ini cukup merepotkan guru dalam membuat administrasi ataupun persiapan mengajar, apalagi bagi guru yang mengajar di dua atau tiga jenjang kelas yang menggunakan dua jenis kurikulum yang berbeda
Para guru sains di SMP N. 20 Kota Pontianak menurut Kepala Sekolah (Purwanto) dan seorang guru sains (Yudi Herdiana), dalam hal pengembangan kurikulum dan penerapannya, pengembangan model, pendekatan, strategi, metode mengajar yang inovatif, kreatif, suasana kelas belajar demokratis, penanaman keberanian siswa beraktifitas dan kreatif dalam belajar, pemajangan hasil kerja/karya, pemberian penghargaan pada pada siswa, suasana belajar yang tidak tegang, dan penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan dan penerapan dalam pembelajaran masih perlu diperdayakan. Menurut beberapa siswa kelas VIII kegiatan belajar dikelas cenderung membosankan dan suasana kurang enak apalagi mata pelajaran sains jarang praktikum dan yang sering penjelasan dari guru lalu disuruh mengerjakan LKS dari penerbit. Kondisi kelas baik tapi kurang membuat suasana siswa dikelas merasa nyaman. Hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa cukup baik tapi kegiatan belajar kebanyakan terkadang agak menegangkan apalagi jika mengerjakan soal latihan tidak betul saat maju didepan kelas terasa menakutkan. (Rekaman observasi LPMP Kalbar pada sekolah binaan, 8 Mei 2006).
Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Depdiknas (2003, 5-6) adalah suatu realita sehari-hari, didalam suatu ruang kelas ketika sesi pembelajaran berlangsung , nampak beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Selama pembelajaran guru belum memperdayakan seluruh potensi dirinya sehingga sebagian besar siswa belum mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkan secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang konstektual.
b. Hakikat Dari Model Pembelajaran PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning
1). Hakikat Model PAKEM
Model PAKEM menurut Indra Djati Sidi(2004:3), adalah model pembelajaran yang beranggapan belajar merupakan proses aktif membangun makna / pemahaman dari informasi dan pengalaman oleh si pembelajar. Setiap anak di lahirkan memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi. Pembelajaran memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi, serta memiliki tujuan yang harus dicapai oleh setiap siswa dan sebagai keberlanjutan pembelajaran. Dalam pelaksanaan model PAKEM dicirikan : menggunakan berbagai metode, media, alat bantu, berisi berbagai kegiatan, sumber belajar, memperhatikan individu siswa, membuat anak tidak takut dan tidak menganggap siswa sebagai botol kosong (Indra Djati Sidi, 2004 : 5).
Sasaran dalam PAKEM adalah guru, siswa dan orang tua siswa / lingkungan. Dimana guru dalam mengajar dapat menciptakan kondisi ruangan, saat pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran yang menjadikan siswa aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Siswa dapat terkondisikan oleh ciptaan / perencanaan guru bahkan sekolah yang efektif yang menjadikan siswa merasa aman, betah, senang, terlindungi, terlayani, tidak tertekan, merasa di manusiakan, yang intinya siswa dapat melakukan kegiatan di sekolah baik jam efektif maupun jam ekstrakurikuler dalam keadaan PAKEM. Di samping itu peran orang tua siswa dan lingkungan belajar mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses pembelajaran maka dalam hal ini orang tua siswa dan lingkungan terlibat menciptakan kondisi belajar siswa yang PAKEM tersebut.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model PAKEM dapat menggunakan suatu pendekatan ataupun berbagai metode pembelajaran seperti yang sudah disinggung diatas. Masing-masing pendekatan pembelajaran mempunyai karakteristik yang berbeda, namun prinsipnya menjadikan siswa kompeten terhadap materi pokok yang dipelajari. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konstruktivisme dan cooperative learning. Dimana peran dari Model PAKEM dalam pembelajaran ini adalah menciptakan/membuat suasana pembelajaran di kelas yang menjadikan siswa aktif, kreatif, efektif dalam belajar, dan senang dalam belajar, baik dari segi perencanaan , pelaksanaan, maupun evaluasinya
2). Hakikat Pendekatan Konstruktivisme
Menurut Von Glasersfeld dalam Paul Suparno (2005:18-19), konstruktivisme adalah suatu pandangan yang menekankan bahwa pengetahuan siswa adalah konstruksi (bentukan) siswa sendiri. Dalam hal ini di bentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu siswa berinteraksi dengan lingkungannya
Dalam implementasi pandangan konstruktivisme tersebut dalam penelitihan ini menggunakan model pembelajaran PAKEM dan pendekatan yang ke dua adalah pendekatan konstruktivisme. Pendekatan konstruktivisme menurut Bell, Driver & Leach dalam Hilda Karli & Margaretha SY (2003 : 2-3), adalah suatu pendekatan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (problem pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik-konflik kognitif ini hanya dapat di atasi melalui pengetahuan diri (self regulation). Dan pada akhir proses belajar, pengetahuan akan di bangun sendiri oleh siswa melalui pengalamannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
Dan peran guru menurut Paul Suparno (2005 : 65-66), sebagai mediator dan fasilitasi yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik.
3). Hakikat Cooperative Learning
Berdasarkan pandangan konstruktivisme tersebut diatas maka implementasi dalam penelitihan ini menggunakan model PAKEM dan pendekatan yang ke dua adalah pendekatan cooperative learning. Menurut Slavin dalam Mey Suyanto(2006:5), pendekatan (metode) pembelajaran yang melibatkan secara aktif siswa dan menarik minat dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan cara membagi siswa dalam satu kelas menjadi kelompok-kelompok belajar yang jumlah anggotanya sedikit. Siswa akan lebih memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan masalah-masalah itu dengan temannya. Oleh John Valzey (1987:134) mengatakan bagaimanapun sistem pengajaran kelompok (team) adalah menarik, karena sudah tentu, cara ini menyebabkan pelaksanaan prinsip fundamental pembagian kerja yang memungkinkan kerja antara siswa-siswa yang banyak berlainan. Dalam kerja kelompok menurut Dalton Plan dalam John Valzey (1987:134), siswa pada prinsipnya wajib bekerja sesuai dengan kecepatannya sendiri.
Pendekatan cooperative learning menurut Johnson & Johnson (1987) dalam Ismail (2003:18)merupakan pendekatan yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dan tujuan pemebelajaran cooperative adalah untuk membangkitkan interaksi yang efektif di antara anggota kelompok melalui diskusi. pembelajaran sebagian besar berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dan oleh Johnson(1991) dalam Santoso.B (Pelangi Vol 1 N0.1 tahun 1998/1999: 6-7), esensi cooperative learning adalah tanggung jawab individu sekaligus kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif (positive interdependence) yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal. Keadaan ini ini mendorong siswa dalam kelompoknya belajar, bekerja, dan bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai dengan selesainya tugas-tugas individu dan kelompok. Oleh karena itu, siswa dalam kerja kelompok tidak menjadi “penumpang gelap”, “pasrah” kepada teman asal namanya tercantum sebagai anggota kelompok
c. Hakikat Kompetensi Sains
Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Sains di sekolah menengah pertama diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Oleh karena itu, pendekatan yang di terapkan dalam menyajikan pembelajaran Sains oleh Indra Djati Sidi (2003:6) adalah memadukan antara pengalaman proses sains dan pemahaman produk sains dalam bentuk pengalaman langsung. Hal ini juga sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa SMP yang masih berada pada fase transisi dari konkrit ke formal, akan sangat memudahkan siswa jika pembelajaran Sains mengajak anak untuk belajar merumuskan konsep secara induktif berdasar fakta-fakta empiris di lapangan.
Fungsi mata pelajaran Sains di SMP adalah: (1). Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa, (2). Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah, (3). Mempersiapkan siswa menjadi warganegara yang melek sains dan teknologi, (4). Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tujuan pembelajaran Sains di SMP adalah sebagai berikut: (1). Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya. (2). Memberikan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, prinsip dan konsep sains serta keterkaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat. (3). Memberikan pengalaman kepada siswa dalam merencanakan dan melakukan kerja ilmiah untuk membentuk sikap ilmiah. (4). Meningkatkan kesadaran untuk memelihara dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam. (5). Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Di dalam masalah materi pokok zat dan energi (fisika) dalam pembelajarannya masih dominan aktivitas pada guru, sehingga timbul kesan fisika diajarkan dalam definisi-definisi atau pengertian-pengertian saja, bukan seperti yang di ungkapkan Jujun (2005 : 15) apa itu sains (fisika)?, bagaimana caranya mengkaji untuk mendapatkan fisika ? Dan apa manfaat atau kegunaan fisika itu dalam kehidupan sehari-hari ? Dengan demikian tidak timbul slogan sains sastra atau sejarah, dan sains gersang atau sains matematika. Hal tersebut yang menjadikan pembelajaran sains tidak menimbulkan kesan bermakna bahkan tidak menarik bagi siswa sehingga menjadikan kelas belajar tidak kondusif seperti diungkapkan oleh Megawati.R, Latifa.M, dan Dina. WF (2005:59-60) tentang ciri-ciri kelas yang kondusif.
d. Hakikat Lingkungan Belajar
Pengelolaan pembelajaran (kegiatan belajar mengajar) di kelas perlu di ciptakan, sehingga suasana pembelajaran akan tercipta dan terkondisi yang kondusif dan oleh Depdiknas(2003:19), di sarankan meliputi : pengelolaan tempat belajar/ruang kelas, pengelolaan siswa, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan materi pelajaran, dan pengelolaan strategi dan evaluasi pembelajaran.
Selanjutnya Indra Djati Sidi (2005:44), menguraikan bahwa guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar dikelas yaitu dengan pengaturan tempat duduk, mengatur alat peraga, pajangan karya siswa, sudut baca, jam kehadiran, tugas awal masuk kelas, tata tertib kelas yang dibuat bersama dengan kelas, dan lain sebagainya. Dengan pengelolaan pembelajaran yang kondusif maka dalam proses pembelajaran siswa akan termotivasi dalam belajar. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk dapat membangkitkan motivasi belajar pada diri siswa.
Dalam lingkungan belajar yang di ciptakan sedemikian rupa sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif , efektif dalam pembelajaran, dan senang dalam belajar akan dilihat kontribusinya dalam kompetensi sains siswa. Dalam penelitian ini kontribusi lingkungan belajar tersebut akan dilihat dari persepsi siswa tentang lingkungan belajar tersebut, yang di kategorikan persepsi siswa yang menyatakan mendukung dan kurang mendeukung kompetensi sains siswa terhadap prestasi siswa
e. Keterkaitan antara a, b, c, dan d
Pada model PAKEM menurut Indra Djati Sidi(2004:3), yang intinya adalah model yang diterapkan dengan mengkondisikan atau suasana pembelajaran yang didukung oleh lingkungan belajar dimana guru dan setiap siswa memiliki tujuan yang harus dicapai oleh setiap siswa dan sebagai keberlanjutan pembelajaran. Pada pendekatan konstruktivisme Bell, Driver & Leach dalam Hilda Karli & Margaretha SY (2003 : 2-3),yang intinya adalah suatu pendekatan tentang proses pembelajaran diawali dengan terjadinya konflik-konflik kognitif dan hanya dapat di atasi melalui pengetahuan diri (self regulation) siswa melalui pengalamannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya sehingga siswa kompeten. Sedangkan pendekatan cooperative learning oleh Johnson & Johnson (1987) dalam Ismail (2003:18), yang intinya merupakan pendekatan yang mengutamakan adanya kerjasama, dengan tujuan pembelajaran membangkitkan interaksi yang efektif di antara anggota kelompok melalui diskusi. pembelajaran sebagian besar berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas), yang pada akhirnya siswa mampu.
Selanjutnya Indra Djati Sidi (2005:44), yang intinya menegaskan bahwa guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas adalah untuk menjadikan siswa belajar dengan suasana aktif, kreatif, belajar yang efektif, dan belajar dengan senang tanpa tekanan yang mendukung model, pendekatan , dan metode yang digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dimana peran guru dalam hal ini menurut Paul Suparno (2005: 65-66), sebagai mediator dan fasilitasi yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik
Keterkaitan antar variabel yang telah diuraikan diatas ditunjukan dalam bentuk rumusan sebagai berikut :
1. Pengaruh pembelajaran yang menggunakan model PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme terhadap kompetensi belajar sains siswa
2. Pengaruh pembelajaran yang menggunakan model PAKEM dengan cooperative learning terhadap kompetensi belajar sains siswa
3. Keterkaitan antara lingkungan belajar terhadap kompetensi belajar sains siswa
4. Interaksi antara penggunaan model PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme dan coopretive learning dengan lingkungan belajar terhadap kompetensi belajar sains siswa
2. Aspek Epistemologi
Menurut Jujun S. Suriasumantri (2003 : 100), pengertian epistemologi adalah cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Terkait dengan penelitian yang sedang dibahas yaitu termasuk penelitian kuantitatif maka menurut Herman J. Waluyo (2003: 29), untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dengan digunakan metode keilmuan, sarana berpikir keilmuan dan statistik sebagai sarana ilmu-ilmu kuantitatif. Metode keilmuan adalah suatu proses mendapatkan ilmu yang pada prinsipnya menggunakan langkah-langkah deduktif dan induktif.
Dalam mendapatkan ilmu di penelitian ini digunakan proses berfikir deduktif, yaitu dalam menurunkan hipotesis penelitian yang didasrkan pada teori-teori tentang variabel-variabel yang dibahas. Sedangkan proses berfikir induktif digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini, yaitu menggunakan data impiris dari sampel penelitian dengan uji statistik ANAVA dua jalan untuk menggeneralisasi keberlakuan hipotesis dalam populasi. Jika dalam populasi ternyata hipotesis yang diturunkan secara deduktif diterima/ditolak secara signifikan ini berarati diperoleh sebuah teori tentang hubungan antara veriabel-variabel penelitihan ini.
3. Aspek Aksiologi
Pengertian aksiologi ilmu menurut Herman J. Waluyo (2003: 68), adalah bagian filsafat ilmu yang membicaqrakan tentang nilai keguanaan dari ilmu yang sebenarnya, secara umum memiliki kesamaan dengan nilai keguanaan dari cabang manusia yang lain, yaitu untuk kemaslahatan atau kebaikan manusia dan kemanusiaan, untuk meningkatakan martabat manusia, untuk memajukan peradaban manusia tanpa mengabaikan nilai-nilai keluhurannya. Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri (2003 : 227), aksiologi adalah nilai kegunaan ilmu. Dengan demikaian yang dimaksud aksiologi dari penelitian Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/200, adalah nilai kegunaan/manfaat dari penelitian tersebut
Adapun kegunaan/manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu :
Manfaat Teoritis :
a. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang menggunakan model PAKEM dengan pendekatan konstruktivisme dan coopretive learning terhadap kompetensi belajar sains siswa
b. Untuk mengetahui pengaruh antara lingkungan belajar yang memotivasi belajar tinggi dan rendah terhadap kompetensi belajar sains siswa.
c. Untuk melihat dan menganalisis interaksi antara penggunaan model PAKEM dengan pendekatan kontruktivisme dan cooperative learning dengan lingkungan belajar terhadap kompetensi belajar sains siswa.
Manfaat praktis :
d. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap upaya peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran (mutu pendidikan)
e. Memberikan gambaran implementasi model PAKEM dengan pendekatan tertentu dalam pembelajaran
f. Memotivasi para guru sains khususnya dan guru-guru yang lain pada umumnya untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran terutama dalam pengembangan dan implementasi model pembelajaran sesuai dengan karakteristik KD / materi pokok / materi ajar yang hendak diajarkan dan juga karakteristik siswanya.
g. Memberikan masukan bagi para guru sains pada khususnya dan para guru yang lain pada umumnya dalam memilih metode, strategi, pendekatan, dan model pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada.
h. Memberikan wacana / pemikiran bagi para guru sains pada khususnya dan dan pada umumnya para guru yang lain untuk menciptakan suasana pembelajaran di kelas siswa dapat merasa tidak tertekan, kondisi demokratis, senang, dan dapat aktif, kreatif, serta pembelajaran berjalan dengan efektif sesuai dengan tuntutan kurikulum yang diberlakukan yaitu KBK ataupun KTSP.
i. Sebagai bahan pertimbangan bagi para guru sains tentang penelitihan model, pendekatan, dan lingkungan belajar yang digunakan dalam pembelajaran sains di SMP
C. Penutup
Kesimpulan dari Tinjauan Filsafat Tentang Pengaruh Model PAKEM Dengan Pendekatan Konstruktivisme dan Cooperative Learning Terhadap Kompetensi Sains Di Tinjau Dari Lingkungan Belajar Siswa dalam bentuk studi eksperimen pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, akan dimulai dari fakta yang ada pada siswa kelas IX SMP N 20 Kota Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007, dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Secara ontologi , fakta menunjukan bahwa kondisi dari variabel-variabel bebas itu lemah
2. Secara epistemologi, dalam mendapatkan ilmu di penelitian ini digunakan proses berfikir deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif untuk menurunkan hipotesis penelitian. Sedangkan proses berfikir induktif untuk menarik kesimpulan penelitian berdasarkan data impiris.
3. Secara aksiologi, tinjauan kebermanfaatan penelitian baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis untuk melihat pengaruh dan interaksi antar varibel dalam penelitian ini. Sedangkan secara praktis untuk memberi sumbangan pemikiran pada praktisi pendidik , para peneliti pendidikan, dan para pengambil kebijakan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmal Bakhtiar (2004), Filsafat Ilmu. Jakarta : Devisi Buku Perguruan Tinggi PT. Raja Grafindo Persada.
Hilda Karli dan Margaretha S.Y (2002), Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Bina Media Informasi
Herman J. Waluyo (2003), Pengantar Filsafat Ilmu. Salatiga : Widya sari Press
Indra Djati Sidi (2003), Ketentuan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Dikdasmen
________ (2003), Pelayanan Profesional Kurikulum 2004, Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif. Jakarta : PLP
________ (2004), Pedoman Pembuatan Laporan Hasil Belajar. Jakarta : Dikdasmen- PLP
________ (2005), Paket Pelatihan Awal Untuk Sekolah Dan Masyarakat (Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Dikdasmen
Ismail (2003), Model-model Pembelajaran. Jakarta : PLP
John Valzey (1987), Pendidikan di Dunia Modern. Jakarta : Gunung Agung
M. Sobary Sutikno (2003), Model Pembelajaran Interaksi Sosial Pembelajaran Efektif dan Retorika. Mataram : Nusa Tenggara Pratama Press
Melvin L. Silberman (1996), Active Leaning 101 Strategies to Teach Any Subject. Boston : Allyn and Bacon
____________ (1996), Active Leaning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif, Terjemahan Raisul Muttaqien (2006). Bandung : Nusa Media
Mulyasa (2006), Kurikulum Yang Disempurnakan. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Bandung : Remaja Rosdakarya
Megawati.R, Latifa.M, dan Dina.WF (2005), Pendidikan Holistik. Jakarta: Indonesia Heritage Faundation
Paul Suparno (2006), Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
___________ (2005) , Guru Demokratis Di Era Reformasi. Jakarta : Grasindo
Paul Suparno, dkk (2006), Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Santoso.B ( Pelangi Vol 1 N0.1 tahun 1998/1999), Efektifitaf Penggunaan Model Pembelajaran Cooperative Learning Jagsaw Pada Pembelajaran Sains. Jakarta : Pelangi
Thomas M. Duffy, et.al (editor).1991, Designing Environments For Constructive Learning. New York: Springer-Verlag
Ujang Sukandi ( 2003), HO.Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Belajar Aktif. Jakarta : Puskur
Diposkan oleh KUSMORO di 00:18
Label: Karya Penelitian Ilmiah
TEKNIK PRESENTASI
TEKNIK PRESENTASI SEBAGAI INSTRUKTUR KKG/MGMP/K3S/MKKS/KKPS/MKPS
Oleh : Kusmoro, M.Pd
A. PENDAHULUAN
Pada kegiatan fasilitasi pendidikan dilapangan diperlukan suatu penanganan semestinya. Sejalan dengan tugas pokok dan fungsi dari Lembanga Penjaminan Mutu Pendidikan(LPMP) Kalimantan Barat dalam hal mutu pendidikan adalah memfasilitasi kegiatan jaminan mutu pendidikan di wilayah Kalimantan Barat. Maka salah satu kiprah LPMP dalam hal fasilitasi jaminan mutu pendidikan di wilayah Kalimanatan Barat ini mengadakan ToT bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah
Kegiatan ToT baik untuk Kelompok Kerja Guru(KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP), Kelompok Kerja Kepala Sekolah(K3S), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah(MKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah(MKPS) yang merupakan salah satu kegiatan fasilitasi jaminan mutu pendidikan diperlukan pemberdayaan pseserta masing-masing kegiatan tersebut. Peserta ToT tersebut yang merupakan ujung tombak dalam fasilitasi mutu pendidikan di lapangan atau di daerah perlu dibekali materi-materi untuk fasilitasi terhadap baik guru, kepala sekolah maupun pengawas sekolah yang salah satunya adalah teknik presentasi.
Peserta ToT dalam penyampaian materi fasilitasi mutu pendidikan baik terhadap guru, kepala sekolah, maupun pengawas sekolah harus kompeten. Oleh karena itu perlu dibekali teknik presentasi yang semestinya. Dengan harapan dalam melakukan fasilitasi di daerah akan mencapai kompetensi yang semestinya dalam mutu pendidikan. Sehingga masalah mutu pendidikan akan dapat teratasi sebagai mana mestinya.
B. STRATEGI DAN TEKNIK KOMUNIKASI DALAM PRESENTASI
Banyak eksekutif, konsultan, dosen, peneliti, instruktur, penyuluh, dan profesi lainnya takut gagal berbicara di depan rekan-rekan, kolega, pelanggan, staf, dan kelompok penting lainnya. Sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 10.000 orang manajer, 32% menyatakan bahwa berbicara di depan orang banyak sebagai hal yang menakutkan (Walters, 1989 dalam Macnamara, 1996). Lebih ekstrim lagi, dalam buku tersebut disampakan bahwa ketakutan berbicara melebihi ketakutan menghadapi kesulitan keuangan, kelebihan bobot badan, dan kematian. Dengan kata lain, sepertiga orang dalam studi tersebut menyatakan "lebih baik mati daripada harus berpidato " (The Book of List dalam Walter, 1989 dalam Macnamara, 1996).
Sebaliknya, sukses suatu presentasi tidak terletak pada penguasaan subyek pengetahuan saja, tetapi kemampuan berbicara efektif, menjadi penting untuk dipelajari dan dilatih. Niki Flacks mantan artis, kreator terkenal dan pembicara pada Power Talk terkenal di Australia mengatakan "berbicara di depan umum adalah performing", karena bukan terletak pada aktivitas alami yang diperoleh sejak lahir, tetapi penekanan pada keterampilan komunikasi lebih dominan, dimana dibutuhkan pelatihan. Guru besar komunikasi dan hubungan industri terkenal dari Macquarie University di Sydney mengatakan bahwa dewasa ini seorang manajer belum bisa dikatakan baik tanpa memiliki keterampilan berkomunikasi (Macnamara, 1996). Sebuah studi yang dilakukan APM Training Institute di Australia menemukan bahwa 80,7% menyatakan ada tiga keterampilan komunikasi yang paling diinginkan eksekutif pemasaran; keterampilan presentasi adalah yang paling diinginkan (Morphew, 1994). Oleh kerna itu pada pembahasan berikut akan dikaji seputar tentang moderator dan presentasi.
1. MODERATOR
Keberhasilan presentasi sangat tergantung kepada dua orang yang berperan di dalamnya, yaitu moderator dan pembicara (pemrasaran). Bahkan seringkali suatu presentasi menjadi gagal karena moderator tidak dapat menjalan tugas dan fungsinya dengan baik. Dapat anda bayangkan, bagaimana jadinya sebuah presentasi dan diskusi berlangsung tanpa ada seorang moderator.
Moderator adalah penjual ide atau gagasan yang akan disampaikan pembicara, di samping pengatur tempo presentasi dan diskusi, pembuat keputusan dan kesimpulan yang harus dijalankan dengan penuh kebijakan, adil dan memuaskan semua pihak. Kemampuan menggugah perhatian hadirin serta membangkitkan semangat untuk menggali berbagai potensi dan permasalahan yang dibicarakan, menjadi tugas moderator. Salah satu tugas utama moderator adalah memperkenalkan pembicara. Bagian ini merupakan yang paling menentukan langkah sukses suatu presentasi. Oleh karena itu, moderator harus bertindak sebagai seorang penjual yang menawarkan suatu produk. Pasarkan ide, gagasan, dan pembicara agar hadirin memberikan perhatian pada apa dan siapa pembicara dan apa kepentingan topik tersebut bagi hadirin. TIS (topic, importance, speaker) adalah tiga urutan kata kunci utama yang dapat digunakan sebagai formula untuk memperkenalkan pembicara.
Moderator perlu mampu menjual gagasan pembicara, mengatur dan mengarahkan diskusi terfokus dengan bijaksana dan berwibawa, serta membuat kesimpulan. Ada delapan langkah strategi meraih presentasi sukses disamping penguasaan subyek. Semua tanggapan dan pertanyaan hadirin merupakan masukan berharga yang perlu ditanggapi secara positif.
2. PRESENTASI
a. Mempersiapkan Presentasi
Presentasi ibarat gunung es yang nampak indah di atas permukaan laut. Namun keindahan tersebut akan hilang, manakala 90% bagian gunung es yang ada dibawah permukaan laut tersebut tenggelam. Dengan demikian 90% bagian dari presentasi adalah persiapan, sisanya penyajian dan diskusi. Sekalipun anda menguasai subyek dan mampu berbicara penuh wibawa, persiapan cermat tetap diperlukan untuk dua alasan penting: (1) Menemukan informasi lebih lanjut tentang subyek untuk disarikan bagi hadirin. Pilihlah informasi yang menonjol. Jika tidak memiliki cukup informasi, sebaiknya tidak memberikan presentasi; (2) Memasarkan gagasan kepada hadirin serta memperoleh dan mempertahankan perhatian hadirin.
Abraham Lincoln pernah mengatakan: "jika memiliki delapan jam untuk merobohkan pohon, saya akan menghabiskan enam jam untuk mengasah kapak (Walters, 1989 dalam Macnamara, 1999). Keuntungan utama dari persiapan yang cermat adalah efisiensi waktu presentasi serta mengurangi kegugupan dan demam panggung. Lincoln, mengisyaratkan bahwa untuk suatu presentasi, 90% waktu perlu digunakan untuk persiapan. Langkah-langkah persiapan itu menurut Maksum (2007:5), adalah: (1) analisis sasaran, (2) survei lokasi, (3) kerangka & struktur, (4) penelitian & penerapan, (5) penulisan, (6) visualisasi & media, (7) latihan, dan (8) penyampaian/ penyajian. Namun, kedelapan tahap tersebut tidak berarti jika pembicara tidak menguasai subyek dan pengetahuan penunjang lainnya. Sedangkan menurut Limited, KP(2001:1), agar presentasi yang disajikan berhasil maka harus menempul langkah-langkah sebagai berikut : (1) menentukan sasaran yang ingin dicapai; (2) memecah keseluruhan sasaran yang menjadi sebuah daftar sasaran yang dapat dicapai; (3) mengenal jenis audiens yang akan melihat dan mendengar presentasi; (4) menentukan pendekatan yang akan digunakan agar sasaran diterima audiens. Dengan demikian secara garis besar langkah dari persiapan presentasi adalah : (1) analisis dan penentuan sasaran yang ingin dicapai; (2) menentapkan kerangka struktur sasaran presentasi; (3) mengenal karakteristik audiens presentasi; (4) menetapkan pendekatan, media dan penulisan bahan presentasi yang akan digunakan; (5) membuat satuan acara pembelajaran (SAP), latihan, dan refleksi dengan perbaikan
Presentasi harus mempunyai tujuan jelas. Menurut Dunckel & Parnham (1995), jika anda membawakan presentasi karena diminta atasan, anda hanya akan membuang waktu; lebih baik anda tidak melakukannya. Jujurlah kepada diri sendiri mengenai sikap anda terhadap gagasan yang dibicarakan, kesempatan, atau subyek presentasi itu. Sikap negatif akan berpengaruh terhadap seluruh aspek organisasi, latihan, dan penyampaian, dan tentunya akan mengakibatkan tanggapan negatif dari hadirin.
Dengan demikian presentasi sebagai alat komunikasi tangguh dalam usaha untuk menyampaikan konsep teknis kerja, laporan atau keterangan mengenai apa saja yang merupakan tanggung jawab seseorang, baik itu merupakan kebijakan mutu pendidikan, barang ataupun jasa. Presentasi juga dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan, karena dari cara seseorang memberikan presentasi dapat dinilai seberapa jauh ia menguasai bidang yang dikelola. Namun menurut Limited, KP(2001:10), sebelum perencanaan presentasi menjadi final maka presenter harus memperhitungkan tipe serta komposisi audiens yang kelak dihadapi meliputi : audiens yang berbeda-berbeda, suasana hati dan sikap keterbukaan, dan hubungan sosial.
b. Menyampaikan Presentasi
Banyak pembicara yakin bahwa hadirin akan, atau bahkan harus, menyimak. Seorang pimpinan dapat memaksa bawahannya untuk menyampaikan presentasi, tetapi ia tidak dapat memaksa hadirin menyimak presentasi stafnya. Tiba waktunya presentasi. Saat itu perasaan anda berkecamuk, perut terasa tidak enak, telapak tangan sedikit berkeringat, dan anda baru dapat tidur menjelang pagi karena terus berfikir apa yang harus dikatakan dan dilakukan esok. Pertanyaan yang sering diajukan adalah bagaimana mengatasi kegugupan menjelang presentasi. Persiapan matang merupakan cara paling awal mengatasi kegugupan.
Dalam penyajian, sampaikan materi secara sistematis dan berurutan, hubungan kausal, argumentasi, teori-teori pendukung, akurasi data, pengujian yang dilakukan, relevansi metodologi yang digunakan, hasil yang diperoleh, serta manfaatnya. Agar penyajian sistematis dan berurutan: (1) tuliskan kata-kata kuncinya secara berurutan; (2) manfaatkan alat bantu untuk menyampaikan materi secara visual; (3) pelihara komunikasi tatap muka selama penyajian; (4) berikan penjelasan yang jujur pada setiap penanya dan terimalah saran serta kritik; (5) cermati busana dan penampilan anda, karena perhatian pertama hadirin diberikan pada penampilan anda.
Menurut Carnegie (1985) hal-hal yang perlu dilakukan dalam suatu penyajian adalah: (1) buat catatan ringkas dari bagian-bagian yang akan disampaikan, (2) jangan menulis sesuatu di luar penyajian, (3) jangan menghafal kata demi kata, (4) sampaikan informasi dalam bentuk ilustrasi atau contoh, (5) kuasai pengetahuan secara luas, (6) jangan cemas waktu penyajian, dan (7) jangan meniru gaya orang lain, jadilah diri sendiri. Ketepatan waktu penyajian merupakan hal penting. Persiapan yang baik termasuk merancang waktu penyajian secara tepat. Ketepatan waktu tentu harus proporsional untuk pengantar, isi pembicaraan, kesimpulan, dan saran.
Saat presentasi seorang instruktur atau presenter menurut Limited, KP(2001:3), harus dapat membangun suasana kelas, profesionalisme, antusias, bersikap toleran, wajar tanpa merendahkan dan bersikap asertif agar audiens dalam mengikuti paparan presentasi dapat berkosentrasi dengan rileks dalam memompa menyerap esensi dari presentasi. Membangun suasana dengan maksud kelas terkendali dalam suasana stabil gembira. Profesionalisme berarti memberi perhatian besar pada fakta, persiapan, serta rencana pelaksanaan presentasi terutama dalam penguasaan pokok permasalahan dan peka terhadap karakter audiens. Bersikap toleran berarti bersikap menghargai, menghormati, dan menerima dengan senang tentang eksistensi keterbatasan pengalaman dan pengetahuan audiens dengan menerima sebagai tantangan. Bersikap asertif (tegas) berarti bersikap ditengah-tengah diantara titik ujung pasif dan titik ujung agresif dari perilaku manusia dalam hubungan antar pribadi yang dapat diletakan pada sebuah skala tak terputus dari kedua titik ujung tersebut. Kegunaan perilaku asertif adalah memanfaatkan metode-metode kominikasi yang memungkinkan presenter untuk mempertahankan harga diri, membela hak-hak dan ruang pribadi presenter, dan tidak mendominasi anggota-anggota audiens.
Ada sejumlah strategi yang dapat presenter (instruktur) pakai agar presentasi membuahkan hasil yang baik. Oleh karena itu menurut Limited, KP(2001:23-38), pelu mempertimbangkan dengan matang dalam hal : menetukan pendekatan, pengaturan waktu, memberi struktur pada komentar, kalimat pembuka yang efektif, bahasa dan gaya, pilihan kata dan kalimat untuk acara formal, menggunakan berbagai istilah teknis dengan hati-hati, menghindari logat khusus (termasuk akronim. dan pengulangan kata), ringkas dan jelas, dan presenter peka terhadap audiens.
Dalam menentukan pendekatan perlu memperhatikan sejumlah aturan yang dapat berlaku umum yang ditegaskan oleh Limited, KP(2001:22), yaitu : (1). Bersikap tulus dan wajar artinya jangan bersikap orang lain dan berbicara berdasarkan pengalaman pribadi, (2). Bersikap antusias, (3). Bersikap menyenangkan dan bersahabat, dan (4). Menggunakan humor pada tempatnya
c. Meyakinkan Audiens Dengan Penampilan
Kesan pertama - Dalam teori human relations, komunikasi harus diarahkan bukan pada pribadi orang yang diajak bicara, tetapi pada faktor-faktor kejiwaannya, seperti watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, dan tingkah laku. Sukses penyaji tergantung pada sikap hadirin, sikap dan tindakan hadirin tersebut tergantung dari sikap penyaji. Kesan pertama sangat menentukan sikap hadirin selanjutnya. Jika pembicara memberikan kesan pertama yang positif, maka sikap hadirin akan positif dan menyenangkan. Tujuh Detik Pertama – Menurut teori public speaking, keberhasilan seseorang berpidato atau presentasi ditentukan oleh tujuh detik pertama dia tampil di atas mimbar. Orang cuma membutuhkan tujuh detik untuk melihat apakah anda cukup berharga untuk didengar atau tidak (Green, 1998).
Rute 350 - Christina Stuart, Direktur utama Speak Easy Training Ltd. Di Inggeris yang telah melatih ratusan pembicara profesional, mengatakan bahwa pembicara harus mendengarkan dan mengendalikan perhatian hadirin dan secara teratur menghimpun orang berpikiran ke sana ke mari yang berhenti pada Rute 350. Temuan riset psikologi komunikasi memperlihatkan bahwa manusia dapat mendengarkan dan menyerap informasi sekitar 500 kata per menit. Tetapi rata-rata orang dapat menerima dan mengulang berbicara secara jelas hanya sekitar 150 kata per menit. Perbedaan kapasitas mental untuk memproses 350 kata per menit - disalurkan ke pikiran lain. Oleh karena itu harus dimanfaatkan oleh pembicara (Stuart, 1988 dalam Macnamara, 1996).
AIDDA - Hadirin hanya akan mendengarkan pembicara, apabila ada perhatian (attention) karena penampilan, sikap, dan perilaku pembicara yang menumbuhkan minat (interest) dan rangsangan (desire), sehingga hadirin berani mengambil keputusan (decision) untuk bertindak (action) dengan memperhatikan, mendengarkan, bertanya, memberikan tanggapan, dan lain-lain. Lebih jauh lagi, hadirin berusaha mengadopsi, mencoba, dan menerapkannya.
d. Memanfaatkan Diskusi Sebaik Mungkin
Pembicara hendaknya memandang tanggapan, saran, maupun pertanyaan secara positif. Banyak pembicara pemula beranggapan bahwa forum tanyajawab merupakan forum pembantaian, bahkan seringkali khawatir dan takut diserang, dikritik, diuji, bahkan dijatuhkan. Mungkin saja ada hadirin yang memang ingin pamer kepandaian; namun pembicara harus tetap bersikap tenang dan berfikir positif bahwa semua pertanyaan dalam forum itu merupakan masukan berharga. Apabila yang dikemukakan hadirin memang mengandung kebenaran, terimalah itu dengan jujur sebagai kebenaran. Tetapi apabila pernyataan hadirin bertolak belakang, sampaikan penjelasan-penjelasan secara bijaksana dengan argumentasi yang dapat diterima.
Moderator perlu mampu menjual gagasan pembicara, mengatur dan mengarahkan diskusi terfokus dengan bijaksana dan berwibawa, serta membuat kesimpulan. Ada delapan langkah strategi meraih presentasi sukses disamping penguasaan subyek. Semua tanggapan dan pertanyaan hadirin merupakan masukan berharga yang perlu ditanggapi secara positif.
e. Berbagi Pengalaman ‘Teknik Presentasi’
Arry Akhmad Arman (2008:1), memberikan tips teknik presentasi seperti : “bagaimana cara menjawab pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya” dan “bagaimana cara beradu pendapat dengan penguji”, dan sebagainya. Secara umum, ada sejumlah prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu (1) Jangan mengandalkan teks lengkap, sajikan dalam bentuk pointer!, (2) Pelajari siapa audience, (3) Periksa ruangan dan perangkat pendukung presentasi sebelum mulai, (4) Jangan bicarakan sesuatu yang mereka sudah ketahui atau tidak ingin mereka dengar, (5) Jangan membiarkan audience jenuh. Kejenuhan dapat dihindari dengan selingan dialog dan humor, tapi jangan berlebihan, (6) Jangan merendahkan diri dengan mengatakan “maaf saya sebenarnya tidak siap …”, atau “saya baru belajar …..” , (7) Jika perlu, latihan dulu. Mintalah orang dekat anda untuk memberikan umpan balik, (8) Berpakaian yang rapi dan cerah !, (9) Jangan bicara seperti anda sedang ngobrol dengan seseorang, dan (10) Bersikap yang mengundang simpati dan kagum karena pengetahuan anda!
C. KIAT MEMBUAT DAN MENYAJIKAN PRESENTASI YANG BAGUS DAN MENARIK
1. Membuat dan Menyajikan Presentasi Yang Bagus dan Menarik
Untuk membuat dan menyajikan presentasi yang bagus dan menarik, dalam http://www2.telkom.net Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e2s6e Mrvaerdch, 2008, 09:23(26 Maret 2008), adalah sebagai berikut :
a. Pemilihan aplikasi pembuatan presentasi
Dewasa ini, aplikasi pembuatan presentasi terbagi dalam beberapa kategori. Perbedaan utama yang dimiliki masingmasing jenis aplikasi umumnya terletak pada output file yang dihasilkan dan media penyajian presentasi yang diakomodasi oleh aplikasi terkait. Kategori jenis, output file, dan media penyajian presentasi antara lain meliputi :
1). Aplikasi Office
Penggunaan aplikasi office disarankan bagi pembuatan dokumen presentasi secara cepat dan praktis, dengan materi presentasi yang singkat dan ringkas. Integritas aplikasi office memungkinkan penyajian grafik, tabel, dan data dapat dilakukan secara mudah. Fleksibilitas penyajian output file sangat tinggi, mengingat secara umum setiap komputer memiliki aplikasi office di dalamnya. Microsoft Power Point merupakan contoh aplikasi yang sangat lazim digunakan untuk kebutuhan ini.
2). Aplikasi Multimedia
Penggunaan aplikasi multimedia disarankan bagi pembuatan dokumen presentasi yang interaktif, otomatis, dan berdaya tarik. Penggunaan efek, animasi, objek grafis, serta materi audio dan video menjadi lebih optimal jika dirangkai melalui aplikasi jenis ini. Flesibilitas penyajian output presentasi sedikit terbatas. Umumnya output file yang dihasilkan memerlukan aplikasi bantu tertentu untuk menunjang penyajiannya. Hal ini dapat diatasi penyaji dengan selalu menyiapkan source player multimedia pada kemasan modul presentasinya. Macromedia Flash, merupakan contoh aplikasi yang lazim digunakan untuk kebutuhan ini.
3). Aplikasi Dokumentasi
Penggunaan aplikasi dokumentasi disarankan bagi pembuatan dokumen presentasi dengan materi detail dan komprehensif. Aplikasi jenis ini mampu mempertahankan konsistensi presisi tampilan dan menyediakan fasilitas proteksi pada content dokumen. Fleksibilitas penyajian output file sangat tinggi, bahkan bersifat multi platform (dapat diakses dari berbagai sistem operasi). Selain itu, output file dapat dipertukarkan dan disajikan secara aman melalui beberapa metode (misalnya via internet). Tool PDF Maker seperti Adobe Acrobat, atau HTML Editor seperti Microsoft FrontPage merupakan beberapa alternatif aplikasi yang dapat Anda gunakan. Berdasarkan output dan media presentasi yang didukung oleh jenis aplikasi presentasi di atas, Anda dapat memperkirakan aplikasi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan pembuatan dokumen presentasi Anda.
b. Perencanaan materi presentasi
Dalam perencanaan materi presentasi dokumen presentasi merupakan hal paling mendasar yang perlu Anda persiapkan. Beberapa di antaranya adalah :
1). Tentukan Tema dan Tujuan secara Spesifik
Meskipun Anda dimungkinkan menyusun satu dokumen presentasi dengan kandungan yang sangat komprehensif untuk berbagai keperluan, namun hal ini tidak disarankan. Pastikan Anda memiliki dokumen presentasi tersendiri dengan tema, tujuan dan misi, serta target audience penyajian presentasi yang spesifik.
2). Susun Kerangka Materi Presentasi
Ibarat merencanakan sebuah karya tulis yang dituangkan dalam sebuah kerangka karangan, maka presentasi yang baik juga harus memiliki kerangka materi yang dituangkan dalam poin-poin presentasi. Susun poin-poin utama presentasi, estimasikan jumlah dan koherensi slide-slide Anda, temasuk pertimbangan perlunya referensi-referensi pendukung.
3). Kumpulkan Materi Utama dan Pendukung
Pengumpulan materi dapat Anda persiapkan dari awal. Anda dapat mulai merangkum sumber-sumber materi yang akan Anda tuangkan. Pilih koleksi file gambar, audio, atau video sebagai objek pendukung. Siapkan tabel, grafik, dan data pendukung jika diperlukan.
4). Tentukan Aplikasi Pembuat Presentasi yang Tepat
Berdasarkan perencanaan, kerangka, dan kumpulan materi yang telah Anda siapkan di awal, maka Anda dapat memilih aplikasi pembuat presentasi yang tepat bagi penuangan materi presentasi Anda. Baca kembali tip pada bagian awal untuk memastikannya.
5). Manfaatkan Aplikasi Penunjang
Inovasi di bidang perangkat lunak dewasa ini sangat beragam. Anda dapat memanfaatkan aplikasi tertentu untuk keperluan tertentu. Pada dasarnya, output akhir yang Anda persiapkan melalui aplikasi penunjang selalu dapat Anda integrasikan ke dalam slide presentasi. Di samping memanfaatkan aplikasi penunjang bagi penyusunan materi, Anda sebaiknya juga melengkapi diri dengan berbagai aplikasi bantu bagi penyajian presentasi.
6). Tentukan Output Sesuai dengan Kebutuhan
Tentukan output akhir presentasi Anda berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah diulas di bagian awal. Jika memungkinkan, pilih output akhir yang paling fleksibel, sehingga Anda mudah menyajikan, mengekspor, atau mengonversikan formatnya ke dalam output lainnya jika diperlukan.
c. Penguasaan aspek teknis
Selain menguasai aspek pembuatan sebuah dokumen presentasi melalui aplikasi tertentu, akan lebih ideal jika Anda juga memahami berbagai hal berkaitan dengan aspek teknis seputar penyajian presentasi. Beberapa di antaranya adalah tentang perangkat-perangkat yang diperlukan dalam menyajikan sebuah presentasi, perangkat pendukung yang dapat Anda pilih, serta teknik-teknik penggunaannya. Beberapa hal yang sebaiknya Anda pahami atara lain :
1). Pemilihan Perangkat Komputer
Peran komputer penyaji sangat dominan bagi kelancaran sebuah sesi presentasi. Pertimbangan pemilihan perangkat komputer antara lain mengenai spesifikasi teknis komputer, jenis atau tipe komputer, kelengkapan perangkat teknologi yang terpasang, serta sistem operasi dan aplikasi penunjang yang ada di dalamnya.
2). Pemilihan Media Simpan
Media simpan tidak hanya terbatas pada harddisk yang ada di dalam PC Anda. Pertimbangkan segi portabilitas, flesibilitas, dan mobilitas media simpan bagi dokumen presentasi Anda. Pertimbangkan pemakaian keping optical disk, USB Flash Memory, atau bahkan server jaringan atau hosting internet.
3). Pemilihan Perangkat Display
Perangkat display presentasi tidak hanya terbatas pada OHP. Pertimbangkan penggunaan LCD Projector, DLP Projector, atau Dual / Multi Monitor untuk berpresentasi. Tentukan juga jenis screen yang paling sesuai dengan
kebutuhan Anda.
4). Pemilihan Perangkat Pendukung
Sound system yang memadai adalah syarat mutlak bagi penyajian presentasi. Tentukan jenis perangkat sound system yang fleksibel namun berkemampuan optimal. Pertimbangkan juga pemakaian laser pointer untuk mendampingi sesi presentasi Anda. Sediakan camera pada ruang presentasi untuk keperluan dokumentasi Anda, terlebih jika Anda ingin mendistribusikan kembali moment-moment presentasi yang cukup penting untuk kolega Anda.
d. Teknik penyajian presentasi
Sebagus apapun materi presentasi Anda, selengkap apapun perangkat presentasi yang tersedia, semua akan sia-sia jika teknik penyajian presentasi Anda tidak menarik. Beberapa tip yang kami berikan antara lain :
1). Kuasai Teknik-teknik Penyajian Presentasi
Temukan teknik-teknik tertentu, seperti bagaimana menyajkan presentasi melalui beberapa monitor, bagaimana menyembunyikan sajian slide secara temporer untuk mengalihkan perhatian audience dari screen ke pembicaraan Anda, termasuk bagaimana mengemas slide presentasi agar dapat berjalan secara otomatis atau dapat diakses via internet.
2). Simulasikan Presentasi Anda Sesering Mungkin
Jika perlu, gunakan fasilitas Timer yang tersedia pada aplikasi penyaji presentasi untuk memastikan ketepatan waktu pemaparan setiap slide presentasi Anda.
3). Lengkapi Sajian Presentasi dengan Materi Tambahan
Anda dapat mencetak dan mendistribusikan lembar handout, membagikan CD materi presentasi, atau bahkan menyertakan materi pendukung bagi audience. Hal ini dapat meminimalkan pecahnya perhatian audience karena harus mencatat poin-poin dan paparan Anda, menghindari tidak tertangkapnya sebagian materi presentasi yang Anda sajikan, dan tentunya menjadi salah satu media penyebaran bagi visi dan misi penyajian presentasi Anda.
D. KESIMPULAN
Setiap instruktur jika mau melakukan presentasi suatu kajian maka akan melakukan serangkaian kegiatan, yaitu : analisis persiapan yang mencakup analisis audience, bahan kajian, waktu, media, termasuk pendekatan yang digunakan; pembuatan persiapan; dan latian. Kesuksesan presentasi seseorang sangat ditentukan diantaranya oleh faktor moderator, kesiapan, dan kepercayaan diri
Keprofesionalan seorang instruktur ditentukan diantaranya oleh penguasaan bahan kajian, wawasan, sikap terhadap audience, penggunaaan alat presentasi, dan cara menanggapi pertanyaan audience. Dalam hal ini seorang instruktur mutlak untuk menguasai peralatan presentasi dan pengauasaan bahan kajian yang dipresentasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Arry Akhmad Arman. 2008, Berbagi Pengalaman ‘Teknik Presentasi’ Jakarta Maret 17, 2008
Carnegie, D. 1985. Quick and Easy Way to Effective Speaking. New York: Dale Carnegie & Associates.
Dunckel, J. & P. Elizabeth. 1995. Effective Speaking for Buisiness Success. North Van couver, Canada.
Green, G. 1998. The Magic of Public Speaking. Alih bahasa Agus Teguh H. Gramedia, Jakarta.
http://www2.telkom.net Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source Matters. All rights reserved Generated: 26 March, 2008, 09:23; 27 Maret 2008
Limited, KP. 2001, Making Effective Presentations. Manchester: Lonson NJ9NJ
Macnamara, J. R. 1996. The Modern Presenter's Handbook. Prentice Hall, Australia.
Maksum. 2007, Strategi dan Teknik Komunikasi Dalam Presentasi. Bogor : PUSTAKA
Rudolft, D.1993. Public Relations. Jakarta: Golden Trayon.
Oleh : Kusmoro, M.Pd
A. PENDAHULUAN
Pada kegiatan fasilitasi pendidikan dilapangan diperlukan suatu penanganan semestinya. Sejalan dengan tugas pokok dan fungsi dari Lembanga Penjaminan Mutu Pendidikan(LPMP) Kalimantan Barat dalam hal mutu pendidikan adalah memfasilitasi kegiatan jaminan mutu pendidikan di wilayah Kalimantan Barat. Maka salah satu kiprah LPMP dalam hal fasilitasi jaminan mutu pendidikan di wilayah Kalimanatan Barat ini mengadakan ToT bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah
Kegiatan ToT baik untuk Kelompok Kerja Guru(KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP), Kelompok Kerja Kepala Sekolah(K3S), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah(MKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah(MKPS) yang merupakan salah satu kegiatan fasilitasi jaminan mutu pendidikan diperlukan pemberdayaan pseserta masing-masing kegiatan tersebut. Peserta ToT tersebut yang merupakan ujung tombak dalam fasilitasi mutu pendidikan di lapangan atau di daerah perlu dibekali materi-materi untuk fasilitasi terhadap baik guru, kepala sekolah maupun pengawas sekolah yang salah satunya adalah teknik presentasi.
Peserta ToT dalam penyampaian materi fasilitasi mutu pendidikan baik terhadap guru, kepala sekolah, maupun pengawas sekolah harus kompeten. Oleh karena itu perlu dibekali teknik presentasi yang semestinya. Dengan harapan dalam melakukan fasilitasi di daerah akan mencapai kompetensi yang semestinya dalam mutu pendidikan. Sehingga masalah mutu pendidikan akan dapat teratasi sebagai mana mestinya.
B. STRATEGI DAN TEKNIK KOMUNIKASI DALAM PRESENTASI
Banyak eksekutif, konsultan, dosen, peneliti, instruktur, penyuluh, dan profesi lainnya takut gagal berbicara di depan rekan-rekan, kolega, pelanggan, staf, dan kelompok penting lainnya. Sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 10.000 orang manajer, 32% menyatakan bahwa berbicara di depan orang banyak sebagai hal yang menakutkan (Walters, 1989 dalam Macnamara, 1996). Lebih ekstrim lagi, dalam buku tersebut disampakan bahwa ketakutan berbicara melebihi ketakutan menghadapi kesulitan keuangan, kelebihan bobot badan, dan kematian. Dengan kata lain, sepertiga orang dalam studi tersebut menyatakan "lebih baik mati daripada harus berpidato " (The Book of List dalam Walter, 1989 dalam Macnamara, 1996).
Sebaliknya, sukses suatu presentasi tidak terletak pada penguasaan subyek pengetahuan saja, tetapi kemampuan berbicara efektif, menjadi penting untuk dipelajari dan dilatih. Niki Flacks mantan artis, kreator terkenal dan pembicara pada Power Talk terkenal di Australia mengatakan "berbicara di depan umum adalah performing", karena bukan terletak pada aktivitas alami yang diperoleh sejak lahir, tetapi penekanan pada keterampilan komunikasi lebih dominan, dimana dibutuhkan pelatihan. Guru besar komunikasi dan hubungan industri terkenal dari Macquarie University di Sydney mengatakan bahwa dewasa ini seorang manajer belum bisa dikatakan baik tanpa memiliki keterampilan berkomunikasi (Macnamara, 1996). Sebuah studi yang dilakukan APM Training Institute di Australia menemukan bahwa 80,7% menyatakan ada tiga keterampilan komunikasi yang paling diinginkan eksekutif pemasaran; keterampilan presentasi adalah yang paling diinginkan (Morphew, 1994). Oleh kerna itu pada pembahasan berikut akan dikaji seputar tentang moderator dan presentasi.
1. MODERATOR
Keberhasilan presentasi sangat tergantung kepada dua orang yang berperan di dalamnya, yaitu moderator dan pembicara (pemrasaran). Bahkan seringkali suatu presentasi menjadi gagal karena moderator tidak dapat menjalan tugas dan fungsinya dengan baik. Dapat anda bayangkan, bagaimana jadinya sebuah presentasi dan diskusi berlangsung tanpa ada seorang moderator.
Moderator adalah penjual ide atau gagasan yang akan disampaikan pembicara, di samping pengatur tempo presentasi dan diskusi, pembuat keputusan dan kesimpulan yang harus dijalankan dengan penuh kebijakan, adil dan memuaskan semua pihak. Kemampuan menggugah perhatian hadirin serta membangkitkan semangat untuk menggali berbagai potensi dan permasalahan yang dibicarakan, menjadi tugas moderator. Salah satu tugas utama moderator adalah memperkenalkan pembicara. Bagian ini merupakan yang paling menentukan langkah sukses suatu presentasi. Oleh karena itu, moderator harus bertindak sebagai seorang penjual yang menawarkan suatu produk. Pasarkan ide, gagasan, dan pembicara agar hadirin memberikan perhatian pada apa dan siapa pembicara dan apa kepentingan topik tersebut bagi hadirin. TIS (topic, importance, speaker) adalah tiga urutan kata kunci utama yang dapat digunakan sebagai formula untuk memperkenalkan pembicara.
Moderator perlu mampu menjual gagasan pembicara, mengatur dan mengarahkan diskusi terfokus dengan bijaksana dan berwibawa, serta membuat kesimpulan. Ada delapan langkah strategi meraih presentasi sukses disamping penguasaan subyek. Semua tanggapan dan pertanyaan hadirin merupakan masukan berharga yang perlu ditanggapi secara positif.
2. PRESENTASI
a. Mempersiapkan Presentasi
Presentasi ibarat gunung es yang nampak indah di atas permukaan laut. Namun keindahan tersebut akan hilang, manakala 90% bagian gunung es yang ada dibawah permukaan laut tersebut tenggelam. Dengan demikian 90% bagian dari presentasi adalah persiapan, sisanya penyajian dan diskusi. Sekalipun anda menguasai subyek dan mampu berbicara penuh wibawa, persiapan cermat tetap diperlukan untuk dua alasan penting: (1) Menemukan informasi lebih lanjut tentang subyek untuk disarikan bagi hadirin. Pilihlah informasi yang menonjol. Jika tidak memiliki cukup informasi, sebaiknya tidak memberikan presentasi; (2) Memasarkan gagasan kepada hadirin serta memperoleh dan mempertahankan perhatian hadirin.
Abraham Lincoln pernah mengatakan: "jika memiliki delapan jam untuk merobohkan pohon, saya akan menghabiskan enam jam untuk mengasah kapak (Walters, 1989 dalam Macnamara, 1999). Keuntungan utama dari persiapan yang cermat adalah efisiensi waktu presentasi serta mengurangi kegugupan dan demam panggung. Lincoln, mengisyaratkan bahwa untuk suatu presentasi, 90% waktu perlu digunakan untuk persiapan. Langkah-langkah persiapan itu menurut Maksum (2007:5), adalah: (1) analisis sasaran, (2) survei lokasi, (3) kerangka & struktur, (4) penelitian & penerapan, (5) penulisan, (6) visualisasi & media, (7) latihan, dan (8) penyampaian/ penyajian. Namun, kedelapan tahap tersebut tidak berarti jika pembicara tidak menguasai subyek dan pengetahuan penunjang lainnya. Sedangkan menurut Limited, KP(2001:1), agar presentasi yang disajikan berhasil maka harus menempul langkah-langkah sebagai berikut : (1) menentukan sasaran yang ingin dicapai; (2) memecah keseluruhan sasaran yang menjadi sebuah daftar sasaran yang dapat dicapai; (3) mengenal jenis audiens yang akan melihat dan mendengar presentasi; (4) menentukan pendekatan yang akan digunakan agar sasaran diterima audiens. Dengan demikian secara garis besar langkah dari persiapan presentasi adalah : (1) analisis dan penentuan sasaran yang ingin dicapai; (2) menentapkan kerangka struktur sasaran presentasi; (3) mengenal karakteristik audiens presentasi; (4) menetapkan pendekatan, media dan penulisan bahan presentasi yang akan digunakan; (5) membuat satuan acara pembelajaran (SAP), latihan, dan refleksi dengan perbaikan
Presentasi harus mempunyai tujuan jelas. Menurut Dunckel & Parnham (1995), jika anda membawakan presentasi karena diminta atasan, anda hanya akan membuang waktu; lebih baik anda tidak melakukannya. Jujurlah kepada diri sendiri mengenai sikap anda terhadap gagasan yang dibicarakan, kesempatan, atau subyek presentasi itu. Sikap negatif akan berpengaruh terhadap seluruh aspek organisasi, latihan, dan penyampaian, dan tentunya akan mengakibatkan tanggapan negatif dari hadirin.
Dengan demikian presentasi sebagai alat komunikasi tangguh dalam usaha untuk menyampaikan konsep teknis kerja, laporan atau keterangan mengenai apa saja yang merupakan tanggung jawab seseorang, baik itu merupakan kebijakan mutu pendidikan, barang ataupun jasa. Presentasi juga dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan, karena dari cara seseorang memberikan presentasi dapat dinilai seberapa jauh ia menguasai bidang yang dikelola. Namun menurut Limited, KP(2001:10), sebelum perencanaan presentasi menjadi final maka presenter harus memperhitungkan tipe serta komposisi audiens yang kelak dihadapi meliputi : audiens yang berbeda-berbeda, suasana hati dan sikap keterbukaan, dan hubungan sosial.
b. Menyampaikan Presentasi
Banyak pembicara yakin bahwa hadirin akan, atau bahkan harus, menyimak. Seorang pimpinan dapat memaksa bawahannya untuk menyampaikan presentasi, tetapi ia tidak dapat memaksa hadirin menyimak presentasi stafnya. Tiba waktunya presentasi. Saat itu perasaan anda berkecamuk, perut terasa tidak enak, telapak tangan sedikit berkeringat, dan anda baru dapat tidur menjelang pagi karena terus berfikir apa yang harus dikatakan dan dilakukan esok. Pertanyaan yang sering diajukan adalah bagaimana mengatasi kegugupan menjelang presentasi. Persiapan matang merupakan cara paling awal mengatasi kegugupan.
Dalam penyajian, sampaikan materi secara sistematis dan berurutan, hubungan kausal, argumentasi, teori-teori pendukung, akurasi data, pengujian yang dilakukan, relevansi metodologi yang digunakan, hasil yang diperoleh, serta manfaatnya. Agar penyajian sistematis dan berurutan: (1) tuliskan kata-kata kuncinya secara berurutan; (2) manfaatkan alat bantu untuk menyampaikan materi secara visual; (3) pelihara komunikasi tatap muka selama penyajian; (4) berikan penjelasan yang jujur pada setiap penanya dan terimalah saran serta kritik; (5) cermati busana dan penampilan anda, karena perhatian pertama hadirin diberikan pada penampilan anda.
Menurut Carnegie (1985) hal-hal yang perlu dilakukan dalam suatu penyajian adalah: (1) buat catatan ringkas dari bagian-bagian yang akan disampaikan, (2) jangan menulis sesuatu di luar penyajian, (3) jangan menghafal kata demi kata, (4) sampaikan informasi dalam bentuk ilustrasi atau contoh, (5) kuasai pengetahuan secara luas, (6) jangan cemas waktu penyajian, dan (7) jangan meniru gaya orang lain, jadilah diri sendiri. Ketepatan waktu penyajian merupakan hal penting. Persiapan yang baik termasuk merancang waktu penyajian secara tepat. Ketepatan waktu tentu harus proporsional untuk pengantar, isi pembicaraan, kesimpulan, dan saran.
Saat presentasi seorang instruktur atau presenter menurut Limited, KP(2001:3), harus dapat membangun suasana kelas, profesionalisme, antusias, bersikap toleran, wajar tanpa merendahkan dan bersikap asertif agar audiens dalam mengikuti paparan presentasi dapat berkosentrasi dengan rileks dalam memompa menyerap esensi dari presentasi. Membangun suasana dengan maksud kelas terkendali dalam suasana stabil gembira. Profesionalisme berarti memberi perhatian besar pada fakta, persiapan, serta rencana pelaksanaan presentasi terutama dalam penguasaan pokok permasalahan dan peka terhadap karakter audiens. Bersikap toleran berarti bersikap menghargai, menghormati, dan menerima dengan senang tentang eksistensi keterbatasan pengalaman dan pengetahuan audiens dengan menerima sebagai tantangan. Bersikap asertif (tegas) berarti bersikap ditengah-tengah diantara titik ujung pasif dan titik ujung agresif dari perilaku manusia dalam hubungan antar pribadi yang dapat diletakan pada sebuah skala tak terputus dari kedua titik ujung tersebut. Kegunaan perilaku asertif adalah memanfaatkan metode-metode kominikasi yang memungkinkan presenter untuk mempertahankan harga diri, membela hak-hak dan ruang pribadi presenter, dan tidak mendominasi anggota-anggota audiens.
Ada sejumlah strategi yang dapat presenter (instruktur) pakai agar presentasi membuahkan hasil yang baik. Oleh karena itu menurut Limited, KP(2001:23-38), pelu mempertimbangkan dengan matang dalam hal : menetukan pendekatan, pengaturan waktu, memberi struktur pada komentar, kalimat pembuka yang efektif, bahasa dan gaya, pilihan kata dan kalimat untuk acara formal, menggunakan berbagai istilah teknis dengan hati-hati, menghindari logat khusus (termasuk akronim. dan pengulangan kata), ringkas dan jelas, dan presenter peka terhadap audiens.
Dalam menentukan pendekatan perlu memperhatikan sejumlah aturan yang dapat berlaku umum yang ditegaskan oleh Limited, KP(2001:22), yaitu : (1). Bersikap tulus dan wajar artinya jangan bersikap orang lain dan berbicara berdasarkan pengalaman pribadi, (2). Bersikap antusias, (3). Bersikap menyenangkan dan bersahabat, dan (4). Menggunakan humor pada tempatnya
c. Meyakinkan Audiens Dengan Penampilan
Kesan pertama - Dalam teori human relations, komunikasi harus diarahkan bukan pada pribadi orang yang diajak bicara, tetapi pada faktor-faktor kejiwaannya, seperti watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, dan tingkah laku. Sukses penyaji tergantung pada sikap hadirin, sikap dan tindakan hadirin tersebut tergantung dari sikap penyaji. Kesan pertama sangat menentukan sikap hadirin selanjutnya. Jika pembicara memberikan kesan pertama yang positif, maka sikap hadirin akan positif dan menyenangkan. Tujuh Detik Pertama – Menurut teori public speaking, keberhasilan seseorang berpidato atau presentasi ditentukan oleh tujuh detik pertama dia tampil di atas mimbar. Orang cuma membutuhkan tujuh detik untuk melihat apakah anda cukup berharga untuk didengar atau tidak (Green, 1998).
Rute 350 - Christina Stuart, Direktur utama Speak Easy Training Ltd. Di Inggeris yang telah melatih ratusan pembicara profesional, mengatakan bahwa pembicara harus mendengarkan dan mengendalikan perhatian hadirin dan secara teratur menghimpun orang berpikiran ke sana ke mari yang berhenti pada Rute 350. Temuan riset psikologi komunikasi memperlihatkan bahwa manusia dapat mendengarkan dan menyerap informasi sekitar 500 kata per menit. Tetapi rata-rata orang dapat menerima dan mengulang berbicara secara jelas hanya sekitar 150 kata per menit. Perbedaan kapasitas mental untuk memproses 350 kata per menit - disalurkan ke pikiran lain. Oleh karena itu harus dimanfaatkan oleh pembicara (Stuart, 1988 dalam Macnamara, 1996).
AIDDA - Hadirin hanya akan mendengarkan pembicara, apabila ada perhatian (attention) karena penampilan, sikap, dan perilaku pembicara yang menumbuhkan minat (interest) dan rangsangan (desire), sehingga hadirin berani mengambil keputusan (decision) untuk bertindak (action) dengan memperhatikan, mendengarkan, bertanya, memberikan tanggapan, dan lain-lain. Lebih jauh lagi, hadirin berusaha mengadopsi, mencoba, dan menerapkannya.
d. Memanfaatkan Diskusi Sebaik Mungkin
Pembicara hendaknya memandang tanggapan, saran, maupun pertanyaan secara positif. Banyak pembicara pemula beranggapan bahwa forum tanyajawab merupakan forum pembantaian, bahkan seringkali khawatir dan takut diserang, dikritik, diuji, bahkan dijatuhkan. Mungkin saja ada hadirin yang memang ingin pamer kepandaian; namun pembicara harus tetap bersikap tenang dan berfikir positif bahwa semua pertanyaan dalam forum itu merupakan masukan berharga. Apabila yang dikemukakan hadirin memang mengandung kebenaran, terimalah itu dengan jujur sebagai kebenaran. Tetapi apabila pernyataan hadirin bertolak belakang, sampaikan penjelasan-penjelasan secara bijaksana dengan argumentasi yang dapat diterima.
Moderator perlu mampu menjual gagasan pembicara, mengatur dan mengarahkan diskusi terfokus dengan bijaksana dan berwibawa, serta membuat kesimpulan. Ada delapan langkah strategi meraih presentasi sukses disamping penguasaan subyek. Semua tanggapan dan pertanyaan hadirin merupakan masukan berharga yang perlu ditanggapi secara positif.
e. Berbagi Pengalaman ‘Teknik Presentasi’
Arry Akhmad Arman (2008:1), memberikan tips teknik presentasi seperti : “bagaimana cara menjawab pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya” dan “bagaimana cara beradu pendapat dengan penguji”, dan sebagainya. Secara umum, ada sejumlah prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu (1) Jangan mengandalkan teks lengkap, sajikan dalam bentuk pointer!, (2) Pelajari siapa audience, (3) Periksa ruangan dan perangkat pendukung presentasi sebelum mulai, (4) Jangan bicarakan sesuatu yang mereka sudah ketahui atau tidak ingin mereka dengar, (5) Jangan membiarkan audience jenuh. Kejenuhan dapat dihindari dengan selingan dialog dan humor, tapi jangan berlebihan, (6) Jangan merendahkan diri dengan mengatakan “maaf saya sebenarnya tidak siap …”, atau “saya baru belajar …..” , (7) Jika perlu, latihan dulu. Mintalah orang dekat anda untuk memberikan umpan balik, (8) Berpakaian yang rapi dan cerah !, (9) Jangan bicara seperti anda sedang ngobrol dengan seseorang, dan (10) Bersikap yang mengundang simpati dan kagum karena pengetahuan anda!
C. KIAT MEMBUAT DAN MENYAJIKAN PRESENTASI YANG BAGUS DAN MENARIK
1. Membuat dan Menyajikan Presentasi Yang Bagus dan Menarik
Untuk membuat dan menyajikan presentasi yang bagus dan menarik, dalam http://www2.telkom.net Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e2s6e Mrvaerdch, 2008, 09:23(26 Maret 2008), adalah sebagai berikut :
a. Pemilihan aplikasi pembuatan presentasi
Dewasa ini, aplikasi pembuatan presentasi terbagi dalam beberapa kategori. Perbedaan utama yang dimiliki masingmasing jenis aplikasi umumnya terletak pada output file yang dihasilkan dan media penyajian presentasi yang diakomodasi oleh aplikasi terkait. Kategori jenis, output file, dan media penyajian presentasi antara lain meliputi :
1). Aplikasi Office
Penggunaan aplikasi office disarankan bagi pembuatan dokumen presentasi secara cepat dan praktis, dengan materi presentasi yang singkat dan ringkas. Integritas aplikasi office memungkinkan penyajian grafik, tabel, dan data dapat dilakukan secara mudah. Fleksibilitas penyajian output file sangat tinggi, mengingat secara umum setiap komputer memiliki aplikasi office di dalamnya. Microsoft Power Point merupakan contoh aplikasi yang sangat lazim digunakan untuk kebutuhan ini.
2). Aplikasi Multimedia
Penggunaan aplikasi multimedia disarankan bagi pembuatan dokumen presentasi yang interaktif, otomatis, dan berdaya tarik. Penggunaan efek, animasi, objek grafis, serta materi audio dan video menjadi lebih optimal jika dirangkai melalui aplikasi jenis ini. Flesibilitas penyajian output presentasi sedikit terbatas. Umumnya output file yang dihasilkan memerlukan aplikasi bantu tertentu untuk menunjang penyajiannya. Hal ini dapat diatasi penyaji dengan selalu menyiapkan source player multimedia pada kemasan modul presentasinya. Macromedia Flash, merupakan contoh aplikasi yang lazim digunakan untuk kebutuhan ini.
3). Aplikasi Dokumentasi
Penggunaan aplikasi dokumentasi disarankan bagi pembuatan dokumen presentasi dengan materi detail dan komprehensif. Aplikasi jenis ini mampu mempertahankan konsistensi presisi tampilan dan menyediakan fasilitas proteksi pada content dokumen. Fleksibilitas penyajian output file sangat tinggi, bahkan bersifat multi platform (dapat diakses dari berbagai sistem operasi). Selain itu, output file dapat dipertukarkan dan disajikan secara aman melalui beberapa metode (misalnya via internet). Tool PDF Maker seperti Adobe Acrobat, atau HTML Editor seperti Microsoft FrontPage merupakan beberapa alternatif aplikasi yang dapat Anda gunakan. Berdasarkan output dan media presentasi yang didukung oleh jenis aplikasi presentasi di atas, Anda dapat memperkirakan aplikasi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan pembuatan dokumen presentasi Anda.
b. Perencanaan materi presentasi
Dalam perencanaan materi presentasi dokumen presentasi merupakan hal paling mendasar yang perlu Anda persiapkan. Beberapa di antaranya adalah :
1). Tentukan Tema dan Tujuan secara Spesifik
Meskipun Anda dimungkinkan menyusun satu dokumen presentasi dengan kandungan yang sangat komprehensif untuk berbagai keperluan, namun hal ini tidak disarankan. Pastikan Anda memiliki dokumen presentasi tersendiri dengan tema, tujuan dan misi, serta target audience penyajian presentasi yang spesifik.
2). Susun Kerangka Materi Presentasi
Ibarat merencanakan sebuah karya tulis yang dituangkan dalam sebuah kerangka karangan, maka presentasi yang baik juga harus memiliki kerangka materi yang dituangkan dalam poin-poin presentasi. Susun poin-poin utama presentasi, estimasikan jumlah dan koherensi slide-slide Anda, temasuk pertimbangan perlunya referensi-referensi pendukung.
3). Kumpulkan Materi Utama dan Pendukung
Pengumpulan materi dapat Anda persiapkan dari awal. Anda dapat mulai merangkum sumber-sumber materi yang akan Anda tuangkan. Pilih koleksi file gambar, audio, atau video sebagai objek pendukung. Siapkan tabel, grafik, dan data pendukung jika diperlukan.
4). Tentukan Aplikasi Pembuat Presentasi yang Tepat
Berdasarkan perencanaan, kerangka, dan kumpulan materi yang telah Anda siapkan di awal, maka Anda dapat memilih aplikasi pembuat presentasi yang tepat bagi penuangan materi presentasi Anda. Baca kembali tip pada bagian awal untuk memastikannya.
5). Manfaatkan Aplikasi Penunjang
Inovasi di bidang perangkat lunak dewasa ini sangat beragam. Anda dapat memanfaatkan aplikasi tertentu untuk keperluan tertentu. Pada dasarnya, output akhir yang Anda persiapkan melalui aplikasi penunjang selalu dapat Anda integrasikan ke dalam slide presentasi. Di samping memanfaatkan aplikasi penunjang bagi penyusunan materi, Anda sebaiknya juga melengkapi diri dengan berbagai aplikasi bantu bagi penyajian presentasi.
6). Tentukan Output Sesuai dengan Kebutuhan
Tentukan output akhir presentasi Anda berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah diulas di bagian awal. Jika memungkinkan, pilih output akhir yang paling fleksibel, sehingga Anda mudah menyajikan, mengekspor, atau mengonversikan formatnya ke dalam output lainnya jika diperlukan.
c. Penguasaan aspek teknis
Selain menguasai aspek pembuatan sebuah dokumen presentasi melalui aplikasi tertentu, akan lebih ideal jika Anda juga memahami berbagai hal berkaitan dengan aspek teknis seputar penyajian presentasi. Beberapa di antaranya adalah tentang perangkat-perangkat yang diperlukan dalam menyajikan sebuah presentasi, perangkat pendukung yang dapat Anda pilih, serta teknik-teknik penggunaannya. Beberapa hal yang sebaiknya Anda pahami atara lain :
1). Pemilihan Perangkat Komputer
Peran komputer penyaji sangat dominan bagi kelancaran sebuah sesi presentasi. Pertimbangan pemilihan perangkat komputer antara lain mengenai spesifikasi teknis komputer, jenis atau tipe komputer, kelengkapan perangkat teknologi yang terpasang, serta sistem operasi dan aplikasi penunjang yang ada di dalamnya.
2). Pemilihan Media Simpan
Media simpan tidak hanya terbatas pada harddisk yang ada di dalam PC Anda. Pertimbangkan segi portabilitas, flesibilitas, dan mobilitas media simpan bagi dokumen presentasi Anda. Pertimbangkan pemakaian keping optical disk, USB Flash Memory, atau bahkan server jaringan atau hosting internet.
3). Pemilihan Perangkat Display
Perangkat display presentasi tidak hanya terbatas pada OHP. Pertimbangkan penggunaan LCD Projector, DLP Projector, atau Dual / Multi Monitor untuk berpresentasi. Tentukan juga jenis screen yang paling sesuai dengan
kebutuhan Anda.
4). Pemilihan Perangkat Pendukung
Sound system yang memadai adalah syarat mutlak bagi penyajian presentasi. Tentukan jenis perangkat sound system yang fleksibel namun berkemampuan optimal. Pertimbangkan juga pemakaian laser pointer untuk mendampingi sesi presentasi Anda. Sediakan camera pada ruang presentasi untuk keperluan dokumentasi Anda, terlebih jika Anda ingin mendistribusikan kembali moment-moment presentasi yang cukup penting untuk kolega Anda.
d. Teknik penyajian presentasi
Sebagus apapun materi presentasi Anda, selengkap apapun perangkat presentasi yang tersedia, semua akan sia-sia jika teknik penyajian presentasi Anda tidak menarik. Beberapa tip yang kami berikan antara lain :
1). Kuasai Teknik-teknik Penyajian Presentasi
Temukan teknik-teknik tertentu, seperti bagaimana menyajkan presentasi melalui beberapa monitor, bagaimana menyembunyikan sajian slide secara temporer untuk mengalihkan perhatian audience dari screen ke pembicaraan Anda, termasuk bagaimana mengemas slide presentasi agar dapat berjalan secara otomatis atau dapat diakses via internet.
2). Simulasikan Presentasi Anda Sesering Mungkin
Jika perlu, gunakan fasilitas Timer yang tersedia pada aplikasi penyaji presentasi untuk memastikan ketepatan waktu pemaparan setiap slide presentasi Anda.
3). Lengkapi Sajian Presentasi dengan Materi Tambahan
Anda dapat mencetak dan mendistribusikan lembar handout, membagikan CD materi presentasi, atau bahkan menyertakan materi pendukung bagi audience. Hal ini dapat meminimalkan pecahnya perhatian audience karena harus mencatat poin-poin dan paparan Anda, menghindari tidak tertangkapnya sebagian materi presentasi yang Anda sajikan, dan tentunya menjadi salah satu media penyebaran bagi visi dan misi penyajian presentasi Anda.
D. KESIMPULAN
Setiap instruktur jika mau melakukan presentasi suatu kajian maka akan melakukan serangkaian kegiatan, yaitu : analisis persiapan yang mencakup analisis audience, bahan kajian, waktu, media, termasuk pendekatan yang digunakan; pembuatan persiapan; dan latian. Kesuksesan presentasi seseorang sangat ditentukan diantaranya oleh faktor moderator, kesiapan, dan kepercayaan diri
Keprofesionalan seorang instruktur ditentukan diantaranya oleh penguasaan bahan kajian, wawasan, sikap terhadap audience, penggunaaan alat presentasi, dan cara menanggapi pertanyaan audience. Dalam hal ini seorang instruktur mutlak untuk menguasai peralatan presentasi dan pengauasaan bahan kajian yang dipresentasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Arry Akhmad Arman. 2008, Berbagi Pengalaman ‘Teknik Presentasi’ Jakarta Maret 17, 2008
Carnegie, D. 1985. Quick and Easy Way to Effective Speaking. New York: Dale Carnegie & Associates.
Dunckel, J. & P. Elizabeth. 1995. Effective Speaking for Buisiness Success. North Van couver, Canada.
Green, G. 1998. The Magic of Public Speaking. Alih bahasa Agus Teguh H. Gramedia, Jakarta.
http://www2.telkom.net Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source Matters. All rights reserved Generated: 26 March, 2008, 09:23; 27 Maret 2008
Limited, KP. 2001, Making Effective Presentations. Manchester: Lonson NJ9NJ
Macnamara, J. R. 1996. The Modern Presenter's Handbook. Prentice Hall, Australia.
Maksum. 2007, Strategi dan Teknik Komunikasi Dalam Presentasi. Bogor : PUSTAKA
Rudolft, D.1993. Public Relations. Jakarta: Golden Trayon.
Senin, 18 Januari 2010
PERLU DIBACA ?!

PENGHASILAN GURU PNS PALING TINGGI ?
Posted on 14 Januari 2010 by H.Indra
Penghasilan guru lebih tinggi dibandingkan penghasilan yang diterima pegawai negeri sipil atau PNS lainnya. Itu terjadi karena hanya guru yang mendapatkan tunjangan kependidikan sebagai tambahan pada komponen penghasilannya.
Informasi tersebut terungkap dalam Buku Saku APBN dan Indikator Ekonomi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan. Buku tersebut diterima Kompas di Jakarta, Kamis (14/1/2010).
Tunjangan kependidikan untuk guru bergolongan II/a dengan masa kerja 10 tahun ditetapkan senilai Rp 286.000 per bulan. Oleh karenanya, jika ditambahkan dengan komponen penghasilan lainnya, maka penghasilan bersih seorang guru golongan II/a dan belum kawin akan mencapai Rp 2.489.635 per bulan.
Adapun penghasilan bersih untuk guru bergolongan tertinggi atau golongan IV/e dengan masa kerja 32 tahun dan belum kawin mencapai Rp 4.631.300 per bulan. Ini lebih tinggi dibandingkan penghasilan bersih PNS non -guru pada golongan yang sama mencapai Rp 4.244.415 per bulan.
Perbedaan itu terjadi karena guru golongan IV/e mendapatkan tunjangan kependidikan senilai Rp 389.000 per bulan. Tunjangan kependidikan ini tidak diberikan kepada PNS non-guru.
Bedanya, tunjangan beras seorang guru lebih kecil dibandingkan PNS lain. Guru dengan golongan II/a hingga IV/e menerima tunjangan beras senilai Rp 42.300 per bulan, adapun PNS dengan golongan sama menerima tunjangan beras sebesar Rp 44.415 per bulan. Ini artinya, tunjangan beras guru belum dinaikkan pada tahun 2010, karena masih menggunakan standar lama.
( Sumber : Kompas.com : 14 Januari 2010 )
DIarsipkan di bawah: Gaji PNS | Ditandai: Berita
36 KOMPETENSI INTI YANG HARUS DIKUASAI PENGAWAS AGAR MENJADI PENGAWAS SEKOLAH YANG PROFESIONAL.
Posted on 20 Mei 2009 by H.Indra
Kompetensi pengawas sekolah/madrasah yang tersirat dan tersurat dalam Permendiknas No 12 tahun 2007,terdiri atas enam(6) dimensi kompetensi yang dikembangkan menjadi 36 kompetensi inti,yang terdiri dari:
1. KOMPETENSI KEPRIBADIAN
Kompetensi kepribadian pengawas sekolah/madrasah adalah kemampuan pengawas sekolah dalam menampilkan dirinya atau performance diri sebagai pribadi yang:
(1) bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas pokoknya
(2) kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah
(3) ingin tahu hal-hal baru tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
(4) memiliki motivasi kerja dan bisa memotivasi orang lain dalam bekerja
Makna dari kompetensi kepribadian sebagaimana dikemukakan di atas adalah sikap dan perilaku yang ditampilkan pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya mengandung empat karakteristik di atas. Ini berarti sosok pribadi pengawas sekolah harus tampil beda dengan sosok pribadi yang lain dalam hal tanggung jawab, kreatifitas, rasa ingin tahu dan motivasi dalam bekerja. Sosok priba¬di tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam perilakunya.
2. KOMPETENSI SOSIAL
Kompetensi sosial pengawas sekolah adalah kemampuan pengawas sekolah dalam membina hubungan dengan berbagai pihak serta aktif dalam kegiatan organisasi profesi pengawas (APSI).
Kompetensi sosial pengawas sekolah mengindikasikan dua keterampilan yang harus dimiliki pengawas sekolah yakni(1) keterampilan berkomunikasi baik lisan atau tulisan termasuk keterampilan bergaul dan(2) keterampilan bekerja dengan orang lain baik secara individu maupun secara kelompok/ organisasi. Keterampilan ini mensyaratkan tampilnya sosok pribadi pengawas yang luwes, terbuka, mau menerima kritik serta selalu memandang positif orang lain. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial pengawas sekolah seba-gaimana dijelaskan di atas hanya tambahan dari kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial guru dan kepala sekolah Karena pengawas sekolah/madrasah berasal dari guru atau kepala sekolah sehingga kompetensi kepri-badian dan kompetensi sosial guru atau kepala sekolah sudah melekat pada dirinya.
3. KOMPETENSI SUPERVISI MANAJERIAL
Kompetensi supervisi manajerial adalah kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan mana¬jerial yakni menilai dan membina kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain yang ada di sekolah dalam mempertinggi kualitas pengelolaan dan administasi sekolah.
Standar administrasi dan pengelolaan sekolah secara konseptual dan operasional tersirat dan tersurat dalam rumusan kompetensi inti kepala sekolah (Permendiknas No. 13 Tahun 2007) khususnya pada dimensi kompetensi mana¬jerial. Selain itu dalam kompetensi manajerial pengawas sekolah, pengawas dituntut juga untuk menguasai program dan kegiatan bimbingan konseling serta memantau pelaksa-naan standar nasional pendidikan di sekolah binaannya. Untuk itu pengawas sekolah harus menguasai teori, konsep serta prinsip tentang metode dan teknik supervisi pendidikan berikut aplikasinya dalam penyusunan program dan praktek pengawasan manajerial.
Berikut ini kompetensi inti yang harus dimliki pengawas sekolah dalam dimensi kompetensi supervisi manajerial.
(1) menguasai pengetahuan tentang metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam meningkatkan mutu pendidikan
(2) menguasai teknik menyusun program pengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan sekolah binaan
(3) menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawa¬san di sekolah binaannya.
(4) teknik menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawas¬an berikutnya pada sekolah binaannya
(5) membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah
(6) membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah
(7) mendorong guru dan kepala sekolah dalam mereflek-sikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan ke-lebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya
(8) memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah mempersiapkan akreditasi sekolahnya.`
4. KOMPETENSI SUPERVISI AKADEMIK
Kompetensi supervisi akademik adalah kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan akade¬mik yakni menilai dan membina guru dalam rangka memper¬t/nggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.
Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh sebab itu sasaran supervisi akademik adalah guru dalam pro¬ses belajar mengajar (pembelajaran). Materi pokok dalam proses pembelajaran adalah (penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas). Berikut adalah kompetensi inti dari dimensi kompe¬tensi supervisi akademik.
(1) menguasai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran
(2) menguasai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan proses pembelajaran/pembimbingan tiap mata pelajaran
(3) membimbing guru dalam menyusun silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar serta prinsip-prinsip pengem-bangan KTSP
(4) membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik
pembelajaran/’bimbingan setiap mata pelajaran membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksa¬naan pembelajaran tiap mata pelajaran
(5) membimbing guru dalam menyususn rencana pelaksanaan pembelajaran tiap mata pelajaran.
(6) membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran di laboratorium dan di lapangan
(7) membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengem -bangkan dan menggunakan media serta fasilitas pembe-lajaran/bimbingan
(8) membimbing guru dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk
pembelajaran/bimbingan
5. KOMPETENSI EVALUASI PENDIDIKAN
Kompetensi evaluasi pendidikan adalah kemampuan pengawas sekolah dalam kegiatan mengumpulkan, mengo-lah, menafsirkan dan menyimpulkan data dan informasi untuk menentukan tingkat keberhasilan pendidikan.
Materi pokok kompetensi evaluasi pendidikan adalah penilaian proses dan hasil belajar, penilaian program pendi¬dikan, penilaian kinerja guru, kinerja kepala sekolah dan kinerja sekolah. Penilaian itu sendiri diartikan sebagai proses memberikan pertimbangan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Oleh sebab itu ciri dari kegiatan penilaian adalah adanya obyek yang dinilai, adanya kriteria yang dijadikan indikator keberhasilan dan adanya interpretasi dan judge¬ment. Setiap kegiatan penilaian akan menghasilkan data hasii penilaian yang harus diolah dan dianalisis untuk pengambilan keputusan.
Dimensi kompetensi evaluasi pendidikan terdiri atas enam kompetensi inti yakni:
(1) menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pembela¬jaran/bimbingan
(2) membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam
pembelajaran/bimbingan
(3) menilai kinerja kepala sekolah, guru dan staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggungjawabnya dalam meningkatkan mutu pendidikan
(4) memantau pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa serta
menganalisisnya untuk perba-ikan mutu pembelajaran/bimbingan
(5) membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran/ bimbingan
(6) mengolah dan menganalisis data hasil penilaian kinerja kepala sekolah, guru dan staf sekolah
6. KOMPETENSI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Kompetensi penelitian dan pengembangan adalah kemarnpuan pengawas sekolah dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian pendidikan/pengawasan serta menggunakan hasil-hasilnya untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan.
Penelitian adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, menafsirkan dan menyimpulkan data dan informasi untuk memecahkan masalah praktis dan atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian merupakan metode ilmiah yakni memecahkan masalah dengan menggunakan logika berpikir yang didukung oleh data empiris. Logika berpikir tampak dalam prosesnya dengan menempuh langkah-langkah yang sistematis mulai dari pengumpulan data, mengolah dan menafsirkan data, menguji data sampai menarik kesimpulan. Data dikatakan empiris sebab menggambarkan apa yang terjadi di lapangan. Dalam kompetensi penelitian materi yang perlu dikuasai pengawas sekolah antara lain pendekatan, metode dan jenis penelitian, merencanakan dan melaksa¬nakan penelitian, mengolah dan menganalisis data, menulis laporan hasil penelitian sebagai karya tulis ilmiah serta memanfaatkan hasil-hasil penelitian. Kompetensi penelitian bagi pengawas bermanfaat ganda yakni manfaat untuk dirinya sendiri agar dapat menyusun karya tulis ilmiah (KTI) berbasis penelitian dan manfaat untuk membina guru dan kepala sekolah dalam hal merencanakan dan melaksanakan penelitian khususnya penelitian tindakan.
Dimensi kompetensi penelitian dan pengembangan terdiri atas delapan kompetensi inti yakni:
(1) menguasai berbagai pendekatan, jenis dan metode penelitian dalam pendidikan
(2) menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti baik untuk keperluan tugas pengawasan maupun untuk pengembangan karir profesinya
(3) menyusun proposal penelitian pendidikan baik penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif
(4) melaksanakan penelitian pendidikan untuk pemecahan masalah pendidikan dan perumusan kebijakan pendi¬dikan yang bermanfaat bagi tugas pokok dan tanggung¬jawabnya
(5) mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif
(6) menulis karya tulis ilmiah dalam bidang pendidikan dan kepengawasan dan
memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan
(7) menyusun pedoman/panduan dan atau buku/modul yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas pengawasan
(8) memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas baik
perencanaan maupun pelaksanaannya di sekolah
Demikian ,semoga para pengawas sekolah di negeri ini akan menjadi pengawas-pengawas yang profesional dengan memahami,memiliki, dan menerapkan ke 36 butir kompetensi diatas.
Semoga!
(Sumber : Permendiknas No 12 Tahun 2007,Prof.Dr.H.Nana Sudjana:Kompetensi Pengawas Sekolah)
DIarsipkan di bawah: Kompetensi Pengawas | Ditandai: Pengawas Profesional
MEMBINA PROFESIONALISME GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS
Posted on 15 Mei 2009 by H.Indra
Banyak guru yang mengalami masalah/kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh karakteristik mata pelajaran sehingga sulit dipahami guru atau kesulitan dalam aspek-aspek teknis metodologis sehingga bahan ajar kurang dipahami peserta didik. Supervisi klinis yang dilakukan pengawas sekolah kepada guru merupakan salah satu upaya membantu guru untuk mengatasi masalah yang dialaminya dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran.
Ada tiga tahap kegiatan yang dilakukan dalam supervisi klinis yakni tahap pertemuan awal, tahap pengamatan guru mengajar, serta tahap analisis hasil pengamatan dan tindak-lanjutnya. Supervisi klinis dapat diartikan sebagai bantuan profesional kesejawatan yang diberikan kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar guru yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis mencakup tahap perencanaan, tahap pengamatan perilaku guru mengajar, serta tahap ana¬lisis perilaku dan tindak lanjut. Indikator keberhasilan pelaksanaan supervisi klinis adalah: (a) meningkatnya kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran, (b) kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru menjadi lebih baik sehingga diharapkan akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar yang dicapai siswa, dan (c) terjalinnya hubungan kolegial antara pengawas sekolah dengan guru dalam memecahkan masalah pembela¬jaran serta tugas-tugas profesinya.
(Sumber : Prof.Dr.H.Nana Sujana : SUPERVISI AKADEMIK)
DIarsipkan di bawah: Pembinaan Guru, Supervisi Klinis | Ditandai: Supervisi Klinis
7 Tanggapan
1.
gundah, di/pada Januari 10th, 2010 pada 10:07 Dikatakan: r
setelah membaca blog ini ada kawan saya yang mau tertawa tapi hanya ditahan di dalam hati sehinngga sakit perut namun keluar air mata, gimana mau klinis klinisan lha wong masalahnya pengawas lebih banyak dari pada gurunya……..? katanya lagi, yang sangat perlu diklinisi adalah pengawasnya dulu yang akan menjadi supervisernya, gitu…….lhoooooo…. selesai mendengarnya saya langsung geleng-geleng kepala.
@.Pengawasnya…dimana dulu ..dan siapa dulu ?he..he..eh.Justru lahirnya blog ini untuk memberi bantuan/sharing dengan pengawas,kepala sekolah,guru,salah satunya masukan dari anda ini,thanks
2.
Tengku Sahudra, di/pada Desember 1st, 2009 pada 12:17 Dikatakan: r
Jika penerapan supervisi klinis itu sesuai prosedur… kemungkinan besar guru tidak susah lagi dalam mengajar, karena masalah-masalah guru dalam mengajar akan ada solusinya dari sopervisor.. sehingga tujuan pendidikan akan tercapai…
@.Benar Pak Tengku,masalahnya masih banyak rekan pengawas yang kurang menguasai kompetensi Supervisi.
3.
yudhi widodoh, di/pada November 24th, 2009 pada 09:01 Dikatakan: r
tahap supervisi di sekolah dimulai dengan persiapan oleh supervisor, persiapanpersiapan meliputi data-data, alat tuk supervisi, hal yang disupervisi, pelaksanaan supervisi dan penilaian hasilsupervisi.
@.Terima kasih Pak Yudhi atas tambahannya.
4.
dyah purwati, di/pada November 23rd, 2009 pada 11:24 Dikatakan: r
Supervisi klinis/akademik sangat perlu bagi peningkatan mutu pendidik. Pelaksana Supervisi klinis yang utama adalah Kepala Sekolah (KS), dibantu guru-guru, baru pengawas sekolah. Supervisi Klinis idealnya satu semester sekali olleh KS dibantu guru-guru. Dan hasilnya analisis dan ditindak-lanjuti seterusnya di rekomendasikan pada pemangku kepentingan dan baru pengawas memprogram bersama KS supervisi klinis Jadi tidak akan terjadi pengawas bertindak sebagai “mandor” dan yang utama pengawas berperan sebagai mitra guru karena pada hakekat pengawas adalah guru. Kalau pengawasnya sebagai ” mandor” menjaga jarak itu pengawas jadul. tidak berkompeten ………. he he ayo bekerja lebih profesional
@.Siap bu !
5.
Klaudius Sonopa,a, di/pada November 21st, 2009 pada 11:38 Dikatakan: r
Kalau boleh tulisan yang akan dimuat disini adalah laporan hasil penelitian supervisi klinis sekolah-sekolah di Indonesia.
@.Terima kasih usulannya.Mudah-mudahan ke depan bisa ditampilkan.
6.
Maria Mintowati, di/pada September 11th, 2009 pada 11:52 Dikatakan: r
Dalam melakukan supervisi klinis, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut. Pertama, bagaimanakah kualitas sang supervisor, dalam hal ini pengawas. Apakah pengawas sudah memiliki kompetensi sebagai supervisor. Artinya, dalam melakukan supervisi klinis, supervisor benar-benar memahami dan menguasai tujuan supervisi klinis. kdua, bagaimana hubungan personal dan jabatan antara supervisor dan guru. Jika selama ini, pengawas bertindak sebagai “mandor” yang menjaga jarak, saat supervisi klinis dilaksanakan, bukannya guru menjadi terbantu atau ‘tersembuhkan’ dari berbagai kesulitan yang dihadapinya saat melaksanakan tugasnya sebagai guru, melainkan justru kesulitan tersebut akan semakin KRONIS.
Dari H.Indra :
Yang ibu katakan benar,makanya pengawas itu harus profesional,salah satunya harus memiliki kompetensi supervisi,Makanya pengawas itu jangan asal comot,pengawas perlu menguasai wawasan kepengawasan,
Mudah-mudahan komentar bu Maria akan memotivasi pengawas-pengawas untuk lebih meningkatkan kompetensinya.
Terima kasih.
7.
AHMAD FADLOLI, di/pada Juli 13th, 2009 pada 14:04 Dikatakan: r
Supervisi Klinis sangat dibutuhkan oleh para guru.
Melihat data empiris menurut saya ada hal yang lebih urgen lagi adalah Caracter Building . Dengan terbentuknya kesadaran terhadap para guru akan tugas dan tanggungjawabnya bukan hanya sekedar Transfer Of Knowledge tetapi sebagai Agent of change maka istilah yang umum di lapangan ” yang penting masuk kelas ” akan bisa dikurangi dan bahkan dihilangkan. Side efect dari itu semua adalah akan terbentuk budaya guru yang selalu mengupdate dirinya terhadap tugas dan fungsinya sebagi pendidik dengan selalu berusaha unutk bekerja lebih baik serta memberikan pelayanan terbaik terhadap peserta didik. Mudah-mudahan. Amien
Dari H.Indra.K :
Terima kasih atas masukannya,
Jadwal Ujian Nasional Tahun 2009
Posted on 12 Desember 2009 by H.Indra
Berdasarkan surat Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 178/MPN/HK/2009 tanggal 03 Desember 2009 perihal: Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2009/2010, maka dengan ini diberitahukan bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) akan menyelenggarakan UN pada tahun 2010 dengan jadwal sebagai berikut:
Jadwal Ujian Nasional SMA/MA, SMALB, dan SMK Tahun Pelajaran 2009/2010
• UN Utama (22 – 26 Maret 2010)
• UN Susulan (29 Maret – 5 April 2010)
• UN Ulangan (10 – 14 Mei 2010)
Jadwal Ujian Nasional SMP/MTs dan SMPLB Tahun Pelajaran 2009/2010
• UN Utama (29 Maret – 1 April 2010)
• UN Susulan (5 – 8 April 2010)
• UN Ulangan (17 – 20 Mei 2010)
Jadwal UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 SD/MI dan SDLB
• UN Utama (4 – 6 Mei 2010)
• UN Susulan (10 – 12 Mei 2010
Mata pelajaran yang diujikan sama seperti tahun lalu kecuali program keagamaan untuk MA. Kriteria kelulusan sama seperti tahun lalu. Peserta didik mengikuti UN di sekolah penyelenggara masing – masing dengan sistem pengawasan acak dan ada ujian ulangan.
Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut silakan menghubungi:
BSNP
Gedung D Lantai 2
Mandikdasmen
Jl. RS Fatmawati, Cipete
Jakarta Selatan
Telp. (021) 7668590
Faks. (021) 7668591
( Sumber :http://www.depdiknas.go.id/)
DIarsipkan di bawah: Kompetensi Pengawas Sekolah | Ditandai: Informasi Ujian Nasional
« Berbagai Argumentasi Para Pakar, Pemerhati, Praktisi Pendidikan, Orangtua, dan Siswa Untuk Menggugat Kebijakan Ujian Nasional Prosedur Operasi Standar (POS) UN SD/MI/SMP/Mts/SMK/SMA/MA Tahun 2009/2010 »
3 Tanggapan
1.
YANTO,S.Pd, di/pada Januari 10th, 2010 pada 14:41 Dikatakan: r
POKOKNYA…HAPUSKAN UN !!!!!!
@.Ya ,gimana caranya ,Pak? .Pemerintah ngotot mau UN aja.
2.
Entis Sutisna, di/pada Desember 26th, 2009 pada 22:20 Dikatakan: r
POS UN 2010 silahkan download di: http://www.gurutisna.wordpress.com
@.Pak Tisna terima kasih infonya.Trims.
3.
Abdul Wahab, di/pada Desember 14th, 2009 pada 23:33 Dikatakan: r
mari kita sambut menjelang pelaksanaan ujian nasional, dan awsi pelaksanaannya supaya berjalan dengan lancar seperti yang oleh semua pihak
@.Siap,Pak.
Forum Pengawas/Guru
Sampai saat ini kita masih merasakan bahwa dimana-mana posisi pengawas sekolah itu masih termarjinalkan dari sistim pendidikan kita,padahal kalau dilihat dari tugas pokok dan fungsi pengawas bahwa tugas pengawas adalah melaksanakan supervisi akademik dan manajerial di sekolah binaannya agar mutu pembelajaran guru dan proses pelaksanaan manajemen kepala sekolah berjalan optimal sehingga mutu pendidikan meningkat.Peran pengawas sekolah sebagai penjamin mutu pendidikan di sekolah binaanya dinilai sangat stategis.Pengawas sekolah semestinya dijadikan tangan kanan kepala dinas pendidikan dalam mengendalikan mutu pendidikan di sekolah,mengawal pelaksanaan delapan standar nasional pendidikan terutama di dalamnya mengawal kinerja guru dan kepala sekolah.
Namun apa gerangan yang terjadi di lapangan? Prof.Dr.Nana Sudjana dalam makalahnya:Pengawas Sekolah Antara Harapan dan Kenyataan;mengatakan:Pengawas sekolah ibarat tanaman yang hidup enggan mati pun tak mau.Pengawas sekolah diabaikan,dilirik sebelah mata ,tak berdaya dan tak diberdayakan,tersingkirkan dan tak dipikirkan.Bahkan ketua APSI propinsi Jawa Barat,Drs.Yadi Rochyadi,M.Sc mengatakan bahwa “pengawas itu diperlukan,tapi kadang-kadang terlupakan”
Betulkah bahwa gambaran pengawas di negeri tercinta ini seperti itu?Silahkan rekan-rekan menanggapi dan mengomentarinya.Melalui forum ini mari kita tingkatkan harkat dan martabat pengawas di negeri ini.Bravo Pengawas! Bravo Guru ! Bravo Pendidikan!!
26 Tanggapan
1.
sri wahyuni dyah p, di/pada Januari 10th, 2010 pada 17:51 Dikatakan: r
ya …. itulah kenyataan Indonesia kita, Dinas Pendidikan kab/kota semua sudah tahu, membaca, memahami, semua uu, pp, permen yang mennyangkut pendidikan.
Aku masih untung diberi meja untuk menyelesai tuags2ku dan menyimpan arsip-arsip supevisiku, aku masih untung ruangan pengawas sudah ber AC, aku masih untung …………………. dan aku akan lebih beruntung kalau kepedulian Kepala Dinas bahwa aku bukan sekedar pengguni ruangan ber AC, meja jati tempatku menulis akan tetapi aku adalah tangan kanannya didunia persekolahan, khususnya sekolah binaan. dan jangan pandang aku dengan sebelah matamu akan tetapi tataplah aku dengan kedua matamu. dan berdayakan aku sesuai TUPOKSIKU
@. Bu Sri,nampaknya kalau nunggu diberdayakan perlu proses bagi mereka,lebih baik kita memberdyakan diri di tahun 2010 ini,Setuju ? Sukses buat pengawas !
2.
nafilah alis, di/pada Januari 8th, 2010 pada 10:05 Dikatakan: r
alhamdulillah pak haji sertifikasi pengawas Depag sudah mulai berjalan secara merata, meskipun belum terekrut semuanya. By the way, barangkali permendikna no.63 th 2009 menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kita pengawas untuk memposisikan diri sebagai pejabat fungsional yang benar-benar berdaya. bukankah kesempatan itu yang selalu kita tunggu ? mudah2an permen tsb dapat terimplementasikan secara proporsional dan profesional, terutama oleh para birokrat pendidikan sebagai pejabat yang berwenang memfasilitasi berbagai kebijakan pemerintah. Selamat berjuang kawan-kawan pengawas.
@.Alhamdulillah Bu Nafilah kalau urusan sertifikasi di depag sudah merata,setidak-tidaknya teman-teman pengawas di depag sudah banyak yang yang terekrut.ya mudah-mudahan dengan lahirnya permendiknas no 63 tahun 2009 tentang penjaminan mutu pendidikan akan membuat para pengawas bangkit dan berdya di tahun 2010 ini. Nuhun Bu atas komentarnya.
3.
asutardi, di/pada Januari 7th, 2010 pada 06:40 Dikatakan: r
Pengawas sekolah “wajib”menandatangani DP3, sesuai tuntutan Permendiknas 12/2007dan PP 74/2008, kalaupun ada sebagian kabupaten/kota “melarang” pengawas menandatangani DP3 Guru dan Ks, itu hanya akal-akalan birokrat pendidikan, dikiranya DP3 proyek basah yang dapat menghasilkan banyak duit.Duh nasib Pengawas….
@.Benar Pak Asutardi,malah di kabupaten saya juga hanya sebatas “Memaraf”.
4.
pak rudy, di/pada Desember 29th, 2009 pada 07:50 Dikatakan: r
Salam Kenal Pak Pengawas
semoga isinya menambah khazanah pengetahuan mengenai supervisi pendidikan dan pengembangannya bagi persekolahan dan tentu saja berguna bagi kepala sekolah, pengawas, juga calon kepsek dan calon pengawas sekolah.
Terima kasih sudah menghadirkan blog unik ini.
Salam
@.Terima kasih Pak Rudy atas kunjungannya,yg jelas ini pengawas belajar ngeblog…biar bisa sharing ilmu pendidikan.
5.
budisan68, di/pada Desember 27th, 2009 pada 23:15 Dikatakan: r
seandainya semua pengawas pada ngeblog seperti ini, wah pendidikan indonesia akan cepat maju
@.Benar Pak Bud,tinggal kepala sekolah yang belum ngeblog nich?
6.
iskandar, di/pada Desember 27th, 2009 pada 22:29 Dikatakan: r
Rasanya pengawas sekolah itu pelengkap kantor diknas saja. Saran dan usulnya jarang jadi patokan kebikan pemda
@.Justru pengawas harus merubah paradigma dan berubah untuk diperhitungkan pemda.
7.
Priyatno Santoso, di/pada Desember 25th, 2009 pada 00:33 Dikatakan: r
prokontra ujian nasional terus saja menghiasi media. Bagaimana pendapat teman-temanpengawas? Kalau menurut ku UN tetap jalan terus, terlepas dari berbagai kekurangan UN.
@.Pada prinsipnya UN terus diadakan,tetapi rubah sistemnya.
8.
JauhariEffedi, di/pada Desember 14th, 2009 pada 12:24 Dikatakan: r
Permen no.63 th 2009 tentang Sistem penjaminan mutu pendidikan telah ada. Saya usul dan menghimbau kepada semua rekan pengawas sekolah Indonesia di seluruh dunia untuk turut memback up pelaksanaannya.Dan menghadiri MUSYAWARAH NASIONAL PENGAWAS SEKOLAH(kalau ada-atau kita laksanakan sendiri), untuk menyikapinya.
@.Terima kasih Pak Jauhari infonya.Mari kita dukung!
9.
engliaerfi, di/pada November 16th, 2009 pada 10:01 Dikatakan: r
1. Bapak Dedi Kusnadi yth, ditempat kami memang kita tidak lagi menandatangani DP 3 guru dan kepala sekolah pada daftar DP 3, akan tetapi lembar penjabaran penilaian harus disetujui dulu oleh pengawas dengan membubuhkan tanda tangan. Pejabat yang berwenang baru mau menandatangani DP 3 tersebut..Sebab yang melihat pekarjaan guru dan kepala sekolah dilapangan adalah para pengawas. Dengan demikian terjalinlah kerjasama yang baik dilingkungan Dinas Pendidikan dan pengawas tetap mendapat tempat yang layak sebagaimana biasanya.
2. Kebijakan daerah masing-masing, dan kami merasa bahwa kami tidak dimarjinalkan, karena pejabat tidak akan mau menandatangani DP 3 jika tidak dilengkapi dengan penjabarannya. Tinggal bagaimana Koorwas mencoba mengkomunikannya dengan pimpinan. Sampaikanlah Permen Diknas No. 12 tahun 2003 tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah, mudah-mudahan pimpinan Bapak dapat memahaminya.Semoga…….
…….
@.Jawaban bapak sangat mantap dan mudah-mudahan dapat meyakinkan rekan-rekan pengawas agar lebih percaya diri,mohon maaf,ralat : permendiknas no 12 tahun 2007,bukan 2003.Terima kasih.
10.
Dedi Kusnadi, di/pada November 15th, 2009 pada 20:01 Dikatakan: r
Ass, Wr.Wb.
Mulai tahun 2009, pengawas di daerah kami tidak menandatangani DP3 untuk guru maupun untuk kepala sekolah SD.
Yang jadi pertanyaan :
1. Apakah di daerah yang lain sama?
2. Apa yang menjadi dasar hukum yang bisa dijadikan acuan buat kami?
terimakasih mohon sumbang saran dari semua rekan para pengawas di tanah air tercinta, sebab dgn kejadian tersebut diatas “para pengawas” di darah kami seperti termarjinalkan.
Wassalam,-
@.waalaikum salam,pertanyaan bapak sudah terjawab oleh Pak Engliaerfi.
Terima kasih,
11.
Kinaryo, di/pada Oktober 19th, 2009 pada 12:49 Dikatakan: r
Pengawas seharusnya punya payung hukum yang jelas sehingga tidak dapat digoyang oleh oknum pejabat.
-Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan
1. Apa benar setiap semester guru honor/bantu harus
membuat surat lamaran kerja ?
2. Apa benar S1 tataboga dapat diterima mengajar
di SD ?
Mohon penjelasan,terima kasih.
@. Kalau payung hukumnya : Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 1 18 tahun 1996 tentang jabatan Fungsional Pengawas dan angka kreditnya.Tapi di era otonomi sekarang tergantung “warna” pemimpin daerahnya.Jawaban : 1) Sepanjang pengetahuan saya tidak demikian 2).Kalau S1 pasti bisa,tapi tergantung kebutuhan sekolahnya.Terima kasih.
12.
Budhi Utomo, di/pada Oktober 17th, 2009 pada 00:33 Dikatakan: r
Saya selaku pendidik bangga dengan gaung pengawas yang semakin memposisigkan diri sesuain dengan tupoksinya, apalagi sudah adaa pp yg mengatur rekrutmen pengawas .Salam untuk para pendidik anak bangsa !
@.Terima kasih pak Budi,Semoga harapan kita ,para pendidik,jadi kenyataan.
13.
Berlina, di/pada Oktober 15th, 2009 pada 08:28 Dikatakan: r
Menurut saya,persoalan pengawas sama aja dengan guru saat ini. Tergantung individunya, ada yang menunggu diberdayakan, ada yang lebih kreatif memberdayakan diri sendiri..karena sadar akan potensi dirinya dan sadar akan tanggung-jawabnya. Sertifikasi guru dan pengawaspun sekarang menjadi sesuatu yang harus dikejar…..Semoga pengawas yang terbiasa memberdayakan dirinya sendirilah yang mendapat prioritas Sertifikasi.
@. Benar sekali Bu Berlina,kalau menunggu diberdayakan malah pengawas dan guru jadi tidak berdaya,Sebaiknya jadilah pengawas/guru yang kreatif.Semoga.
14.
bambang, di/pada Oktober 12th, 2009 pada 18:56 Dikatakan: r
Ya, semoga saja jeritan hati para pengawas sekolah dapat didengar oleh para pengambil kebijakan ya Pak (baik di daerah maupun di tingkat Nasional), amiiin.
@.Amiin,Insya Allah,Pada saatnya jabatan pengawas akan diperebutkan oleh guru dan Kepala Sekolah.
15.
JauhariEffedi, di/pada September 30th, 2009 pada 12:03 Dikatakan: r
Hallo Pak Mikdam, apa maksud sampeyan pengawas harus memiliki manajemen sendiri ? apa mau menyaingi Kapala dinas seperti banyak dibicarakan teman2, namun saya pikir-pikir betul juga. Mungkin kita usul LPMP di Kabupaten.gimana pak H,Indra ?
@ wah,Pak Jauhari itu usulan hebat.Ceritanya kan kita kepanjangan tangan LPMP di Kabupaten,tapi nyatanya kita kurang diberdayakan LPMP.
16.
Mikdam Mustpa, di/pada September 20th, 2009 pada 10:33 Dikatakan: r
Pengawas pada era desentralisasi sekarang ini harus memiliki manajemen sendiri yang pandai menterjemahkan permendiknas 12 tentang tupoksi kepengawasan. Setelah diterjemahkan kemudian direfleksikan dalam bentuk perencanaan dan action berdasarkan need analysis dari sekolah-sekolah yang dibina.
Dari H.Indra :
Nah,mudah-mudahan rekan-rekan pengawas membaca komentar Pak Mikdam ini.Terima kasih Pak,Apa sekarang pak masih tugas di Bandung ?Selamat Lebaran!
Salam,
17.
JauhariEffedi, di/pada September 10th, 2009 pada 10:24 Dikatakan: r
sekali lagi pengawas sekarang jangan direkrut dengan asal comot, guru atau kepsek bermasalah jadi pengawas atau malah pejabat struktural jadi pengawas agar bisa memperpanjang usia pensiun.Saring, test, seleksi dong calon yang akan jadi pengawas sekolah. Pengawas diperlukan berpendidikan S2, mantan kepala sekolah dan guru senior berprestasi. Setuju kagak ?
Dari H.Indra :
Pak Jauhari,kami pengawas setuju sekali dengan pendapat bapak.Tapi yang jadi masalah di hampir semua daerah, ya itulah masih adanya KKN,jadi menentukan jabatan seseorang tergantung selera penguasa?
18.
JahariEffedi, di/pada September 10th, 2009 pada 10:17 Dikatakan: r
Wak Haji Yth.
Saya sekarang kurang setuju seperti itu,pengawas jangan waiting and see tapi aktif dan jemput bola memberdayakan diri sendiri, kerja yang baik bikin program baik tahunan maupun smester, bila kita proaktif, pengawas tidak akan dipandang sebelah mata.perkuat kebersamaan, hidupkan APSI,MKPSM,lebih vokal nggak apa-apa demi peningkatan mutu kan udah ada UU tetang guru dan dosen dan PP tentang guru. selamat berjuang !!!
Dari H.Indra :
Benar sekali apa yang bapak katakan itu,Di daerah saya juga kami sedang berusaha memberdayakan diri sendiri.Dan mudah-mudahan rekan-rekan pengawas yang lain banyak yang membaca komentar bapak ini,terinspirasi dan yang penting : Action ! Action! Action !
Salam,
19.
darmo sudarsono, di/pada Agustus 31st, 2009 pada 05:13 Dikatakan: r
ya,seperti itulah pengawas ,setidaknya apa yang saya rasakan
Dari H.Indra :
Ke depan mah Insya Allah pak jabatan pengawas akan diperebutkan,apalagi kalau periodisasi kepala sekolah sudah diterapkan di Karawang.
Selamat Berjuang !
20.
nafilah alis, di/pada Agustus 7th, 2009 pada 14:04 Dikatakan: r
p.H.Indra barangkali ada Assessor dr Tasik di sana sekarang ? Bisa sharing. Selamat bertugas. Tahun-tahun yll saya juga Asesor. Tahun ini diistirahatkan. Mangga wilujeng. Leres sim kuring ti Tasik pa haji.
Dari H.Indra :
Kebetulan aseor disana dari Karawang dan Kota Bekasi.
Hatur Nuhun.
21.
nafilah alis, di/pada Agustus 5th, 2009 pada 15:59 Dikatakan: r
ass.w.w.P.haji, jadi pengawas harus bermental baja. cobaan demi cobaan datang beruntun. setelah kecewa dengan sertifikasi yg blm berpihak. kini dikecwakan dengan Progrm Akreditasi Sekolah/Madrasah. Masa dari jumlah pengawas depag kota tsm 11 orang, dan jumlah madrasah yg diakreditasi 33, hanya 3 orang pengawas yg terekrut jadi Assessor. Bagaimana rumusnya ? Lagi-lagi kami pengawas yg diabaikan. Yang adil dan proporsional aja. Siapa yg paling berkompeten dlm hal ini ? Ah bicara soal kepengawasan banyak kecewanya, mending kalau didengar. Tapi mudah-mudahan para pengawas ini di akhir karirnya bisa husnul khotimah kayak mbah Surip ha..ha..ha..ha..
Dari H.Indra :
Waalaikum salam,Bu Nafilah,
Mungkin dewi fortuna belum berpihak ke ibu nafilah dkk,ya yg paling berkompeten ya UPA disono(ibu teh di Tasik?)Alhamdulillah,kalau di Karawang mah semua pengawas SMP/A/SMPK semua asesor,saya juga ceritanya ini lagi bertugas di Kab.Bekasi.Tenang aja bu,Insya Allah suatu saat segala sesuatunya akan berpihak ke ibu.Insya Allah,Amiiin.
22.
nafilah alis, di/pada Juli 21st, 2009 pada 21:55 Dikatakan: r
Saat Seminar APSI digelar Maret yll. Seluruh pengawas tersenyum penuh ma’na. Bagaimana tidak, dari dirjen PMPTK tercetus bahwa, seluruh pengawas akan disertifikasi tahun 2009 ini. Pendataan dan pendaftaran pun sibuk dilakukan seluruh pengawas baik di lingkungan Diknas maupun di lingkungan Depag. Tapi faktanya, mengapa dibatasi dengan kuota. Dan, yang terjadi dari sekitar 500 pengawas Depag di Jawa Barat hanya 87 kuotanya. Itupun terfokus di Bandung dan Cianjur. Ironisnya dari 87 itu, sebanyak 45 orang tidak dapat diisi sebab pengawasnya sudah pensiun dan ada yang sudah meninggal. Aneh kan ? Data tahun mana yang dijadikan dasar ? Apa dan siapa yang salah ? Yang pasti lagi-lagi pengawas, yang dirugikan. Padahal semua tentu tidak meragukan perihal senioritas pengawas, yang seharusnya lebih dahulu disertifikasi dibanding guru dan Kepala sekolah. Makin lengkaplah penderitaanmu wahai pengawas. Kemana lagi harus mengadu ? Senyum itupun bermakna seribu kecewa, kesal, dan ………..
Dari H.Indra :
Selamat datang kembali bu di blog ini.Blog ini selalu menanti komentar-komentar ibu yang pemikiran dan analisa nya selalu tajam.Sejujurnya sebagai sesama pengawas sedih mendengar cerita rekan-rekan pengawas di depag.saya juga tidak paham,kenapa kebijakan depag tidak berpihak kepada pengawas.Padahal pengawas lah yang harus didahulukan sertifikasi itu.Tapi,mari kita terus berjuang bu agar sistim sertifikasi di depag lebih rasional,profesional,dan berpihak kepada pengawas.
Amin,
23.
nana maulana, di/pada Juli 1st, 2009 pada 09:10 Dikatakan: r
Assalamualaikum Wr.Wb
Smg kabar Pak Haji Selalau dalam perlindungan Allh SWT.
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan
1. Apakah kriteria pengajuan sertifikasi guru
2. Apakah kriteria pengajuan sertifikasi guru sama dengan kabupaten lain
Terima kasih! Salut buat forum ini
Wassalamualaikum. Telukjambe timur !
Dari H.Indra :
Waalaikum salam,wah ditunggu-tunggu baru nongol nih.Terima kasih bapak telah bergabung di Blog Pengawas Indonesia:
1.Menurut Permendiknas no 18 tahun 2007,Sertifikasi dapat diikuti oleh guru dalam jabatan yang telah
memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV).
2.Kriteria secara nasional sama,cuma karena peserta banyak, tiap kab./kota dibatasi oleh quota.Untuk
memenuhi quota ini,peserta harus diseleksi,salah satu kriterianya yakni dengan masa kerja.
Terima kasih,salam buat rekan2 di SMPN TLJ Timur.
24.
apsijatim07, di/pada Mei 30th, 2009 pada 18:53 Dikatakan: r
Ya memang kondisi pengawas sampai saat ini seperti itu, kasihan deehhhh gua tidak ada yang mau memperhatikan, salah satu solusi memang APSI daerah harus berjuang untuk menindaklanjuti Permen 12 tahun 2007 melalui forum nya dengan opsi peraturan gubernur atau peraturan daerah, memang selama otonomi daerah para pejabat birokrat di dinas pendidikannya saja tidak ada komen tidak tahu/mau tahu akan hal itu. saya sendiri sebagai ketua apsi jatim sudah berulangkali menyampaikan pada setiap forum, tapi kenyataannya yaaa seperti itu, pengawas dianggap sebagai transit pada masa pensiun, yang kasihan lagi mereka tidak pernah hadir dalam lembaga pendidikan.
Dari H.Indra :
Suatu kehormatan bapak sebagai Ketua APSI Jatim sudah mengunjungi Blog Pengawas Indonesia.Memang demikianlah gambaran pengawas di negeri ini,Tapi terobosan yang dibuat APSI sudah banyak manfaatnya bagi kami.Mudah-mudahan bapak tidak bosan untuk berjuang terus agar harkat dan martabat pengawas akan terus meningkat.
25.
Dede Nana Zohari, di/pada Mei 29th, 2009 pada 14:19 Dikatakan: r
Beberapa hal yang menjadi alasan sehingga kurang berdayanya pengawas diantaranya adalah :
1. Kompetensi Pengawas, Posisi jabatan fungsional ini banyak di Kokab diisi oleh orang yang kurang kapabel dalam artian jauh dari kemestian seperti yang diamanatkan PP.No.12. Banyak dari Rekan pengawas yang berasal dari pejabat yang mengulur usia pensiun, sehingga dapat kita prediksi bagaimana kinerja mereka, masih mending kalau latar belakang pekerjaan dahulunya pernah mengajar……
Hal lain banyak juga pengawas yang berasal dari guru yang memiliki kualifikasi akademik yang tidak sesuai dengan Mata Pelajaran yang akan diampunya nanti, (Missmatch) hal ini akan merepotkannya sendiri ketika berhadapan dengan MGMP dalam konteks kompetensi akademik.
2. Sosialisasi mengenai Permendiknas No12 2007 ini tidak menyebar ke semua lini di Diknas Kokab…. sehingga banyak sekali Kepala sekolah dan pejabat apalagi guru yang menganggap bahwa pengawas ini hanya pengawas mata pelajaran bukan pengawas satuan pendidikan…..jelaslah hal ini akan merepotkan pengawas sendiri dalam menjalankan tugasnya. Hal ini pula yang menyebabkan Martabat Pengawas tidak sebagaimana mestinya.
Dari H.Indra :
Betul sekali semua yang dikatakan Pak Dede.Kenyataan di lapangan seperti itu(Mungkin di kota Tasikmalaya juga begitu ya pak?).Tapi mudah-mudahan Kab/kota bisa merespon Permendiknas No 12,sehingga dalam rekruitment pengawas tidak asal comot saja tapi berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan pengawas.Tapi ke depan saya optimis pengawas akan menjadi Jabatan Fungsional yang diperebutkan,Apalagi kalau Periodisasi kepsek sudah diberlakukan di semua kokab.
Semoga.
26.
nafilah alis, di/pada April 19th, 2009 pada 17:31 Dikatakan: r
Benar sekali gambaran tentang kondisi pengawas seperti itu. Sistem tidak kondusif bagi efektifitas kinerja pengawas. Sejak dari proses rekruitmen yang tidak berbasis prestasi kinerja dan kompetensi, pemberdayaan pengawas yang nyaris luput dari bidikan para pejabat struktural, dan program peningkatan kompetensi pengawas yang tidak optimal. Selain faktor-faktor eksternal di atas, dari pengawas itu sendiri kurang termotivasi untuk melakukan inovasi-inovasi terkait dengan TUPOKSI nya , serta langkah-langkah lain guna meningkatkan kompetensinya sebagai superviser di bidang akademik dan bidang manajerial. Semoga sertifikasi pengawas menjadi salah satu jawaban solusinya, meskipun masih perlu dibuktikan.
MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN MODEL TIM (TEAM TEACHING)
Posted on 10 September 2009 by H.Indra
Seorang guru SMP di Sumenep kab.Madura pernah mengajukan pertanyaan pada rubrik Metropolis di Jawa Pos.com,Pak Suedi S.Pd,demikian nama guru tersebut,beliau menanyakan bagaimana cara melaksanakan pengajaran secara Tim dengan benar,berikut ini saya kutip jawaban selengkapnya dari Drs.Martadi Msn:
Permasalahan yang Bapak rasakan merupakan permasalahan umum yang dialami guru bidang studi yang hanya memiliki rombongan belajar kecil, sementara jumlah gurunya terlalu banyak. Padahal, minimal mengajar 24 jam merupakan persyaratan pokok untuk dapat mencairkan tunjangan profesi bagi guru yang telah lulus sertifikasi. Sebagai salah satu solusinya, sudah banyak sekolah menerapkan pola Team Teaching).
Team teaching dapat dimaknai sebagai:
1) Pembelajaran pada sekelompok murid dalam satu mata pelajaran yang diajarkan lebih dari satu guru, secara terpisah, pembagian tugas berdasar materi yang disepakati, sesuai dengan kemampuan/bidang keahlian,
2) Pembelajaran satu mata pelajaran pada sejumlah kelas oleh sejumlah guru, dengan pembagian tugas per kelas/satu guru, dan
3) Pembelajaran satu mata pelajaran pada sekelompok murid/satu kelas, oleh dua orang atau lebih, bersama, bekerja sama, berkolaborasi antara guru-murid dalam waktu pertemuan yang sama. Team teaching juga dikenal dengan istilah mengajar dalam satu tim (lebih dari satu orang), pengajaran beregu, atau collaborative teaching. Pelaksanaan team teaching dapat dilakukan melalui berberapa pola antara lain:
1) Sejumlah guru mengajarkan mata pelajaran sama, di kelas berbeda-beda (bahasa Indonesia, matematika, fisika, ilmu pendidikan, sejarah). Perencanaan materi, bahan ajar, atau hand out dilakukan bersama-sama, penyajian dan evaluasi dilakukan secara berbeda (sendiri-sendiri).
2) Setiap guru melakukan perencanaan, menentukan materi, penyajian, dan evaluasi secara sendiri-sendiri, lalu hasil evaluasi digabung.
3) Satu mata pelajaran (teori/praktik) diajarkan tiga orang guru secara bersama-sama, mulai perencanaan, pelaksanaan, penilaian bersama-sama secara variatif.
4) Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi kelompok atau membimbing latihan individual.
5) Anggota team teaching secara bergantian menyajikan topik atau materi. Diskusi dan tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi jawaban dari anggota tim.
6) Seorang guru (senior) menyajikan langkah-latihan, observasi, praktik dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok, setiap kelompok dipandu seorang guru (fasilitator). Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan laporan (lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.
Ada baiknya team teaching sekaligus dioptimalkan sebagai bentuk implementasi lesson studi untuk memperbaiki pembelajaran dan hasilnya bisa dituliskan dalam bentuk laporan penelitian tindakan kelas. Dengan demikian, team teaching bisa sekaligus mengatasi masalah kekurangan jam mengajar, dan menambah karya tulis ilmiah, baik untuk keperluan melengkapi dokumen portofolio maupun untuk keperluan kenaikan pangkat ke golongan IV/a atau IV/b.Selamat melaksanakan Tim Teaching(*/Hud)
Sumber : Jawa Pos, 30 januari 2009,Tulisan ini dimuat juga di situs Klub Guru Indonesia )
DIarsipkan di bawah: Model Pembelajaran | Ditandai: Model Pembelajaran Guru
« PERMENDIKNAS NOMOR 39 TAHUN 2009 Mendiknas: Mulai 2010 TUNJANGAN PROFESI GURU PNS PERIODE 2007 DAN 2008 DIBAYARKAN MELALUI BUPATI »
3 Tanggapan
1.
dyah purwati, di/pada November 22nd, 2009 pada 16:26 Dikatakan: r
Dengan team teaching sekaligus dioptimalkan sebagai bentuk implementasi lesson studi untuk memperbaiki pembelajaran sangat setuju banget, apalagi untuk semua mata pelajaran. Lebih dari 24 jam, siapa takut, tidak apa-2, Di era tahun 80 an guru mengajar 2-3 mata pelajaran dan beban kerja lebih 36 tatap muka, juga tidak tambahan insentif. Ayo yang penting semangat memajukan bangsa, di era krisis multidimensi ini, yang kita punya hanya tinggal guru di garis depan
@. Setuju sekali dengan Bu Dyah.Mudah-mudahan banyak guru yang baca komentar ibu ini.Trims.
2.
Uun, di/pada Oktober 11th, 2009 pada 20:22 Dikatakan: r
Wah kebetulan sekali, saat ini saya juga sedang mengerjakan thesis yang berkaitan dengan team teaching. Memang pada kenyataannya, solusi ini sangat bagus sekali diterapkan di sekolah-sekolah (SEPAKAT dengan bu Lastri) tapi yang saya sesalkan kebanyakan guru atau kebijakan sekolah menerapkan sistem ini karena munculnya Peraturan Menteri yang baru berkaitan dengan tuntutan beban mengajar seminggu selama 24 jam. Tu sangat disayangkan sekali. Di Jepang, team teaching sudah diberlakukan tapi dengan tujuan untuk mneingkatkan kualitas pendidikan disana.
Saya sangat berharap, kita bisa mencontoh hal baik tersebut.
Untuk semua guru Indonesia, walaupun sebagai tuntutan beban mengajar tapi alangkah baiknya kita meluruskan kembali niatan kita dalam mendidik generasi kita saat ini, sepeti yang termaktub dalam UUD’45: “Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa”
SEMANGAT buat asemua guru Indonesia!!!
@.Sepakat Bu Uun,mari kita terapkan hal-hal yang baiknya untuk meningkatkan kualitas pendidikan,semoga thesisnya lancar dan dapat menyumbangkan ilmu untuk kemajuan pendidikan kita.
3.
Sulastri, di/pada Oktober 1st, 2009 pada 18:21 Dikatakan: r
Solusi yg bagus,tapi jangan hanya sekedar memenuhi beban mengajar 24 jam saja,tapi perhatikan proses nya agar mutu mengajar tetap optimal.
@ Bener bu Lastri,setuju.
ANTARA LESSON-STUDY,BETTER TEACHING AND LEARNING(BTL),DAN BERMUTU.
Posted on 3 April 2009 by H.Indra
Pelatihan Guru
Sampai sejauh ini sudah banyak upaya pemerintah kita untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air.Melalui berbagai luncuran program andalan dalam bentuk pelatihan guru,kepala sekolah,dan bahkan pengawas sekolah telah dilaksanakan di berbagai pelosok Nusantara.Banyak diantara program pemerintah yang notabene merupakan program bantuan dari perusahaan swasta,dan bantuan luar negeri,bahkan bantuan dari LSM luar negeri yang peduli terhadap pendidikan di negeri ini.
Sebut saja program DBE (Decentralized Basic Education) yang merupakan bantuan pendidikan dari masyarakat Amerika melalui LSM USAID ,telah memberikan bantuan pendidikan dalam bentuk pelatihan kepada Guru-guru PKn dan B.Inggris sejak tahun 2007 yang sampai saat ini sudah memasuki tahap DBE3,selain pelatihan berbasis modul yang diberikan kepada guru-guru 2 mata pelajaran tersebut,juga DBE meluncurkan pelatihan yang disebut BTL(Better Teaching and Learning) yang menuntut kreatifitas guru pra-KBM dan bertindak sebagai fasilitator di kelas sehingga siswa digiring untuk aktif berperan dalam proses pembelajaran.
Sampoerna Foundation melalui Teacher’s Institute nya yang bekerja sama dengan Universitas Pendidikan (UPI) Bandung juga telah menyumbangkan program pelatihan guru yang berbasis Lesson Study (LS),dalam pelatihan ini seorang guru tampil sebagai guru model di kelas,kemudian diamati oleh beberapa orang guru yang bertindak sebagai observer,setelah usai barulah antara guru model,guru-guru observer,dan Tutor dari UPI mengadakan refleksi untuk mendiskusikan penampilan guru model tadi.
Yang tak kalah serunya,pemerintah pusat juga meluncurkan sebuah program untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru yang disebut “Bermutu”(Better Education Through Reinforcement Management and Universal Teacher Upgrading).Sekalipun baru tahap konsolidasi dan sosialisasi yang mana program ini akan mulai bergulir bulan ini (katanya). Mana yang paling efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan kita.Silahkan anda yang menilai.
DIarsipkan di bawah: Model Pembelajaran | Ditandai: Model Pembelajaran Guru
HARAPAN DARI PELUNCURAN PROGRAM “BERMUTU”
Posted on 3 April 2009 by H.Indra
Program BERMUTU ( Better Education Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading ) merupakan kerjasama Pemerintah RI,Bank Dunia,serta hibah pemerintah Belanda,telah diluncurkan oleh Mendiknas tanggal 18 Desember 2007 .Program tersebut diluncurkan kepada 75 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Pelatihan Bermutu
Kabupaten Karawang salah satu calon yang akan mendapat program Bermutu tersebut salah satunya diperuntukan bagi Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) dalam bentuk block grant,Dana bantuan Langsung (DBL).Jumlah ideal MKPS yang akan mendapat dana bantuan langsung ini harus ada 24 orang pengawas.Jumlah pengawas di kabupaten Karawang hanya 12 orang pengawas SMP.( 8 orang lainnya merupakan pengawas SMA dan SMK ) ,dengan demikian maka 12 orang pengawas tersebut akan melakukan pendampingan kepada 6 kelompok MGMP.
Kondisi pengawas di kabupaten Karawang sampai sejauh ini belum optimal dalam melaksanakan tugas kepengawasannya,hal ini disebabkan oleh banyak faktor,diantaranya; belum ada kontribusi dan kurangnya perhatian dari Pemerintah daerah,kurangnya dukungan dana operasional untuk melaksanakan tugas kepengawasan,profesionalisme pengawas masih perlu ditingkatkan terus.
Permendiknas no. 12 tahun 2007 mengisyaratkan bahwa pengawas harus memiliki kompetensi,selain kompetensi kepribadian,sosial juga kompetensi supervisi,baik supervisi Akademik,maupun supervisi manajerial yang sebenarnya menjadi tugas pokok.Selain itu dituntut pula untuk melaksanakan penelitian dalam rangka memberikan masukan positif kepada sekolah binaan untuk perbaikan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Kemampuan pengawas diatas tidak datang dengan sendirinya tanpa adanya kegiatan-kegiatan pelatihan khusus untuk para pengawas Kenyataan saat ini di lapangan Pengawas belum melaksanakan tugasnya sesuai dengan yang diharapkan,apalagi kalau dihubungkan dengan harapan yang tertuang dalamPermendiknas no 12 tahun 2007. Dengan keterbatasan kompetensi yang dimiliki para Pengawas saat ini,dari berbagai temuan cenderung kinerja pengawas sekolah :
1. Kurang mampu mensosialisasikan issu issu baru dalam bidang pendidikan,
2. Tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan teknologi pendidikan
3. Frekuensi kunjungan ke sekolah binaan kurang intesif.
4. Pembinaan kurang optimal.
5. Pembinaan cenderung instruktif dan kurang konsrtuktif.
6. Supervisi cenderung bersifat instruktif,
7. Guru merasa segan untuk bertanya apabila memiliki masalah.
Dari uraian diatas Para pengawas sangat mengharapkan dengan program BERMUTU melalui pemberian Dana Bantuan Langsung benar-benar terwujud dalam rangka untuk berbagai kegiatan pelatihan para pengawas dengan harapan dapat meningkatkan kompetensi dalam upaya meningkatakan kualitas berdasarkan kriteria/tolok ukur yang ditetapkan terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah yakni : Hasil belajar siswa ,Kinerja guru,Kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya, meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing bangsa.
GURU,KEPALA SEKOLAH,PENGAWAS,AYO KITA “BLOGGING”
Posted on 3 April 2009 by H.Indra
Blogging atau bahasa kerennya”ngeblog” kini menjadi aktivitas yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan ,termasuk guru.Pengekspresian diri dan pemikiran melalui tulisan seringkali menjadi salahsatu alternatif untuk menemukan kebebasan berekspresi yang diinginkan.Namun kita harus berhati-hati dalam melakukan aktivitas blogging karena bisa jadi tulisan kita dapat menjadi sumber informasi bagi criminal hacker,mata-mata,atau pencuri identitas.Tapi yang jelas;dalam blog/situs/website banyak sekali ilmu yang bermanfaat,termasuk ilmu-ilmu yang berhubungan dengan dunia pendidikan yang kita geluti.
Selamat “ngeblog”!
DIarsipkan di bawah: Pengawas Ngeblog | Ditandai: Blogging, guru, kepala sekolah, Pengawas
Pengunjung yang budiman…
Hingga saat ini perjalanan profesi pengawas dan kepengawasan sekolah masih dalam posisi termarjinalkan dari sistem pendidikan nasional. Berbagai persoalan masih menyelimuti nasib profesi yang disebut-sebut sebagai penjamin mutu pendidikan ini.
Oleh karena itu, sengaja saya menyediakan ruang ini untuk dijadikan sebagai media silaturahmi di antara sesama keluarga besar Pengawas Sekolah di Indonesia.
Saya mengajak Anda semua untuk berbagi pemikiran tentang upaya pengembangan Pengawas dan Kepengawasan Sekolah saat ini.
Tuangkan gagasan kreatif Anda!
Ekspresikan harapan Anda!
Ungkapkan kegelisahan Anda!
Tumpahkan “uneg-uneg “Anda!
Sebarkan informasi yang Anda miliki melalui forum ini!
Diskusi ini bersifat terbuka, dari Anda, oleh Anda dan untuk Anda. Saya percaya sekecil apa pun pemikiran Anda akan sangat bermanfaat bagi pengembangan Pengawas dan Kepengawasan Sekolah di Indonesia,
Semoga saja dengan adanya ruang ini dapat mengilhami dan memberikan pencerahan bagi siapa pun yang membacanya untuk memperbaiki nasib Pengawas dan Kepengawasan Sekolah di Indonesia.
Komentar (132) Lacak Balik (0) Tinggalkan komentar Lacak balik
1.
Muhamudin
10 Desember 2009 pukul 18:30 | #1
Balas | Kutip
Kepada rekan2 pengawas seluruh Indonesia, saya mendukung komentar Pak. Subiarsih Bantul….. Mengapa pengawas yang baru di Sertifikasi banyak yang tidak lolos… ?
1. Bahwa selama ini di seluruh Indinesia kaya nya belum terbiasa membuat RKA/RKM sehingga menyulitkan bg pengawas yang membuat portofolio. Hal ini di sebabkab karena Dinas Pendidikan di setiap Kabupaten dan Kota, menganggap tidak perlu laporan dari pengawas. Meskipun itu di laporkan tidak ada artinya bagi mereka.
2. Program Tahunan Pengawas di setiap Kabupaten dan kota tidal dilaksanakan dengan baik sebagai acuan menetapkan pengembangan pendidikan berikutnya. Para birokrasi menganggap laporan yang penting itu yang di minta oleh pusat saja.
3. Banyak Kepala Dionas Pendidikan Kabupaten dan Kota diangkat bukan pertimbangan teknis propesional. tapi lebih pada pertimbangan politis dan strategis memnangkan Pilkada berikutnya.
Benar Pak, Ini merupakan masalah klasik profesi kita yang mungkin terjadi dimana-mana
2.
JauhariEffedi
14 Desember 2009 pukul 11:26 | #2
Balas | Kutip
Salam buat kawula pengawas sekolah di seluruh Indonesia. Saya dapat merasakan seperti apa yang dikeluhkan Bapak Muhamudin…,saran saya:
1.Karena Permen 63 th 2009 tentang penjaminan mutu telah ada bagaimana kalau kita memback up PENJAMINAN MUTU itu.
2.Memperkuat organisasi profesi pengawas; APSI,MKPSM,BMPSM dll. janggan jadi macan ompong.
3.Untuk meningkatkan mutu pengawas sekolah diadakan ,Work Shop,Seminar,Simposium, IHT,Musyawarah, dan lain-lain. Hidup ! Bangkit !! Saudaraku Pengawas sekolah dima napun berada !! Kita dapat tantangan baru ! Walau terasa berat, mari kita jawab dengan membabat tuntas dengan mengerjakannya. Kita bisa! Dus keadilan dan kesejahteraan kita jemput.Kalau tidak ada mata anggaran untuk kegiatan program pengawas, kita biayai sendiri.Karena kepala Dinas biasanya senang begitu. Mau ?
Salam lagi, semoga saja saya dan kawan-kawan bisa memiliki semangat seperti yang Bapak sampaikan di atas. Terima kasih.
3.
indarto
23 Desember 2009 pukul 10:15 | #3
Balas | Kutip
pengawas sebenarnya adalah jabatan strategis yang amat dibutuhkan oleh sekolah sebagai penjamin mutu. selama peningkatan mutu pendidik diselnggarakan secara tersentral melalui diklat atau penataran yang diselenggarakan oleh LPMP atau Dinas Provinsi atau lembaga lain. namun faktanya hasil peningkatan mutu tersebut belum dapat meningkatkan mutu pendidikan. hal ini disebabkan guru yang telah melaksanakan diklat tidak ada sangsi atau beban jika tidak melaksanakan hasil diklat yang telah mereka laksanakan, apalagi menularkan hasilnya kepada teman guru yang lain.
alangkah baiknya jika yang di diklat adalah pengawas kemudian hasil diklat sebagai bahan pembinaan untuk sekolah dan guru binaan pengawas yang bersangkutan. dengan demikian peran pengawas sebagai penjaminan mutu betul betul dapat diberdayakan.
Barangkali yang terbaik, guru dan pengawas sama-sama di-update kemampuannya
4.
MIA
27 Desember 2009 pukul 16:41 | #4
Balas | Kutip
PENGAWAS TIDAK PERLU TERMARJINALKAN, TETAPI YANG TERPENTING ADALAH PENGAWAS BENAR2 MELAKSANAKAN TUGASNYA SEBAGAI PEMBIMBING,PEMBINA SEKOLAH DAN GURU YANG MENJADI TANGGUNGJAWABNYA. aPABILA SEKOLAH DAN GURU INGIN ANDA KEMBALI KE SEKOLAH ATAS KEINGINGINAN SEKOLAH/GURU YBS, KARENA APA YANG TELAH ANDA BERIKAN MENJADIKAN SEKOLAH LEBIH BAIK,MENJADI GURU LEBIH BAIK DALAM MELAKSANAKAN PBM DAN HASILNYA; PASTILAH ITU AKAN MEMBUAT PENGAWAS BEGITU BERMAKNA DAN BERARTI BAGI SEKOLAH. PASTI PENGAWAS TIDAK DI MARJINALKAN LAGI.
Saya pikir, untuk bisa seperti ini diperlukan dukungan sistem yang kuat, karena tidak bisa berjalan dengan sendirinya.
5.
Rosyati
4 Januari 2010 pukul 15:55 | #5
Balas | Kutip
Saya sangat berterima kasih apabila Bapak memberikan contoh laporan kepengawasan TK untuk saya jadikan acuan membuat laporan, maklum saya pengawas TK baru. tolong ya.. terima kasih.
6.
SUAIDIN
5 Januari 2010 pukul 19:43 | #6
Balas | Kutip
Saya salut dengan komentar teman teman di atas,selama ini pelatihan Pengawas yang terkait dengan TUPOKSI pengawas dirasakan di tingkat kabupaten/kota masih sangat minim. Terasa ketika Pengawas dihadapkan dengan Sertifikasi Pengawas jalur portopolio kesulitan dalam menyusun Prota/promes kepengawasan, RKA,RKM, laporan kepengawas dan sebagainya akibatnya banyak yang kopi paste dan malah meraba-raba.Olehnya itu menyambut program 100 hari mendiknas agar dalam waktu yang tidak lama semua pengawas dilibatkan dalam Diklat yang terkait dengan Tupoksi dan Kompetensi Pengawas. Satu lagi kebingungan pengawas di daerah sekarng dengan tebitnya Permen 12/2007, disusul dengan PP/74 th 2008, muncul lagi permen 39/2009.dan terakhir panduan tugas pengawas yang diterbitkan oleh Dirjen .Mana yang di pakai?. sampai saat ini masih minim malah belum pencerahan lewat diklat khusus pengaws mauppun sosialisasi.Permen 74 membagi tugas pengawas berdasarkan pendekatan jumlahguru yang di bina (pengawas matapel), dan ada pengawas satuan pendidikan berdasarkan pebdekatan jumlah sekolah yang dibina dan ada pula pengawas BK pada jenjnag satpend masing-masing, . Permen 39/2009 kembali menjadi pengawas Saatuan Pendidikan dengan pendekatan jumlah sekolah yang di bina ( 10 sekolah) secara uth melaporak Akademik dan manajerial, yang ini terasa cocok dengan kondisi sekarang karena pengawas mebina, mamantau, dan melaporkan secara utuh sekolah yang di binanya, swehingga priofil sekolah dapat di ukur. sedangkan panduan dirjen kaayaknya kembali lagi pada permen 12 dan PP 74. Jadi pewrtanyaan kami kapan dimulai permen 39 itu???.
Saya pun melihat dua payung hukum yang Bapak sebutkan di atas terkesan menjadi rancu dan membingungkan. Tampaknya kita membutuhkan payung hukum yang lebih tegas untuk dijadikan landasan kerja pengawas
7.
hulaimi
5 Januari 2010 pukul 21:55 | #7
Balas | Kutip
Komentar yang disampaikan pak Suaidin menarik untuk didalami karena tupoksi pengawas yang dikeluarkan Direkur Tendik sebagai jabaran dari Permen 39/209 tugas pengawas SMP/SMA/SMK terkait dengan Manajerial dan Akademik. Kalau pendekatan sekolah dipakai (min.10)untuk 40 sekolah cukup 4 orang pengawas tapi bidang Akademik hanya terlayani sesuai kompetensi/kualifikasi Mapel pengawas yang ada saja sedang yang lainnya tidak terlayani. Menurut hemat saya adalah pendekatannya berdasarkan guru (+/- 40 gr) karena intinya ada pada pembinaan kualitas guru berapapun jumlah sekolah yang dibina (sup. manjerial). Nampaknya pola ini masih terkait dengan pedoman penetapan angka kredit jabatan fungsional pengawas versi 1996 yang belum ada gantinya. Berjuang terus pengawas dalam memantapkan posisi dan kompetensi.Wassalam
Hingga saat ini. regulasi tentang kepengawasan tampaknya masih belum tegas, saya berharap semoga dapat segera lahir regulasi kepengawasan yang lebih jelas dan dapat memberikan kepastian kerja pengawas sekolah
8.
SUAIDIN
6 Januari 2010 pukul 20:56 | #8
Balas | Kutip
Betul Pa Suhaimi. mudahan pengawas di tanah air sudah mengkaji permen 12, pp74, permen 39, serta panduan terbaru dari dirjen thn2009. pada intinya mari kita melaksanakan tugas dengan ikhlas walau terkadang pengawas selalu terlupakan.
9.
Rosyati
8 Januari 2010 pukul 16:10 | #9
Balas | Kutip
Saya sangat berterima kasih apabila Bapak memberikan contoh laporan kepengawasan TK untuk saya jadikan acuan membuat laporan, maklum saya pengawas TK baru. tolong ya.. terima kasih.
o
Anonymous
13 Januari 2010 pukul 21:18 | #10
Balas | Kutip
nanti ya bu akan saya kirim
10.
Marzuki Malkab
10 Januari 2010 pukul 12:52 | #11
Balas | Kutip
Saya berterima kasih apabila Bapak memberikan contoh Prota dan prosem untuk dijadikan acuan, maklum saya ini Pengawas SMP baru, Tolong ya.. terima kasih.
11.
yayat rukmana
10 Januari 2010 pukul 16:07 | #12
Balas | Kutip
program pengawas diantaranya harus berorientasi pada visi, misi swekolah sehingga program juga harus dibuat per sekolah, bagaimana dengan hal tersebut? bertai kalau harus membina 10 sekolah program juga 10. Mohon penjelasan dan conto1
12.
SUAIDIN
11 Januari 2010 pukul 09:08 | #13
Balas | Kutip
Menarik sekali keluh kesah para teman pengawas di indonesia saat ini yang pada intinya “kesulitan menyusun Program Pengawas,dan Laporan Pengawas, serta pedoman kerja pengawas yang tegas yang tidak membingungkan sebagai acuan kerja pengawas di lapangan. saya mewakili teman – teman seperjuangan pengawas didaerah khususnya di daerah mengusulkan pada forum ini di muat contoh -contoh yang sudah lengkap untuk di dunlod . saya rasa ini soliusi yang sangat membatu mereka di daerah. trims salam sukses buat kawan-kawan pengawas.selamat berjuang dan berjuang demi peningkatan mutu pendidikan di indonesia.
13.
sri wahyuni
11 Januari 2010 pukul 17:15 | #14
Balas | Kutip
Saya pengawas kemarin sore. Baru diangkat bulan april 2009. Saya ikut Diklat Pengawas yang di adakan propinsi tahun 1999.
Saya membuat progam kerja semester berdasar program tahunan yang dibuat oleh teman-teman pengawas kabupaten. Program semester saya mencakup supervisi Akademik dan manajerial demikian juga laporan semester, sebisaku tanya sana, tanya sini dan mencari info net tentunya. Permasalahan yang timbul setelah membaca permendiknas nomor 39 tahun 2009, terusik pikir ini, mana yang kupilih supervisi akademik atau manajerial atau kedua-keduanya.
Saya diangkat sebagai pengawas Rumpun Mapel IPS.
Jika yang kutangani supervisi akademik saja maka bagimana supervisi manajerial dan bagaimana dengan pemantauan 8 standar. Mohon tolong sharing permasalahku.
(Saya diangkat menjadi guru sejak tahun 1980, dan ditugasi tambahan menjadi kepala sekolah mulai tahun 1994-1999)
1.
H.Indra
23 September 2009 pukul 21:27 | #1
Balas | Kutip
Hatur Nuhun kana bantosan bapak,oleh-oleh na tos katampi,tos dipasang,maklum pribados rada poekeun kana html teh.
Sukses terus buat pak Akhmad Sudrajat!
o
AKHMAD SUDRAJAT
23 September 2009 pukul 21:40 | #2
Balas | Kutip
@Pak H. Indra
Sami-sami, teras bae dikeureuyeuh ngeblog-na engke oge kapendak elmuna.
2.
Suroto
24 September 2009 pukul 17:59 | #3
Balas | Kutip
Saya kurang sependapat dengan tanggapan anda.Rekrutmen pengawas harus dari jenjang KS.Sehingga mereka itu perannya telah menguasai management KS.Sebab apa ?tampa menjalani keadminitrasian seorang akan menerapkan teori2 atau idialis yg sulit dilaksanakan dilapangan.saya sangat setuju rekrutmen dari start KS.Dengan ketentuan yg sesuai al:kwalitas,kreatitas,usia,dedekasi perlu dipertimbangkan.
3.
Suroto
24 September 2009 pukul 21:49 | #4
Balas | Kutip
Tanggapan memang oke setuju.Tapi dengan adanya aturan bahwa usia maksimal 50 thn,sudah mendapatkan sertifika banyak KS yang berminat menjadi pengawas terganjal oleh aturan itu. Bukankah seorang KS diusia 51-55 masih produktif dan ke 2 Banyak KS yang berminat ijasah memenuhi syarat,masa kerja KS sudah lebih 8 thn tapi blm terjaring sertifikasi.Hal itulah yg terjadi dilapangan.Apakah dasar usia?,apakah sertifikasi?padahal sertifikasi dalam rekrutmennya atas dasar masa kerja bukan NOTABENNYA profesionalisme.
@ Pak Suroto
Pembatasan usia mungkin dimaksudkan agar peran pengawas dapat lebih berdaya lagi, memiliki vitalitas dan energik, bukan menjadi “ajang parkir” menjelang pensiun.
4.
syarif usman
27 September 2009 pukul 15:11 | #5
Balas | Kutip
mohon petunjuk mengenai karya tulis untuk kenaikan pangkat ke IV/b bagi pengawas harus berbentuk PTS saja, bagaimana kalau makalah berdasarkan deskripsi pustaka saja.bila pa Akhmad Sudrajat mempunyai contoh artikel PTS tolong tampilkan di blog Akhmadsudrajat. Terima kasih
@ Pak syarif usman
Karya tulis saya untuk ke IV.b dalam bentuk tulisan ilmiah yang dipublikasikan dalam majalah dan jurnal pendidikan yang dikelola LPTK.
Insya Allah akan saya tampilkan PTS-nya
5.
heri
5 Oktober 2009 pukul 20:00 | #6
Balas | Kutip
mohon diberikan advis dasar2 hukum dalam pendirian MKPS ( musyawarah kerja pengawas sekolah, matursuwun
Insya Allah akan saya upayakan
o
syarif usman
15 Oktober 2009 pukul 00:30 | #7
Balas | Kutip
terima kasih sebelumnya.
6.
amirudin
12 Oktober 2009 pukul 15:45 | #8
Balas | Kutip
terima kasih, saya dapat menemukan tambahan ilmu di blog Forum Pengawas.
Sama-sama Pak , selamat bergabung di forum ini. Salam untuk rekan-rekan PS di Cirebon
7.
bambang
12 Oktober 2009 pukul 19:30 | #9
Balas | Kutip
Ya itu masalahnya Pak, pengawas sekolah sepertinya memang belum memiliki keberuntungan yang layak bahkan terkesan termarjinalkan dari sistemnya sendiri, di kampung saya malah beberapa kepala sekolah justru merasa sangat tertekan ketika di SK – kan menjadi pengawas sekolah.Seolah-olah jabatan pengawas adalah jabatan khusus yang diperuntukkan bagi orang-orang yang dianggap bersalah, atau jabatan penyelamat bagi kaum struktural. Semoga forum ini dapat memperjuangkan kesejahteraan dan citra pengawas sekolah ya Pak.
Tampaknya harus ada perbaikan kebijakan dan manajemen kepengawasan yang menyeluruh, mulai dari proses rekruitmen, pengorganisasian, pengembangan profesi hingga kesejahterannya
8.
bambang
13 Oktober 2009 pukul 22:06 | #10
Balas | Kutip
Ya benar Pak, tapi saya rasa sangat sulit karena pada kenyataannya seperti yang pernah disampaikan pak Sulistyo bahwa banyak juga para Kadisdik kita di kabupaten/kota yang sama sekali tidak kapabel di bidangnya, sehingga di kampung saya pengawas tidak pernah diberi kewengan sesuai dengan tupoksinya. Bagaimana caranya ya Pak meyakinkan Kadisdik dikampung saya agar mau mau mengerti dengan tugas pokok pengawas sekolah sehingga pengawas sekolah dapat berperan dengan baik dalam memejukan pendidikan anak bangsa negeri tercinta kita ini.
Kita membutuhkan pemimpin pendidikan yang benar-benar bisa fokus terhadap mutu pendidikan. Pengawas sekolah berusaha menjamin dan mengawal ketercapaian mutu tersebut. Jika tidak didukung oleh para pemimpin yang fokus terhadap mutu pendidikan, selama itu pula pengawas sekolah menjadi termarjinalkan.
Semoga saja dengan MENDIKNAS baru bisa lahir kebijakan yang lebih fokus pada peningkatan pendidikan sekaligus dapat memberdayakan peran pengawas sekolah
9.
syarif usman
18 Oktober 2009 pukul 16:24 | #11
Balas | Kutip
Terima kasih atas responnya dan saya masih setia menunggu contoh karya tulis ilmiahnya yang berupa PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)dan artikel-artikel lainnya, terutama artikel-artikel kepengawasan sebagai literatur, baik secara teknis maupun substansinya. Terima kasih.
10.
JauhariEffedi
16 November 2009 pukul 12:05 | #12
Balas | Kutip
Ass.para pengawas sekolah, saya lagi risau nih. bantu dong.coba direnungkan dalam STOK dinas para pengawas ada dalam lingkaran kelompok fungsional bertanggungjawab atas tugasnya penuh, memberikan laporan kepada Bupati/Wali Kota melalui Dinas pendidikannya(Permendiknas No.19/2007, tgl 23 Mei 2007 huruf j ).Lalu menurut Perbupati/walikota secara fungsional dalam formasi pengawas ada di bawah Kabid Dikmen pada Kasi Kurikulum sebagai staf. Bagaimana ini ? Inikah dampak UU No.32 ttg otonomi ? Kabid dikmen atasan langsung pengawas ?
Di tempat saya sifatnya hanya koordinasi sesuai dengan penugasan pengawas masing-masing, pertanggungjawaban tetap masih pada Kadis
11.
Syarkawi
18 November 2009 pukul 20:40 | #13
Balas | Kutip
Menurut saya kreteria pengwas haruslah dari KS sebab ada 2 yg harus dilaksanakan yaitu supervisi akademik dan manajerial serta menguasai kompetensi kepengawasan.
kemungkinan ke depannya pengawas satdik akan bersumber dari Kepsek dan pengawas Mapel dari guru. Dari manapun sumbernya, yang penting dia kapabel dan kredibel
12.
Syarkawi
19 November 2009 pukul 18:35 | #14
Balas | Kutip
Trims byk pak yang penting pada saat ini bagaimana dapt menghasilkan mutu pendidikan untuk siswa,profesional bagi guru,KS,pengawas yang berimbas pada mutu pendidikan secara utuh dan perlunya peningkatan kesejahteraan pengawas
13.
yayat rukmana
27 November 2009 pukul 13:59 | #15
Balas | Kutip
Salam Dunia Pengawas, salam idul adha. Saya tertarik dengan rekuitment pengawas, setuju pengawas dari kepala sekolah dengan mempertimbangkan komitemennya terhadap inti kegiatan di sekolah yaitu pembelajaran, bagaimana membelajarkan anak sesuai amnat undang-undang sistem pendidikan nasional. Pembelajaran harus dilaksanakan secara aktif, kreatif, inspiratip, memberi ruang yang luas untuk beraktivitas dan berkarya.
14.
yayat rukmana
27 November 2009 pukul 14:02 | #16
Balas | Kutip
Melalui forum ini saya mohon model program pengawasan baik program tahunan maupun program semester, serta laporan pengawasan masa kini. Trimakasih
15.
ETI HARYATI
7 Desember 2009 pukul 20:46 | #17
Balas | Kutip
Saya sangat berterimakasih apabila contoh PTS tentang kepengawasan manajerial bisa saya akses, maklum saya berangkat dari guru, bukan dari kepala sekolah, tolong ya pak! Terimakasih
Mohon maaf, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bentuk karya ilmiah seperti PTS atau PTK saya belum berani mempublikasikannya di blog ini.
1.
Marwan
11 Juni 2009 pukul 09:15 | #1
Balas | Kutip
Kompetensi pengawas penting di perhatikan. Pengawas dapat disebut sebagai konsultan pendidikan di lapangan, harus mempu menjadi pembina dan penyelia dibalik kendala penyelenggaraan pendidikan di masyarakat. Oleh karena itu rekrutmen pengawas harus bermutu baik tingkat kreatifitas dan ketajaman dalam mengkaji persoalan. Haruskah Rekrutmen melalui jenjang kepala sekolah? Belum ada ketentuanan yang saya temukan. Mohon dasar hukumnya? Karena jika menunggu dari KS terlanjur bermutu (BERMUka TUa)produktifitasnya menurun. Padahal dari unsur Guru yang gigih dan Kompeten terhadap TUPOKSI Kepengawasan banyak dan lebih produktif dibanding yang berangkat dari unsur KS yang sudah berkurang perhatiannya terhadap Edukasi karena terlindas menejemen BOS
o
Muhamudin
25 Desember 2009 pukul 12:51 | #2
Balas | Kutip
Pak. Marwan Yth, Heee. ketemu lagi di situs Pk. Ahmad Sudrajat….. pa kabar BERMUTU….? BERMU ka TUa…. ya…. Kita sebagai pengawas Sekolah dengan sistim yang telah diperbaharui…. mudah-mudahan kita dapat melaksanakan Tupoksi kita sebagaimana yang kita terima dalam Orientasi, Diklat dll. selamat bekerja…
2.
kosasih
18 Juni 2009 pukul 08:52 | #3
Balas | Kutip
Ass.Wr.Wb Pertama ingin diketahui dulu dimanakah posisi organisasi seorang pengawas setelah apakah ybs telah dibekali dengan materi untuk pelaksanaan tugasnya selanjutnya apakah sudah ada rincian performance indicator yang harus dipedomani dalam sistem pendidikan baik itu mutu guru/fasilitator maupun mutu penyelenggaraan pendidikannya.trims.
3.
sunarya
3 Juli 2009 pukul 08:34 | #4
Balas | Kutip
selama peraturan, kebijakan pemerimtah pusat dan daerah saling berbenturan dengan kepentingan daerah, maka nasib pengawas selalu termarjinalkan. dari hal tersebut wadah pengawas yang sudah terbentuk memperkokoh untuk memperjuangkan apa2 yang suadah adaseopimal mungkin
4.
nafilah alis
16 Juli 2009 pukul 19:49 | #5
Balas | Kutip
WAHAI PARA GURU DAN KEPALA SEKOLAH, JANGAN DULU INGIN JADI PENGAWAS DEH SEBELUM SISTEMNYA DIPERBAIKI DAHULU, AGAR TIDAK MENYESAL SEPERTI KITA-KITA, KE KANAN- KE KIRI MENTOK. SELALU TERPINGGIRKAN, LUPUT DARI PERHATIAN DAN PEMIKIRAN PARA PEMBUAT KEBIJAKAN.PARA PENGAWAS YANG NOTABENE ORANG-ORANG YANG BERPENGALAMAN DAN BERMASA KERJA CUKUP MEYAKINKAN UNTUK JADI PESERTA, IRONIS JUGA BARU SEKARANG DIBERI KESEMPATAN IKUT SERTIFIKASI. DAN… EH MALANGNYA KUOTANYA MASIH MINIM DAN TIDAK MERATA. AKHIRNYA MASIH BANYAK SEKALI YANG TIDAK TEREKRUT, DAN KEBURU PADA PENSIUN DEH. KASIHAN SEKALI MEREKA. SEMOGA TIDAK STRESS YA. BERDOA SAJA MUDAH-MUDAHAN ADA PERTOLONGAN DATANG SECEPATNYA.SETIDAK-TIDAKNYA UNTUK SEMENTARA, FORUM INI MENJADI TEMPAT CURHAT YANG TEPAT. IYA KAN ?
@ Ibu Nafilah
Kita berdoa dan berharap semoga ke depannya posisi kepengawasan semakin dapat diperhatikan oleh siapa pun yang merasa berkepentingan dengan mutu pendidikan di negeri ini.
o
Muhartati
12 Januari 2010 pukul 21:19 | #6
Balas | Kutip
Lho…lho…lho… apa iya sih sertifikasi pengawas masih tidak merata? Setahuku sertifikasi pengawas tahun 2009 lalu se Indonesia jadi satu kouta deh….lupa ato gak tahu kali ya…..Dan pengangkatan pengawas menurut Permen 12 tahun 2007 syarat utama dapat diangkat jadi pengawas salah satu persyaratannya adalah harus telah memiliki sertifikat profesi, jadi otomatis akan dapat tunjangan jika memang harus diklat
5.
rakhmat
18 Juli 2009 pukul 23:46 | #7
Balas | Kutip
tampaknya pengawas perlu sekali mendapatkan bintek tentang kepengawasan . kalaupun sudah ada yg dibintek . tapi ternyata di daerah tak ditularkan ke teman2 hususnya banjarnegara
6.
Mahfud Anwari
19 Juli 2009 pukul 10:31 | #8
Balas | Kutip
Forum pengawas ini sangat bermanfaat untuk media silih asah, sisih asuh dan silih asih, oleh karena itu hendaknya forum ini juga memuat contoh-contoh perangkat yang selama ini dibutuhkan oleh pengawas itu sendiri seperti : program tahunan kepengawasan, program semester kepengawasan, pengawasan manajerial/akademis, termasuk AD/ART MKPS, dan seterusnya, kemudian contoh itu bisa didowmloud oleh siapa saja dan diadaptasikan dengan daerahnya. Saya punya contoh-contoh itu semua namun masih sangat sederhana sekali perlu masukan dari berbagai pihak untuk menuju kesempurnaan bersana, tapi saya tidak tahu bagaimana mengirimkannya, jadi mohon prtunjuk selanjutnya ! sekian dan terima kasih.
7.
qusyairi
22 Juli 2009 pukul 08:24 | #9
Balas | Kutip
kami menanyakan data data yang diperlukan untuk Perangkat AKreditasi Dimulai dari tahun berapa
8.
suprapto
23 Juli 2009 pukul 23:14 | #10
Balas | Kutip
Saya memiliki sertifikat pengawas, apakah proses untuk menjadi pengawas memang membutuhkan waktu yang cukup panjang?
9.
hasim
3 Agustus 2009 pukul 19:18 | #11
Balas | Kutip
Pa saya jadi pengawas Pebruari 2008, sebelum jadi pengawas saya lulus portopolio 2007 dan sempat menikmatinya 1 kali pembayaran ketika jadi pengawas pembayaranya dipending. keluarlah PP No 74 th 2008, kemudian cair kembali tetapi yang sempat dipending tidak bayarkan, saya sudah menanyakan kepada yang berwenang tetapi jawaban tidak memuaskan, saya mohon kepada bapak dan teman2 atau instansi yang berwenang untuk membantunya, perjuangan untuk lulus portopolio tidak mudah dan memperjuangkan hak-hak pengawas, mungkin ada yang sama nasibnya dengan saya, terimakasih.
10.
AGUS SUKYANTO
28 Agustus 2009 pukul 18:51 | #12
Balas | Kutip
Saya seorang pengawas TK/SD yang baru. Saya sangat terbantu dengan isi blog milik Bapak. terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan. salam juga dari rekan Pengawas di Lumajang untuk Bapak.
11.
Drs,Lukman Ngara,S.Pd
30 Agustus 2009 pukul 17:01 | #13
Balas | Kutip
Sidrap 30 Agustus 2009
Rekan-rekan pengawas yang terhormat, tidak usah resah dan risau, saya yakin suatu saat keberadaan kita sangat dihargai.Kuncinya adalah mari kita berbenah dan berkarya guna meningkatkatkan potensi diri dan membenahi pendidikan didaerah kerja masing-masing.Walaupun selama ini sayA PRIBADI selalu berharap akan ada perubahan terhadap keberadaan kita, namun sampai detik ini,keberadaan saya belum diharapkan banyak orang apalagi dihargai dan dihormati dikalangan pendidikan.Hal ini saya sadari,saya belum berbuat apa-apa untuk pendidikan di daerah kerja saya.Dan Insya Allah Saya akan belajar dan berbenah diri untuk pengembangan profesi saya selaku pengawas.Maju terus pantang mundur.By Lukman Ngara,
12.
SUBIYARSIH
1 September 2009 pukul 07:32 | #14
Balas | Kutip
hasil sertifikasi pengawas sekolah di DIY belum diumumkan. Kapan ya?
13.
Risdianto Arnoldy
1 September 2009 pukul 12:18 | #15
Balas | Kutip
Untuk meningkatkan kesejahteraan pengawas kok susah banget, pake portofolio segala macem, gimana dengan yang sudah mau pensiun ?
14.
SUBIYARSIH
20 September 2009 pukul 22:36 | #16
Balas | Kutip
Sertifikasi bagi guru yang menjabat sebagai pengawas sekolah di DIY sudah diumumkan lewat Dinas Pendidikan (apapun namanya) kabupaten/kota. Hasilnya memang mengejutkan. Banyak pengawas sekolah yang tidak lolos. Beberapa sumber mengatakan, kelemahannya adalah dalam menyusun RKA dan RKM tidak sesuai yang diharapkan. Sumber lain mengatakan, kesiapan para pengawas sekolah dalam mempersiapkan usulan terlalu sempit, sehingga penyusunan perangkat usulan terlalu tergesa-gesa, hasilnya tidak maksimal.
Sertifikasi bagi pengawas tahun ini merupakan yang pertama kali, sehingga para pengawas sekolah masih kebingungan dalam menyusun perangkat usulan sesuai dengan yang dikehendaki. Ada baiknya ada evaluasi, secara transparan, mengapa para pengawas sekolah di DIY banyak yag tidak lulus? semogalah!
o
AKHMAD SUDRAJAT
21 September 2009 pukul 08:48 | #17
Balas | Kutip
@ Pak Risdianto Arnoldy dan Pak Subiyarsih,
Dengan masih banyaknya para peserta yang dinyatakan tidak lulus, terus terang saya pun mempertanyakan kembali tentang kebijakan sertifikasi melalui portofolio ini(untuk guru maupun pengawas sekolah).
Guru dan pengawas sudah demikian direpotkan menyusun portofolio, dengan biaya yang mungkin tidak sedikit, tetapi tetap saja hasilnya dinyatakan tidak lulus dan harus mengikuti pelatihan
Jika ujung-ujungnya sebagian besar harus mengikuti pelatihan, kenapa tidak langsung saja ambil kebijakan sertifikasi melalui pelatihan? Mungkin akan lebih efektif dan efisien.
15.
H.Indra
22 September 2009 pukul 12:20 | #18
Balas | Kutip
Kecubung batu dari Karawang,cantik disanding dengan berlian,Berhubung Minggu sudah lebaran,Salah dan khilaf mohon maafkan.Minal aidin walfaidin, 1 Syawal 1430 H Dari : Blog Pengawas Sekolah Indonesia
@ Pak H.Indra
Sami-sami, abdi oge neda sihapunten samudaya kalepatan
1.
Pudjianto
25 April 2009 pukul 15:01 | #1
Balas | Kutip
dengan berbagai macam forum yang ada (Forum pengawas, APSI, MKPS, Koorwas) bukan hanya sebuah wadah kosong tetapi kami berharap semoga dapat membantu para pengawas dalam meningkatkan profesionalitasnya yang selama ini fenomena dilapangan kehadiran pengawas ke sekolah terkesan menakutkan, mencari-cari kesalahan, tdk memberi solusi orientasinya hanya pada masalah administrasi belum menyentuh pada proses pembelajaran (Akademik)
2.
Elia
26 April 2009 pukul 14:52 | #2
Balas | Kutip
Tlong…
Ada yg tau gk blanko portofolio pengawas…
Klo ada yg tau,tloNg krim kn k-email saya..
dhimazpro@ yahoo.com
SblumNya trima kasih..
3.
sujono duar,S.Pd
26 April 2009 pukul 21:00 | #3
Balas | Kutip
mohon tampilkan di internet juknis potofolio untuk pengawas sekolah
4.
sujono duar,S.Pd
26 April 2009 pukul 21:04 | #4
Balas | Kutip
mohon kepada rekan2 pengawas sekolah sudi kiranya menayangkan di Internet juknis portofolio,karena kami di pedalaman kalimantan sangat sulit mendapat informasi tersebut,sedangkan bulan juni 2009 ini kami akan sgra menyusun portofolio.
Terima kasih atas bantuannya
Borneo
5.
Muh.Lawi
28 April 2009 pukul 08:24 | #5
Balas | Kutip
kami mohon kepada teman-teman pengawas hkususnya Bapak Akhmad Sudrajat dapat menayangkan melalui internet contoh format penyusunan daftar usulan kenaikan pangkat pengawas sekolah. Karena teman-teman pengawas yang jauh dari pusat kota sangat membutuhkan hal tersebut,karena kenaikan pangkat merupakan salah satu peningkatan kesejahteraan,khususnya kemi yang berdomisili di pedalaman.terima kasih
6.
Tri Basuki
28 April 2009 pukul 12:04 | #6
Balas | Kutip
mohon tampilkan contoh program tahunan,program semester, RKA, RKM untuk usulan portofolio sertifikasi pengawas
7.
sujono duar,S.Pd
2 Mei 2009 pukul 19:57 | #7
Balas | Kutip
hallo rekan2 pengawas yth,
bagaimana bisakah memuat juknis fortopolio pengawas
8.
M Mursyid PW
13 Mei 2009 pukul 01:56 | #8
Balas | Kutip
Pengawas sekolah sesungguhnya memang merupakan jabatan cukup strategis mengingat tugasnya adalah melakukan pembinaan terhadap penyelenggara pendidikan. Maka mestinya pengawas sekolah harus lebih mumpuni di banding kepala sekolah atau guru. Dengan kata lain pengawas sekolah harus memiliki track record yang baik.Saya prihatin ketika jabatan pengawas diperoleh karena kedekatannya dengan oknum penguasa daerah/orpol tertentu, bukan karena berprestasi.
o
ROHIM 060482
20 Mei 2009 pukul 20:57 | #9
Balas | Kutip
Ya.. mudah-mudahan mereka jauh untuk berpikiran seperti. dan saya yakin…
mereka adalah orang yang mengerti akan itu.
kalau pun toh ada, itu mungkin cuma ada hantaman/benturan yang bisa berbuat mereka seperti itu.
semoga mereka dan kita semua dijauhkan dari hal-hal yang sprti itu.
9.
ROHIM 060482
20 Mei 2009 pukul 20:50 | #10
Balas | Kutip
TERUSKAN!!!!! GOOD LUCK 4EVER 2U
10.
anak adam
20 Mei 2009 pukul 21:03 | #11
Balas | Kutip
saya setuju banget tuh kang………
tapi akang jangan cuma pinter ngomong ja.
11.
jauharieffendi@ymail.com
26 Mei 2009 pukul 14:17 | #12
Balas | Kutip
PENGAWAS SEKOLAH SEKARANG MAKIN KEREN TUL NGGAK ? SUDAH MAKIN MANTAP DENGAN ADANYA PP 74 TAHUN 2008 PERMENDIKNAS NO 10 2009 TUNJANGAN PROFESI NGEJRENG LHO ! TAPI CAIRNYA JANGAN NGESOT DONG ?
12.
purwidi
27 Mei 2009 pukul 10:02 | #13
Balas | Kutip
pengawas harus tunjukkan kinerjanya nanti pengakuan akan
ikut serta mengiringi.
ke sekolah dalam rangka menjalankan tugas yang amanah
13.
apsijatim
27 Mei 2009 pukul 21:36 | #14
Balas | Kutip
Pada era otonomi ini, pengawas semakin jauh ketinggalan dengan kelembagaanya, karena tidak ada koordinasi yang jelas dalam peningkatan sdm, sehingga informasi yang selalu didapatkan oleh pengawas sudah dianggap ketinggalan oleh sekolah, sebalik dinas pendidikan kab/kota belum memanfaatkan sepenuhnya tenaga pengawas, padahal pengawas adalah kepanjangan tangan dari kepala dinas, pemerintah sudah mewadahi pengawas dengan organisasi APSI, namun belum sepenuh sosialisasi APSI di daerah dapat dimanfaatkan.
o
subiyarsih
2 Juni 2009 pukul 10:12 | #15
Balas | Kutip
Tul. dimana-mana kok gitu. Ada apa ya?
Subiyarsih
08122776828
14.
SAYAN
2 Juni 2009 pukul 13:08 | #16
Balas | Kutip
PEMERINTAH TIDAK PERLU ANGKAT PENGAWAS KALAU TDK ADA JAMINAN/TUNJANGAN KHUSUS.UANG JALAN,UANG SUPERVISI,UANG SAKU,DLL YANG PENTING GENGSINYA WAJIB LEBIH TINGGI.ITU DPT MENDORONG SEMANGAT KERJA.SEJALAN DGN TUKOKSI YG JELAS DAN TEGAS.
KEP.SEKOLAH YG DIANGKAT JADI PENGAWAS HRS YANG BEROPRESTASI BUKAN KRN KELUARGA PEJABAT ATAU SAHABAT,AKIBATNYA PENGAWAS BUKAN JADI JABATAN ESENSI TP JADI JABATAN SIAL DAN MERANA KRN KATONG KERING.
PENGWS TURUN LAPANGAN HANYA BAWA TANGAN TDK BAWA OTAK KERJA ,TAS KOSONG TANPA ISI,HANYA BAWA CORONG TDK ADA AMPLINYA.PENGWS HANYA NONGKRONG DI KANTOR KRN TDK TAU APA YG DIKERJAKAN.ITULAH PGWS JAMAN MODERN……HAAAA HAAA.
PEMERINTAH HARUS SELEKTIF TENTUKAN PENGAWAS,LIHAT LO KINERJANYA KETIKA JADI KEP SEKOLAH DULU
15.
AKHMAD SUDRAJAT
2 Juni 2009 pukul 15:35 | #17
Balas | Kutip
@ PAK SAYAN
Saya pun berpandangan sama, titik awal kekacauan dunia kepengawasan adalah rekruitmen pengawas yang asal-asalan. Harus segera ada reformasi manajemen kepengawasan, jika kita menghendaki pendidikan di Indonesia dapat terjamin dan terjaga mutunya. Tapi kapan yah…………
Mendiknas pada kabinet baru banti harus lebih peduli hal ini.
1.
Om RH tea
9 April 2009 pukul 17:20 | #1
Balas | Kutip
Syukur udah bisa lebih ramping semuanya.. PF..!!
o
AKHMAD SUDRAJAT
9 April 2009 pukul 17:33 | #2
Balas | Kutip
@ Om RH tea,
thx atas sarannya, tapi apa betul cara perampingan yang dimaksud om itu seperti ini or ada cara lain? Komentar pengunjung yang panjang lebar bisa di “read more” gak?
2.
nafalis
9 April 2009 pukul 19:48 | #3
Balas | Kutip
pak Akhmad blog ini sangat bermanfaat buat para pengawas yang ingin meningkatkan wawasan keilmuannya, terutama yang berkaitan dengan tupoksinya yang akan berimbas pada peningkatana kesejahteraan mereka. Menulis terus ! terima kasih.
@ ibu nafalis
Mudah-mudahan demikian adanya, walaupun saya sendiri sebenarnya merasa memiliki keterbatasan pengatahuan untuk menulis tentang kepengawasan ini. Jika ibu memiliki gagasan-gagasan penting bisa disampaikan dalam blog ini atau kirim ke e-mail saya ditta-nourma@ telkom.net untuk saya bagikan kepada rekan-rekan pengawas lainnya melalui blog ini
3.
sukarto
9 April 2009 pukul 20:02 | #4
Balas | Kutip
Memang benar nasib pengawas sekarang spt Tempat Pembuangan Akhir bagi jabatan struktural yg enggan pensiun. Lebih parahnya lagi informasi untuk pengawas selalu saja kalah cepat dengan kepala sekolah dan guru. Kapan ada perubahan sistemnya ?
@ Pak sukarto
Jika pendidikan ingin maju melalui salah satu fungsi manajemen yakni pengawasan, kita berharap komitmen pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk menata profesi pengawas ke arah yang lebih baik. Terima kasih
4.
nafilah alis
10 April 2009 pukul 20:57 | #5
Balas | Kutip
Benar. Kata kunci buat masa depan pengawas adalah SISTEM. Sistem yang ada tidak kondusif bagi eksistensi pengawas, inklusif proses rekruitmen pengawas yang tidak selektif, tidak berbasis kependidikan, sehingga image bahwa jabatan pengawas kurang kompeten dan hanya sekadar sebagai upaya memperpanjang umur, serta istilah-istilah miring lainnya yang cukup mengganggu pendengaran dan perasaan pengawas, dengan sendirinya berkembang ke permukaan. Permasalahan ini selalu muncul dalam setiap forum pengawas ataupun di kalangan pejabat struktural, tapi hasilnya nol. Perlakuan terhadap para pengawas masih seperti itu.Di sisi lain dari pihak pengawas itu sendiri harus ada komitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas kompetensi kepengawasannya. Eh..benar ngga ya.
@ Ibu nafilah alis
Saya setuju, kita membutuhkan reformasi sistem kepengawasan, regulasi kepengawasan yang ada saat ini belum sepenuhnya mendukung untuk terciptanya kinerja pengawas secara unggul.
5.
Om RH tea
10 April 2009 pukul 21:49 | #6
Balas | Kutip
Bukannya sekarang dah berlaku begitu. Ramping daftar tulisan dan ramping semua entry comment.
Well Done.
6.
rezky oktaviyani
12 April 2009 pukul 07:37 | #7
Balas | Kutip
Apakah sudah ada contoh sistematika program tahunan pengawasan dan program semester kepengawasan dan laporan pelaksanaan kepengawasan yang sudah terisi formatnya ?
7.
heri wawasto
12 April 2009 pukul 19:41 | #8
Balas | Kutip
Ok saya setuju, kita sebagai pengawas perlu pencitraan diri, dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sebagai pengawas sekolah yang profesional walaupun ditengah-tengah kondisi yang serba tidak menentu ini.
8.
Hendra
14 April 2009 pukul 00:12 | #9
Balas | Kutip
Salam kenal, Mohon izin mau tanya pak,
Jika terjadi penyelewengan dana oleh kepala sekolah
kemana masyarakat bisa mengadu?
Apakah ada perlindungan bagi masyarakat yg mengdukan,
karena yg melakukan penyelewengan kan biasanya orang-2
yg memiliki “power”.
Sebelum dan sesudahnya terima kasih.
Salam
@Hendra
Apabila diduga terjadi penyimpangan praktik pendidikan, termasuk didalamnya dugaan kasus penyelewengan dana, di sekolah sudah tersedia komite sekolah yang bertugas mewakili aspirasi masyarakat. Dalam hal ini, komite Sekolah diharapkan dapat berembug dengan pihak sekolah untuk mengklarifikasi dan meluruskannya. Jika ditemukan bukti-bukti kuat atas dugaan penyimpangan tersebut, Komite Sekolah dapat melaporkannya kepada atasan kepala sekolah yang bersangkutan (Kepala Dinas setempat) atau mengambil langkah hukum tertentu. Gerakan melalui Komite Sekolah kemungkinan akan ebih efektif, dibandingkan dengan gerakan perorangan.
9.
Hendra
15 April 2009 pukul 00:34 | #10
Balas | Kutip
terima kasih pak, atas penjelasannya.
Saya pribadi berharap agar dunia pendidikan kita
ke depan dapat menciptakan generasi penerus yg berkwalitas, Sedikit “Sentilan” bagi para koruptor
di dunia pendidikan mudah-2an membuat mereka jera
dan perbuatan buruk mrk tidak diikuti oleh yg lain.
Amin
10.
Pudjianto
20 April 2009 pukul 08:21 | #11
Balas | Kutip
mksih pak dengan forum pengawasnya (APSI) oh ya pak awl maret aq ikut TOT (master trainer) di MILENIUM Jkt, bagi cakep dan cawas, permasalahannya sampai saat ini belum ada tugas dari TENDIK untuk tindak lanjutnya, mohon saran apa yang harus aq lakukan sbg ACTION PLAN di daerah. mkasih
@ Pudjianto
Forum ini forum personal sama sekali tidak berafiliasi ke APSI, saya menggunakan logo di atas sebagai bentuk penghormatan saya terhadap asosiasi profesi saya.
Terkait dengan follow up hasil pelatihan, mungkin Bapak bisa berkonsultasi dengan pemegang kebijakan pendidikan setempat (kadis atau kabid).
11.
Refri
20 April 2009 pukul 12:11 | #12
Balas | Kutip
Mohon bantuan bagaimana cara membuat modul untuk guru agar tugas kepengawasan saya lebih maksimal. trims,.Refri Yendri, Penilik Penjas Natuna. email : endri_raonatuna@ yahoo.co.id
12.
suci nuraeni
21 April 2009 pukul 15:29 | #13
Balas | Kutip
Mohon bantuan bagaimana cara membuat modul untuk tugas pengawas saya lebih maksimal. trims ( buat papa saya)
suci nuraeni: suci_nuraeni22@ yahoo.com
13.
Abdul Manan
23 April 2009 pukul 12:18 | #14
Balas | Kutip
Mohon bantuan instrumen kepengawasan produktif, untuk SMK
14.
khamim
24 April 2009 pukul 15:17 | #15
Balas | Kutip
Mohon informasinya,bagaimana cara mengajukan bantuan studi lanjut bagi pengawas tk/sd.Apakah Dirjen PMPTK ada program bantuan studi lanjut bagi pengawas? Terima kasih
15.
Anita
24 April 2009 pukul 15:20 | #16
Balas | Kutip
Bagaimana saya dapat mengajukan bantuan studi lanjut S2 bagi pengawas TK/SD? Mohon infonya.
Mohon jawaban kirim ke e-mail : khamim_demak@ yahoo.com. Trim’s
1.
DIAH MARTANTI
27 Maret 2009 pukul 05:29 | #1
Balas | Kutip
Terima kasih atas masukkan Bapak,saya kuliah di jurusan Bahasa Indonesia,karena saya sebelumnya adalah guru Bahasa Indonesia SMA dan sekarang pengawas mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena di tempat saya kekurangan pengawas mata pelajaran saya juga kadang-kadang mensupervisi mata pelajaran yang lain.Terima kasih atas bantuannya dan saya juga mengharapkan masukkan dari rekan-rekan pengawas.
2.
aulya
31 Maret 2009 pukul 16:39 | #2
Balas | Kutip
saya mahasiswa yan akan meneliti hubungan pembinaan yang dilakukan pengawas sekolah dengan kinerja kepala sekolah. yang saya mau tanyakan apakah terdapat hubungan diantra kedua variabel tersebut?
jika yang apa pembinaan yang dilakukan pengawas untuk meningkatkan kinerja kepala sekolah?
3.
titisuryati
1 April 2009 pukul 13:49 | #3
Balas | Kutip
pa abdi pengawas ti ambon merasa tertarik ku blog nuti bapak mugi2 tiasa dibantos supados tiasa kenging file2 nuaya hubungana sareng tugas2 simkuring punten bahasana campur aduk hatur nuhun sateuacana
4.
subarjo
1 April 2009 pukul 18:48 | #4
Balas | Kutip
Yth. Bapak Ahmad sudrajat
apakah sudah ada juknis untuk sertifikasi bagi pengawas sekolah
terima kasih atas segalanya
5.
Yayat Suhadiyat
2 April 2009 pukul 03:37 | #5
Balas | Kutip
Wilujeng tepang, Pa Akhmad…….
Jujur, Hampir 1 tahun saya coba mengamati dan mempelajari tentang masalah ke-pengawas-an dari posting dan tulisan-tulisan pada blog-blog bapak. Dan sungguh saya sangat terbantu. Awalnya saya sungguh sangat begitu dilematis, pada saat saya harus memilih jenjang karier ini. Karena terus terang, saya menyadari menjadi pengawas adalah bukan pilihan yang mudah. Pengawas itu mempunyai beban dan tanggung jawab yang sangat besar ; dalam peran dan fungsinya untuk menunjang tercapainya keberhasilan pendidikan.
Tapi alhamdulillah, bapak adalah inspirator dan motivator saya.
Terima kasih, Pa.
Teu aya pamundut sareng kahoyong nu dipiharep kanggo danget ieu, mung iwal ti bimbingan sareng wejangan bapa.
Diantos…
6.
AKHMAD SUDRAJAT
2 April 2009 pukul 07:18 | #6
Balas | Kutip
@ Pak Yayat
Wilujeng bergabung sareng dunia kepengawasan, mudah-mudahan ku hadirna pa Yayat tiasa ngarobih wajah kepengawasan di Kuningan, khususna dina bidang IT-na.
Mangga urang sareng-sareng wae ngawangun pendidikan nasional, khususna di Kuningan
o
Yayat Suhadiyat
2 April 2009 pukul 10:12 | #7
Balas | Kutip
Hatur Nuhun, Pa….
Ulah hilap, wejangan sareng bimbinganna diantos pisan………
7.
sri wahyuni
2 April 2009 pukul 20:26 | #8
Balas | Kutip
Ya lho pak ….
untuk ini profesi pengawas dianggap persiapan masa pesiun
8.
H.Indra Kusumah
3 April 2009 pukul 06:49 | #9
Balas | Kutip
Assalamualaikum,
Selamat Pagi,kang.Dalam rangka meramaikan dunia blog,dan khususnya ingin menimba dan berbagi banyak ilmu,dan punya harapan serta keinginan untuk memajukan dunia kepengawasan,Alhamdulillah saya sudah meluncurkan blog dialamat ini:http://pengawas20.wordpress.com. Mohon dukungan dan bimbingan ti kang Ajat khususnya ,umumnya dari rekan-rekan pengawas.
Hatur Nuhun.
o
AKHMAD SUDRAJAT
3 April 2009 pukul 07:37 | #10
Balas | Kutip
@ Pak H.Indra Kusumah
Wilujeng sareng ngiring bingah.
Kanggo kapayuna mah mangga urang sami-sami belajar
9.
HERI S. WALUYO
4 April 2009 pukul 19:08 | #11
Balas | Kutip
Salam dari Makassar untuk rekan-rekan Pengawas
10.
SLAMET MZ
5 April 2009 pukul 09:35 | #12
Balas | Kutip
Assalamu’alaikum
Pak Ahmat Yth.
Akhir-akhir ini dunia kepengawasan mulai ribut dan sibuk mempersiapkan akan adanya sertifikasi bagi pengawas sekolah.
Apakah sudah ada juknis / juklak sertifikasi bagi para pengawas ini ? jika sudah ada mohon kirnaya dapat ditampilkan dalam block ini
terima kasih saya haturkan atas kesediaan bapak.
Wassalam
o
AKHMAD SUDRAJAT
5 April 2009 pukul 19:53 | #13
Balas | Kutip
@ Pak SLAMET MZ
Yang saya punya Buku 8 Pedoman Penyusunan Portofolio
Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Sebetulnya saya ingin menampilkan Buku tersebut dalam blog ini, tapi kesulitan untuk menulisnya, karena terlalu banyak yang harus saya tulis hingga 36 halaman. Mungkin Bapak bisa mendapatkannya di dinas setempat
HERI S. WALUYO
7 April 2009 pukul 10:58 | #14
Balas | Kutip
Pak Slamet yg sy cari akhirnya datang, kalau ada softcopynya buku 8 mhn di kirim via e-mail sy : hwaluyo99@ yahoo.co.id
salam dari makassar
11.
IRWAN KALTIM
5 April 2009 pukul 20:10 | #15
Balas | Kutip
Ass..
Pa sy guru bk di kaltim ( berau ) sy mau tanya gimana cara penyelesaian tes AUM, terus gimana cara sy bisa menjadi anggota ABKIN.
12.
AKHMAD SUDRAJAT
5 April 2009 pukul 20:26 | #16
Balas | Kutip
@ IRWAN KALTIM,
Analisis data bisa dilakukan secara manual, tapi agak jlimet.
Jika ingin lebih praktis bisa dilakukan menggunakan bantuan komputer, tetapi Bapak harus beli software-nya. Informasi lebih lanjut, kunjungi situs Konseling Indonesia
13.
HERI S. WALUYO
7 April 2009 pukul 11:02 | #17
Balas | Kutip
P Akhmad kalau ada softcopynya buku 8 mohon diemail sy :
hwaluyo99@ yahoo.co.id
Salam sukses
14.
titisuryati
9 April 2009 pukul 11:22 | #18
Balas | Kutip
Ass wr wb. Pa kunaon kintunan abdi henteu diwaleran?
@titisuryati
Hapunten, abdi bingung kedah ngawaler naon, margi perkawis file mah kantun ibu telusuri bae mana nu diperyogikeuna.
Nuhun, pomi ulah pundung mangga diantos kasumpinganna deui
15.
nafalis
9 April 2009 pukul 16:32 | #19
Balas | Kutip
Alhamdulillah peluang bagi pengawas sekolah untuk mengikuti program sertifikasi telah datang. Tapi juknis dan juklaknya belum turun ya. Tolong kirim bagi yang telah memiliki gambaran, kirim2 lah, bagi2 sesama teman pengawas. Thank’s atas perhatiannya.
o
AKHMAD SUDRAJAT
9 April 2009 pukul 16:59 | #20
Balas | Kutip
@ Ibu Nafalis
Untuk persiapan ibu bisa merujuk pada buku 8 tentang Pedoman Penyusunan Portofolio guru
1.
Muhamudin, S.Pd.
25 Januari 2009 pukul 16:53 | #1
Balas | Kutip
Rekan2 se Profesi, kita menyambut baik dan genbira dengan tekat baik Mendiknas beserta jajarannya untuk mengakomodasi pengawas Sekolah ikut di sertifikasi sebagaimana guru sebagaimana amanah PP NO 78 Th 2008. Dengan demikian Pengawas Sekolah tentunya merasakan diperhatikan dan dihargai sebagaimana mestinya. Sebagimana mana Celoteh seorang guru atau Kepala Sekolah Bahwa Pengawas itu dari guru yang sudah malas mengajar dan dimerginalkan sudah berangsur-angsur di lirik oleh guru-guru atau Kepala Sekolah. Tidakkah Pengawas sekolah itu diangkat oleh karena prestasi yang mereka lakukan bertahun-tahun saat menjadi Guru atawa Kepala Sekolah. Berbagai macam opini tentang keberadaan pengawas Sekolah yang belum bekerja sebagaimana Tupoksinya secara profesional. Selama ini celoteh dan laporan Pengawas Sekolah tidak diperhatikan atau di proses oleh pihak Birokrasi, sehingga dianggap Pengawas itu tidak berarti apa-apa bagaikan ” MACAN OMPONG”. Tupoksi Pengawas belum berjalan sebagaimana mestinya hal ini terjadi karena pihak Pemerintah Daerah belum mengerti Pungsinya. Padahal suatu lembaga yang besar apabila fungsi kontrol tidak berjalan dengan baik, tentunya pihak yang berkompeten akan mendapat laporan ABS ( Asal Bapak Senang). Sebagai Insan Pendidk kita tidak bosan-bosannya memberi masukan kepada pihak atasan dan membina guru2 dan Kepala Sekolah hingga kwalitas Pendidikan dapat di tingkatkan.
Sudah banyak anggaran, sudah banyak aturan yang mendorong kinerja pengelola pendidikan. Namin belum berhasil denga maksimal. Memang membangun pendidikan yang berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Muhamudin, S.Pd. Pengawas SD Kec. Pelepat Ilir, Kab. Bungo, Jambi. 081274842056
o
JD.Manurung/Pengawas Diknas Kota Bandar Lampung
14 Maret 2009 pukul 11:20 | #2
Balas | Kutip
Keberadaan Pengawas memang belum mendapat perhatian dari Pemerintah maupun Pemda, apalagi dengan otonomi sekarang. Bupati/Walikota menganggap Pengawas hanyalah sebagai pelengkap, tak pernah diberdayakan. Namun menurut saya, ini suatu tantangan yang harus kita hadapi. Pengawas sendiri juga harus menunjukkan kinerja dan dapat menunjukkan bahwa inilah kami, ini tugas saya, ini permasalahan di lapangan, dst. Kita jangan hanya menuntut, tapi mari kita tunjukkan prestasi kita, dan kemampuan kita. Nah, baru kita menuntut peran dan perhatian dari Pemerintah. Saya masih melihat hanyalah kita dalam batas mengeluh, tapi belum banyah berbuat. Mari kita berbuat, Ok terima kasih Tuhan memberkati, amin.
AKHMAD SUDRAJAT
14 Maret 2009 pukul 12:03 | #3
Balas | Kutip
@ Bapak JD Manurung,
Dalam kehidupan organisasi, jika segala sesuatunya dipulangkan pada diri masing-masing (perilaku individu), saya kira tidak perlu ada manajemen. Disinilah pentingnya manajemen guna mengatur perilaku setiap individu untuk diselaraskan dengan tuntutan organisasi.
Harapan saya adalah adanya penataan dan perbaikan manajemen kepengawasan agar pengawas dapat menjalankan perannya secara optimal (perilaku organisasi).
Begitulah pandangan saya, terima kasih, ditunggu kehadiran dan diskusi berikutnya
2.
akmal
4 Februari 2009 pukul 11:30 | #4
Balas | Kutip
Apakah fungsi pengawasan terhadap sekolah sudah berada pada treknya ?
o
AKHMAD SUDRAJAT
8 Maret 2009 pukul 23:33 | #5
Balas | Kutip
@ Pak Kamal
Harapan saya, semoga ke depannya bisa on the right track, seiring dengan upaya sertifiksasi pengawas sekolah
3.
jazim
8 Februari 2009 pukul 12:06 | #6
Balas | Kutip
Di Yogyakarta dalam perjalanannya Pengawas (pendidikan Agama) pernah ada kesan hanya untuk menambah usia pensiun dengan menempatkan orang yang hampir pensiun ! Juga dari Teman-teman jajaran Depag (NIP 15), sementara ada info rekan-rekan NTB NIP 13 juga menjadi Pengawas Agama karena dari guru agama ! Mohon info apakah ada perbedaan aturan tiap daerah ??
4.
Yeyet
14 Februari 2009 pukul 19:04 | #7
Balas | Kutip
Peran pengawas sebenarnya sangat strategis untuk peningkatan mutu pendidikan. Pengawas sebagai pembina, pemonitor dan mengevaluasi kinerja sekolah sangatlah berarti bagi peningkatan mutu pendidikan. Namun kadang-kadang pengawas seolah-olah tidak diakui keberadaannya, karena tidak jarang jika ada informasi yang berkaitan dengan sekolah pengawas tidak dilibatkan biasanya langsung berhubungan dengan sekolah. Padahal jika pihak sekolah tidak paham biasanya pengawa yang jadi tumpuan pertanyaan mereka. Belum lagi jabatan pengawas ini masih dianggap jabatan pelarian. Karena masih ada pejabat yang tidak terangkat lagi dari jabatan strukturalnya mau lari ke pengawas, padahal pejabat itu sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Seolah-olah jabatan pengawas itu gampang dan tidak perlu kompetensi, seperti apa yang dikatakan Bp.Jazim ada yang hanya memperpanjang usia pensiun. Jika ini dibiarkan berlarut-larut, fungsi kepengawasan tidak akan berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Padahal sudah jelas standar pengawas itu seperti apa yang tertera pada isi Permendiknas no. 12 tahun 2007.
o
A Kaluge
15 Maret 2009 pukul 18:31 | #8
Balas | Kutip
jangan khawatir pengawas yang akan datang pastilah lebih baik jika mau agar mutu pendidikan di Indonesia miningkat.
Yeyet Daryati
21 Maret 2009 pukul 07:55 | #9
Balas | Kutip
Alhamdulillah ada juga temanku yang menanggapi.Makasih Pa Anton, mari kita sama-sama berjuang demi pendidikan kita, mari bangkitkan tekad kita apapun tanggapan orang tentang pengawas yang penting kia slalu berusaha yang terbaik untuk pendidikan, mudah-mudahan perjuangan kita ga sia-sia. Hidup Pengawas Sekolah! !!!
AKHMAD SUDRAJAT
21 Maret 2009 pukul 09:37 | #10
Balas | Kutip
@ Bu Yeyet Daryati
Mari sama-sama kita bekerja dan berjuang untuk pendidikan! Mohon maaf respons saya agak telat, saya tunggu interaksi ibu berikutnya.
Yeyet Daryati
23 Maret 2009 pukul 22:57 | #11
Balas | Kutip
Makasih Pak Akhmad, saya maklum, saya dah diberi kesempatan tuk bicara di sini aja dah bersukur sekali, karena saya jadi serasa punya teman tuk berbagi. Sukses selalu tuk Pak Akhmad. Hatur nuhun …
5.
Dra. Hj. Amiroh
17 Februari 2009 pukul 12:01 | #12
Balas | Kutip
Kenalkan saya Pengawas TK/SD Kecamatan rajabasa Bandar Lampung. Saya sedikit memiliki pengalaman yang barangkali ada gunanya bagi kita semua, bila pengelola blog ini berkenan saya tidak berkeberatan bila tulisan ini dimuat setelah diedit terlebih dahulu.
Sebelum saya jadi pengawas saya telah mendapatkan sertifikasisebagai guru dan setiap bulannya saya mendapat tunjangan. Setelah saya diolantik jadi pengawas tiba tiba saya dipanggil oleh Kabid TK/SD dan diberitahu bahwa tunjangan jabatan akan distop dan saya diperintahkan untuk mengembalikan tunjasngan jabaratan yang terlanjur saya terima.
Sewmentara saya bertahan tidak mau mengembalikan walaupun ada dibicarakan bahwa pihak Dinas tidak segan segan untuk memperkarakan bila pengembalian uang honor tidak dikembalikan.
Sungguh mengejutkan tiba tiba tunjangan saya dibayarkan kembali.
Atasnama pengawas saya ucapkan terima kasih. masih ada orang yang peduli nasib pengawas
6.
Sutono
20 Februari 2009 pukul 12:38 | #13
Balas | Kutip
Selamat berjuang bagi pengawas.
Selamat menunggu sertifikasi pengawas.
Selamat bertugas demi kemajuan sekolah binaannya.
Selamat mengencangkan ikat pinggang dikala belum menerima insentif sertifikasi pengawas.
Semoga amal bhaktimu diterima dengan baik olehNya, amin.
7.
subiyarsih
26 Februari 2009 pukul 16:34 | #14
Balas | Kutip
Dinas Pendidikan (atau apa saja namanya, yang mengurusi pendidikan) memiliki pembantu yang terdiri dari dua pejabat. Yakni Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional. Pejabat struktural sudah kelihatan dengan sebutan “kepala” sementara pejabat fungsional seperti guru, pengawas dll tidak memiliki sebutan “kepala” Keduanya merupakan sistem yang dipakai di kabupaten/kota seluruh Indonesia
Tapi tenaga fungsional yang disebut pengawas, memang tak begitu populer, meskipun memiliki tugas sebagai “pengawal” Standar NasionalPendidikan. Bahkan di Bantul Yogyakarta ada Pengawas sekolah yang berasal dari guru yang bersertifikasi beralih ke pejabat struktural dengan kedudukan di bawah Kepala UPT (kalau tak salah eselon IVb)
Persoalannya adalah, tidak adanya kesamaan konsep di tingkat nasional tentang kepengawasan sekolah dengan kabupaten/kota yang memiliki hak otonom dalam mengelola daerahnya. Ada baiknya perlu ada kesamaan. semogalah!
o
subiyarsih
19 Maret 2009 pukul 16:36 | #15
Balas | Kutip
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sekolah dasar, merupakan ketentuan nilai minimal yang harus dicapai setiap peserta ujian sekolah dasar, agar dapat dinyatakan lulus.
Dalam menentukan SKL, mestinya melalui proses analisa. Misal dengan memperhatikan kompleksitas soal, daya dukung dan intake (siswa). Masih ada anggapan, sekolah yang baik adalah sekolah yang lulus 100%, bukan kemampuan capaian kompetensi minimal yang diharapkan.
Akhirnya yang dipakai adalah nilai terendah dalam latihan UAS yang dipakai untuk menentukan SKL. Sebagai contoh, ada 20 peserta ujian, satu diantaranya memiliki nilai rendah, sementara 19 anak memiliki kemampuan layak, maka satu orang akan mengalahkan sembilan belas anak yang memiliki nilai layak.
Marilah kita renungkan mana yang lebih tepat, SKL berdasar analisa yang memuat daya kompleksitas soal, daya dukung dan intake, atau nilai yang paling rendah di sekolah tersebut. Subiyarsih@ gmail.com 08122776828
8.
Anonymous
5 Maret 2009 pukul 23:12 | #16
Balas | Kutip
mohon bantuan contoh prosem pengawas yang benar
o
AKHMAD SUDRAJAT
18 Maret 2009 pukul 11:39 | #17
Balas | Kutip
@ Tanpa Nama
Meski tanpa nama, saya melihat komentar yang disampaikan beliau sangat berarti. Saya yakin persoalan yang bapak hadapi, dijumpai pula oleh rekan-rekan yang lainnya. Bagi rekan-rekan yang memiliki informasi tentang program pengawasan atau informasi penting lainnya dan ingin berbagi dengan yang lainnya. Bisa kirim ke e-mail saya: ditta-nourma@telkom.net.
Akan saya simpan dalam blog ini untuk dinikmati bersama
9.
ekaputri
6 Maret 2009 pukul 19:27 | #18
Balas | Kutip
PENGAWAS… namanya terkesan “menyeramkan”. Tentunya yang di’Awasi’ akan berdandan disaat ada pengawas kalo perlu diservis untuk mendapat ‘kesan’ baik walaupun sekolah dengan manajemen ‘abal-abalan’ Saya khawatir penilaian pengawas lebih didasarkan pd ‘lampiran’nya. Pilihannya adalah harus ada kejujuran terhadap kompetensi pengawas. Pemerintah lewat Sertifikasi harus benar2 mampu menjaring PENGAWAS yang sesuai dengan Kompetensinya. Maaf…!
o
AKHMAD SUDRAJAT
7 Maret 2009 pukul 07:32 | #19
Balas | Kutip
@ Bu ekaputri
Terima kasih atas urun pikirnya.
10.
sugeng sugiyanto
8 Maret 2009 pukul 22:07 | #20
Balas | Kutip
Salam hormat dan salam kenal, saya pengawas SMK dari Grobogan, ditempat kami ada 2 SMK Negeri dan 15 SMK swasta, sedang diupayakan 1 SMK negeri lagi, pengalaman supervisi terhadap para guru diterima dengan baik, bahkan banyak guru yang menyampaikan permasalahan dan persoalan yang dihadapi di sekolah terutama honor yang masih kecil/ dibawah UMR, adanya sertifikasi menjadikan motivasi tersendiri, namun Quota untuk guru non PNS SMK masih sedikit gilirannya jadi panjang dan lama, saya ya hanya menyarankan untuk bersabar. Saya berharap sertifikasi Pengawas dapat terlaksana tahun ini, yang penting juknisnya/ prosedurnya saya setuju dengan pendapat Bp. Akhmad Sudradjat, tidak melalui Portofolio tapi Diklat dan tes untuk memperoleh sertifikasi, Bravo Pengawas. MAju terus Forum Pengawas !!!
o
AKHMAD SUDRAJAT
8 Maret 2009 pukul 23:29 | #21
Balas | Kutip
@ Pak Sugeng
Saya merasa gembira atas akseptabilitas Bapak dihadapkan rekan-rekan guru. Tetapi di daerah lain mungkin berbeda suasananya.
Terkait dengan kesempatan atau kuota sertifikasi bagi rekan-rekan guru non PNS tampaknya juga dirasakan di daerah lainnya.
Terima kasih jika Bapak memiliki persepsi yang sama dengan saya tentang sertfikasi pengawas berbasis pelatihan.
Ditunggu kedatangan dan partisipasi Bapak berikutnya.
11.
H.Indra Kusumah
14 Maret 2009 pukul 15:17 | #22
Balas | Kutip
Assalamualaikum pak Akhmad,Saya Pengawas SMP di Kab.Karawang,
Saya sering membaca blog bapak ini,terutama artikel-artikel yang menyangkut masalah dunia kepengawasan.Awalnya saya pikir hanya di kab.Karawang lah posisi pengawas yang merasa termajinalkan,tapi ternyata teman-teman di daerah lain pun “sarua”nasibnya.Saya amat berharap dengan lahirnya APSI dapat mengangkat derajat dan martabat pengawas di negeri ini,apalagi kalau mendengar janji pak menteri yang disamapaikan pak dirjen PMPTK setahun yang lalu (yang akan menjadikan profesi pengawas sebagai jabatan yang diperebutkan) itu sebagai awal yang baik yang harus kita apresiasi,dan ternyata teman pengawas yang belum ikut sertifikasi guru sudah mulai menyusun portofolio bulan ini.
Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan,saya sangat menghargai ada nya forum ini,mudah2an dedikasi bapak ini dapat berbuah kebaikan untuk bapak dan semua pengawas di Indonesia,Viva Pengawas!
Punten,dupi bapak teh Dosen atanapi Pengawas ?
Hatur Nuhun.
o
AKHMAD SUDRAJAT
14 Maret 2009 pukul 17:48 | #23
Balas | Kutip
@ Pak H.Indra Kusumah
Upami resmina mah Pengawas Sekolah bidang keahlian Bimbingan dan Konseling di Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan. Kumargi Pengawas Sekolah mah seueur waktos, abdi sok masihan kuliah di FKIP-UNIKU. Malihan kenging 5 tahun (1987-1992) kantos ngawulang di SMA Negeri Cikarang. Ngalih ka Kuningan nuju kepala sekolahna Pak Karnusi ti Karawang tea.
Nuhun tos ngarojong di ieu patempatan sareng salam ka rerencangan di Karawang.
12.
A Kaluge
15 Maret 2009 pukul 18:26 | #24
Balas | Kutip
pengawas sekolah memang perlu kalau fungsi tugasnya dijalankan dengan baik, bahkan sangat perlu jika diprogramkan dan hasil kerjanya dianalisis secara menyeluruh di lingkup sekolah untuk menyusun program kepengawasan yang akan datang.
ayo!! pengawas cobalah bersatu dalam Apsi maupun KKPS dan biarlah pemerintah melihat bahwa ada hal baru dari pengawas sebagai masukan bagi program pemerintah di bidang pendidikan pada masa mendatang.
sebetulnya pengawas sudah banyak bekerja tetapi pada umumnya pengawas menunggu kalau ada apresiate dari laporan yang dibuat pasti akan jauh lebih menarik. itu akan terjadi jika pemerintah dalam hal ini pemangku kepentingan merasa berkepentingan.
trus apa sih lebihnya pengawas sekolah mungkin kepala sekolah lebih tahu masalah sekolahnya ketimbang pengawas sekolah, hanya memang kepala sekolah lebih mengetahui sekolahnay sendiri, pengawas lebih tahu satu wilayah penengawasannya tidak kurang dari 15 sekolah. Mereka memang banyak tahu dan mau dikasi tahu begitu ditanya. supaya kesannya pengawas tidak so’ tahu. dan kalau tahunya banyak tidak berarti semuanya lantas harus ditanggapi oleh pihak pemangku kepentingan. tentu tidak. semoga pengawas masih terus diperhitungkan dalam meningkatkan mutu pendidikan.
o
AKHMAD SUDRAJAT
15 Maret 2009 pukul 20:06 | #25
Balas | Kutip
@ Pak A Kaluge
Harapan Bapak tentang optimalisasi peran pengawas tampaknya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya yakini selama ini.
Saya pun masih tetap menyimpan harapan dan optimisme yang besar bagi prospek karier pengawas sekolah ke depannya, terlebih dengan adanya program sertifikasi pengawas sekolah. Bukan hanya sekedar tunjangannya, tetapi lebih penting adalah pengembalian wibawa dan martabat profesi.
Terima kasih sudah hadir di tempat saya, dan terima kasih pula atas interaksi Bapak di beberapa tulisan yang lainnya.
Saya sangat menantikan kehadiran dan komentar kritis berikutnya.
13.
ali sutarja
17 Maret 2009 pukul 22:08 | #26
Balas | Kutip
Bapak Ahmad Sudrajat yang terhormat, saya termasuk anggota pengawas yang masih sangat baru, saya baru saja diangkat bulan september tahun lalu, untuk itu saya sangat memerlukan informasi, tentang seputar tugas-tugas pengawas dan lain-lain yang berkaitan dengan pengawas. kepada bapak atau siapapun sudilah kiranya mengirimkannya ke alamat saya alistj123@gmail.com atas bantuannya saya ucapkan terima kasih
o
AKHMAD SUDRAJAT
18 Maret 2009 pukul 11:35 | #27
Balas | Kutip
@Pak ali sutarja,
Informasi tentang kepengawasan bisa Bapak gali dari manapun, sebagian dalam blog ini juga ada.
Selamat bergabung dengan dunia kepengawasan dan semoga sukses dalam menjalani tugas-tugas kepengawasan di tempat Bapak!
14.
SRIYANTO
22 Maret 2009 pukul 20:57 | #28
Balas | Kutip
Yth. Bapak Ahmad Sudrajat
dengan akan diberlakukannya sertifikasi bagi pengawas sekolah, apakah penyusunan porto Folio nantinya sama dengan portofolio bagi guru dan kepala sekolah, apabila berbeda sudilah kiranya Bapak memberikan penjelasan / informasi. sehingga kami bisa mempersiapkan lebih dini apa saja yang perlu kami persiapkan.
terima kasih atas segalanya.
@ BAPAK SRIYANTO
Informasi selengkapnya mungkin Bapak bisa tanyakan ke dinas pendidikan setempat Buku 8 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan terbitan Dirjen Dikti.
15.
DIAH MARTANTI
26 Maret 2009 pukul 07:36 | #29
Balas | Kutip
Bapak Ahmad Sudrajat yang terhormat,saya senang sekali dengan adanya forum pengawas ini,saya bisa tahu tentang kepengawasan karena saya baru diangkat jadi pengawas,sekarang saya sedang menempuh tugas belajar S2,karena pengawas SMA kan harus S2,saya pengen sekali membuat tesis tentang kepengawasan,bisakah Bapak membantu saya memberikan beberapa alternatif judul tesis tsb,terima kasih atas bantuannya.Bapak bisa jawab disini atau di e-mail diahmartanti@ yahoo.com
o
AKHMAD SUDRAJAT
26 Maret 2009 pukul 08:25 | #30
Balas | Kutip
@BU DIAH MARTANTI
Ibu tidak menyebutkan studi konsentrasi yang sedang ibu tempuh, karena thesis seyogyanya memiliki relevansi dengan studi konsentrasi.
Kalaupun ibu tertarik meneliti tentang kepengawasam, saya kira banyak aspek dan lingkup kepengawasan yang bisa dteliti, baik aspek personal ataupun manajemen-organisasionalnya.
Langganan:
Postingan (Atom)